Tampilkan postingan dengan label fiqih nikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiqih nikah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Desember 2021

Hukum Pernikahan (Bagian Kedua)

 🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 KAMIS
 | 04 Jumadil Awwal 1443H
 | 09 Desember 2021M

🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati

🔈 Audio ke-14
📖 Hukum Pernikahan (Bagian Kedua)
~•~•~•~•~

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد

Kalau kita kembali kepada referensi-referensi fiqih, kita akan dapatkan kontroversi, perselisihan pendapat, persilangan pendapat di kalangan para ulama.

Ada yang menyatakan bahwa pernikahan itu hukumnya mubah, karena substansi dari pernikahan itu hanyalah melampiaskan nafsu, bagaikan makan, bagaikan minum, bagaikan tidur. Sebagaimana makan dan minum itu mubah, sebagaimana tidur itu mubah, demikian pula pernikahan.

Karena inti dari semua itu hanyalah melampiaskan nafsu, melampiaskan hasrat, sebagaimana Anda berhasrat untuk makan, Anda juga berhasrat untuk berhubung badan. Sebagaimana makan dan minum itu mubah, maka berhubungan badan melalui prosesi pernikahan itu juga mubah. Demikian logika sebagian ulama.

Sebagian ulama lagi mