Rabu, 08 September 2021
Allāh Telah Memberikan Kehendak Dan Kemampuan Untuk Manusia (Bagian Ketiga)
TINGKAT KEILMUAN AR-RAMLI DAN IBNU HAJAR MENURUT AL-BAJURI
Senin, 06 September 2021
Empat Tingkatan Memahami Takdir ~ Tingkatan Yang Keempat
WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
▪🗓 JUM’AT
| 25 Muharram 1443 H
| 03 September 2021 M
🎙 Oleh: Ustadz DR. Abdullah Roy M.A. حفظه الله تعالى
📕 Rukun Iman Keenam - Beriman Kepada Takdir Allāh
🔈 Audio ke-187
📖 Empat Tingkatan Memahami Takdir ~ Tingkatan Yang Keempat
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحاب ومن ولاه
Anggota grup WhatsApp Dirosah Islamiyah yang semoga dimuliakan oleh Allāh. Kita lanjutkan pembahasan kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh fadhilatul syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.
Masih kita pada pembahasan Beriman Kepada Takdir. Beliau menyebutkan tentang,
المرتبة الرابعة
Tingkatan yang keempat, yang terakhir yaitu الخلق (penciptaan)
Jadi setelah ilmu, kemudian tulisan, kemudian Allāh menghendaki, yang terakhir (tingkatan yang terakhir) adalah penciptaan
فنؤمن، بأن الله تعالى: خَلِقُ كُلِّ شَئءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئءٍ وَكِيلٌ ¤ لـهُ مَقَالِيدُ السَّمَوَتِ وَاَلْأَرْضِ
Kita beriman bahwasanya Allāh, Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu. Firman Allāh (كُلِّ شَئءٍ) segala sesuatu mencakup ketaatan dan juga kemaksiatan. Segala sesuatu yang ada di langit maupun yang ada di bumi. (إلا الله) segala sesuatu yang di langit (إلا الله) kecuali Allāh, baik berupa kursi (arsy), benda-benda angkasa, malaikat-malaikat yang tinggal di sana. Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla (Dia-lah) yang menciptakan segala sesuatu.
Dan juga apa yang ada di bumi. Allāh menciptakan dzat mereka dan juga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan amalan-amalan mereka, Allāh kehendaki dan Allāh berkehendak untuk menciptakan dzat mereka dan juga menciptakan amalan-amalan mereka.
الله خَلِقُ كُلِّ شَئءٍ
“Dia-lah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menciptakan segala sesuatu.”
Termasuk di antaranya adalah kemaksiatan. Dan nanti In syaa Allāh akan disebutkan bahwasanya tidak semua yang Allāh kehendaki itu berarti dicintai oleh Allāh. Tidak semua yang Allāh ciptakan berarti itu dicintai oleh Allāh aza wa jalla. In syaa Allāh akan disebutkan pada pembahasan yang khusus.
Yang jelas di sini kita berusaha untuk memahami empat tingkatan takdir. Tidak akan sempurna keimanan seorang hamba terhadap takdir Allāh sampai dia mewujudkan empat perkara ini.
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئءٍ وَكِيلٌ
Dan Dia-lah yang Maha Menolong atas segala sesuatu. Dia adalah wakil kita. Dia adalah tempat kita memohon pertolongan
لـهُ مَقَالِيدُ السَّمَوَتِ وَاَلْأَرْضِ
“Allāh Subhānahu wa Ta’āla (Dia-lah) memiliki perbendaharaan langit dan juga bumi.”
Sekali lagi penciptaan di sini masuk di dalamnya adalah penciptaan terhadap amal perbuatan yang kita lakukan, bukan hanya sekedar dzat kita saja yang merupakan ciptaan Allāh, bahkan pekerjaan kita. Seperti misalnya di sini menggerakkan tangan, mengucapkan sesuatu maka ini juga ciptaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Di dalam sebuah ayat, Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.” [QS As-Saffat: 96]
Kalian sendiri itu (dzatnya) Allāh-lah yang menciptakan, dan apa yang kalian kerjakan dan apa yang kalian amalkan itu juga adalah ciptaan Allāh aza wa jalla.
Dan di dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan,
إنَّ اللهَ خالق كُلّ صانِعٍ وصَنعَته
Sesungguhnya Allāh Dia-lah yang menciptakan setiap yang صانِعٍ (setiap orang yang melakukan).
وصَنعَته
Dan Dia-lah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menciptakan pekerjaan.
Berarti baik dzatnya maupun sifatnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang telah menciptakan itu semuanya. Kemudian beliau mengatakan,
وهذه المراتب الأربع شا ملة لما يكون من الله تعالى نفسه، ولمايكون من العباد،
Dan empat tingkatan takdir ini meliputi apa yang berasal dari Allāh dan apa yang berasal dari para hamba-hamba Nya.
Apa maksudnya?
فكل مايقوم به العباد من أقوال أوأفعال أوتروك فهي معلومة لله تعالى مكتوبة عنده والله تعالى قد شاءهاوخلقها:
Maksudnya bagaimana? Maka setiap apa yang dilakukan oleh seorang hamba, baik berupa ucapan maupun perbuatan, atau dia meninggalkan karena terkadang amalan seorang hamba itu melakukan baik mengucapkan maupun dengan amal perbuatannya, dan terkadang amalan tersebut berupa meninggalkan, ini berkaitan dengan seorang hamba.
Maka apa yang berkaitan dengan hamba tadi berupa ucapan, perbuatan, dan juga peninggalannya dia,
فهي معلومة لله تعالى
Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla Maha Mengetahui
مكتوبة
Dan apa yang dilakukan oleh hamba tadi, tertulis di sisi Allāh, dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah yang menghendaki, dan Dia-lah yang menciptakan.
Jadi empat tingkatan takdir, kita bisa praktekkan di dalam diri seorang hamba, karena seluruh ucapan dia, perbuatan dia:
1. Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengetahuinya,
2. Allāh menulisnya di dalam lauhul mahfudz,
3. Allāh menghendaki terjadinya apa yang sudah ditulis tadi kemudian,
4. Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewujudkan, kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan ini pada diri seorang hamba
لِمَن شَاۤءَ مِنكُمۡ أَن یَسۡتَقِیمَ ٢٨ وَمَا تَشَاۤءُونَ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ ٢٩ [التكوير ٢٨-٢٩]
Bagi orang atau bagi siapa yang menghendaki di antara kalian untuk istiqomah dan tidaklah kalian menghendaki kecuali apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla (رَبُّ الْعَالَمِينَ) menghendakinya.
Ini menunjukkan bahwasanya perbuatan kita adalah kehendak Allāh
لِمَن شَاۤءَ مِنكُمۡ أَن یَسۡتَقِیمَ
“Untuk siapa di antara kalian yang ingin istiqomah.”
Kemudian juga firman Allāh,
وَلَوۡ شَاۤءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُوا۟ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ یَفۡعَلُ مَا یُرِیدُ [البقرة ٢٥٣]
“Dan kalau Allāh menghendaki niscaya mereka tidak akan berperang satu dengan yang lain.: [QS Al-Baqarah: 253]
Menunjukkan bahwasannya (ٱقۡتتلوا۟) mereka, saling berperangnya mereka dan ini adalah amalan, ini adalah dengan kehendak Allāh.
Jadi amalan istiqomah tadi, demikian pula peperangan di antara manusia dan ini adalah mencakup itu semua masuk di dalam (أفعال العباد) ini, semuanya masuk dalam perbuatan seorang hamba, ini juga di bawah kehendak Allāh Subhānahu wa Ta’āla
وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah yang melakukan apa yang Dia inginkan.”
Dan dalam firman Allāh yang lain,
وَلَوۡ شَاۤءَ ٱللَّهُ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا یَفۡتَرُونَ [الأنعام ١٣٧]
“Seandainya Allāh menghendaki niscaya mereka tidak akan melakukan.”
Menunjukkan bahwasanya apa yang mereka lakukan ini adalah dengan kehendak Allāh
فَذَرۡهُمۡ وَمَا یَفۡتَرُونَ [الأنعام -١٣٧]
“Dan tinggalkanlah maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka berdusta atasnya.”
Ini menunjukkan tentang masyi'atullah terhadap apa yang berkaitan dengan perilaku hamba-hamba Nya.
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ [الصافات -٩٦]
“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”
Jadi termasuk (أفعال العباد) pekerjaan-pekerjaan hamba ini adalah
Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menghendaki dan kemudian
Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah yang menciptakan kalian dan
• Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Dia-lah yang telah menciptakan apa yang kalian kerjakan.
Beliau membawakan ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan kepada kita bahwasanya apa yang kita kerjakan, perilaku kita ini adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menciptakan.
Demikian pula perilaku kita ini, Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah yang menghendaki. Peperangan, apa yang kita kerjakan, ta'at yang kita lakukan, kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia maka itu adalah dengan kehendak Allāh.
Dan sekali lagi in syaa Allāh akan ada pembahasan tentang masalah iradah syar'iyyah, iradah kauniyah. Dan bahwasanya iradah kauniyah ini tidak mengharuskan apa yang dikendaki oleh Allāh tadi dicintai oleh Allāh aza wa jalla.
In syaa Allāh akan ada pembahasan tersendiri. Dan apakah dengan seseorang beriman dengan takdir, kemudian dituntut dianjurkan dia untuk berleha-leha tidak mengambil sebab dan seterusnya.
In sya Allāh akan kita lanjutkan pembahasan ini, pada kesempatan yang akan datang. Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan.
وبالله التوفيق و الهداية
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•
Kamis, 02 September 2021
KORAN BAHASA ARAB - Edisi 3️⃣3️⃣3️⃣
📜 KORAN BAHASA ARAB - Edisi 3️⃣3️⃣3️⃣📜
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
📚 المُفْرَدَاتُ الحَدِيْثِيّةُ
Hadith Vocabulary
مَشَى- مَشْيًا
Walk
الْجُمَلُ البَسِيْطَةُ
Simple Sentences
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا
And his foot with which he walks.
Dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.
(Seperti di Hadits Arba'in An-Nawawi No.38)
Empat Tingkatan Memahami Takdir ~ Tingkatan Yang Ketiga
WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
▪🗓 KAMIS
| 24 Muharram 1443 H
| 02 September 2021 M
🎙 Oleh: Ustadz DR. Abdullah Roy M.A. حفظه الله تعالى
📕 Rukun Iman Keenam - Beriman Kepada Takdir Allāh
🔈 Audio ke-186
📖 Empat Tingkatan Memahami Takdir ~ Tingkatan Yang Ketiga
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحاب ومن ولاه
Anggota grup WhatsApp Dirosah Islamiyah yang semoga dimuliakan oleh Allāh. Kita lanjutkan pembahasan kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh fadhilatul syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.
Masih kita pada pembahasan Beriman Kepada Takdir.
Syaikh melanjutkan, tingkatan yang ketiga di antara empat tingkatan takdir adalah Al-Masyi'ah (المشيئة).
Beliau mengatakan:
المرتية الثالثة: المشيئة
Tingkatan yang ketiga adalah Al-Masyi'ah atau kehendak (المشيئة) ini harus kita imani. Beriman dengan ilmu Allāh sebelum takdir tadi, beriman bahwasanya seluruh apa yang terjadi ini adalah ditulis oleh Allāh, musibah, kenikmatan, dan juga yang lain.
Kemudian yang ketiga meyakini bahwasanya apa yang terjadi di permukaan bumi ini dan di alam semesta ini secara umum, maka itu adalah dengan masyi'atullah. Tidak mungkin terlepas dari masyi'atullah.
Makanya syaikh di sini mengatakan:
فنؤمن بأن الله تعالى قد شاء كل ما في السموات و الأرض،
“Maka kita beriman bahwasanya Allāh ta'ala, Dia-lah yang menghendaki segala sesuatu yang ada di langit maupun yang ada di bumi.”
Antum melihat ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, ke atas, ke bawah, segala sesuatu yang antum lihat maka itu adalah dengan kehendak Allāh.
Cahaya, bergeraknya sesuatu, diamnya sesuatu, ketaatan orang yang taat, kemaksiatan orang yang berbuat maksiat. Maka itu semua adalah dengan masyi'atullah, ini harus kita imani. Seorang Ahlus Sunnah (seorang muslim) maka dia harus beriman dengan masyi'ah ini.
لَا يكون شيء إلا بمشيئه
“Tidak terjadi sesuatu kecuali dengan masyi'ah Allāh.”
Tidak mungkin terjadi sesuatu sekecil apapun keluar dari masyi'atullah. Sampai debu yang tidak kita lihat, dan dia terbang di depan kita, terbangnya dia di depan kita dan di mana dia jatuh, maka itu adalah dengan masyi'atullah.
Apakah cuma satu debu saja? Semuanya, semuanya adalah dengan masyi'atullah. Subhanallah. Demikian qudratullah Azza wa Jalla, demikian qudratullah yang maha mampu untuk melakukan segala sesuatu.
Kemudian beliau mengatakan:
ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن
Apa yang Allāh kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Allāh kehendaki maka tidak akan terjadi.
Allāh apabila menghendaki sesuatu terjadi.
إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
"Sesungguhnya urusan Allāh, apabila menginginkan sesuatu, tinggal Allāh mengatakan كُن jadilah, maka فَيَكُونُ terjadilah sesuatu yang diinginkan oleh Allāh tersebut." [QS Yasin: 82]
Inilah yang dimaksud dengan masyi'ah.
Kemudian:
وما لم يشأ لم يكن
“Dan apa yang Allāh tidak kehendaki, maka tidak akan terjadi.”
Allāh menghendaki untuk memberikan musibah kepada seseorang, terjadi. Allāh berkehendak untuk memberikan kenikmatan kepada seseorang, terjadi, meskipun manusia tidak menghendakinya.
Kalau Allāh menghendaki untuk memberikan kepada kita kenikmatan, maka akan sampai kenikmatan tersebut kepada kita, meskipun manusia berusaha untuk menghalanginya. Masyi'atullah lebih tinggi dan lebih besar daripada masyi'ah mereka.
Sebaliknya apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak menghendaki untuk memberikan rezeki kepada seseorang atau memberikan sebuah rezeki kepada seseorang, maka tidak mungkin orang tersebut mendapatkan rezeki tadi.
Meskipun dia mempunyai keinginan yang luar biasa mendapatkan rezeki itu. Tapi kalau Allāh tidak menghendaki yang demikian, maka mustahil orang tersebut mendapatkan.
Kita memiliki masyi'ah dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki masyi'ah, cuma masyi'atullah itu lebih tinggi dan dialah yang mengalahkan masyi'ah manusia.
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
"Dan tidaklah kalian berkendak, kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Rabbul alamin Dia-lah yang menghendaki." [QS AT-Takwir: 29]
Jadi kehendak yang ada di dalam diri kita Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah yang menciptakan kehendak tersebut. Dan masyi’atullah, dialah yang lebih berkuasa, yang lebih tinggi, yang lebih besar. Kehendak kita kalau berbeda dengan kehendak Allāh, maka kehendak kita itulah yang akan kalah.
Di dalam sebuah syairnya, al-imam Asy-Syafī'i rahimahullah (Muhammad bin Idris rahimahullah) beliau mengatakan:
ما شِئْتَ كَانَ وَإنْ لَمْ أَشَأْ وَمَا شِئْتُ إِن لَّمْ تَشأْ لَمْ يَكُنْ
"Ya Allāh, apa yang engkau takdirkan, apa yang engkau kehendaki, pasti akan terjadi (apa yang engkau kehendaki pasti akan terjadi).
وَإنْ لَمْ أَشَأْ
“Meskipun aku tidak menghendakinya.”
Kita tidak menghendaki adanya musibah, tapi kalau Allāh berkehendak untuk menurunkan musibah bagi seseorang terjadi.
ما شِئْتَ كَانَ وَإنْ لَمْ أَشَأْ
“Apa yang engkau kehendaki ya Allāh, pasti terjadi meskipun aku tidak menghendakinya.”
وَمَا شِئْتُ إِن لَّمْ تَشأْ لَمْ يَكُنْ
Dan apa yang aku kehendaki, ya Allāh, apa yang aku inginkan ya Allāh, إِن لَّمْ تَش apabila engkau tidak menghendakinya, maka لَمْ يَكُنْ kehendak tersebut tidak akan terjadi. Keinginan kita tersebut tidak akan terjadi.
Ini ucapan yang sangat indah yang diucapkan oleh al-Imam Asy-Syafi'i Muhammad bin Idris rahimahullah. Keyakinan beliau tentang masyi’atullah. Dan ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, berdasarkan dalil-dalil yang banyak.
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُوا۟
"Seandainya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghendaki, niscaya mereka tidak akan saling berperang satu dengan yang lain." [QS Al-Baqarah: 253]
Ini menunjukkan tentang masyi’atullah. Demikian pula firman Allāh Azza wa Jalla di dalam ayat-ayat yang banyak, tentang penyebutan masyi’atullah. Di antaranya adalah firman Allāh Azza wa Jalla:
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَـٰرِهِمْ ۚ
"Kalau Allāh menghendaki niscaya Allāh akan menghilangkan pendengaran dan juga penglihatan mereka." [QS Al-Baqarah: 20]
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشْرَكُوا۟ ۗ
"Dan seandainya Allāh menghendaki, niscaya mereka tidak menyekutukan Allāh." [QS Al-An’am: 107]
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا فَعَلُوه
"Seandainya Allāh menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukan yang demikian." [QS Al-An'am: 137]
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُم أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ
"Kalau Allāh menghendaki, niscaya Allāh akan menjadikan kalian adalah umat yang satu." [QS Al-Maidah: 48]
Demikian seterusnya. Menunjukkan kepada kita tentang masyi'atullah dan bahwasanya segala sesuatu yang terjadi di permukaan bumi ini adalah dengan kehendak Allāh.
Baik, In sya Allāh akan kita lanjutkan pembahasan ini, pada kesempatan yang akan datang. Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan.
وبالله التوفيق و الهداية
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•
Rabu, 01 September 2021
KORAN BAHASA ARAB - Edisi 3️⃣3️⃣2️⃣
📜 KORAN BAHASA ARAB - Edisi 3️⃣3️⃣2️⃣📜
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
📚 المُفْرَدَاتُ الحَدِيْثِيّةُ
Hadith Vocabulary
بَطَشَ-بَطْشاً
Strike
الْجُمَلُ البَسِيْطَةُ
Simple Sentences
وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا
And his hand with which he strikes.
Dan tangannya yang ia gunakan untuk berbuat.
(Seperti di Hadits Arba'in An-Nawawi No.38)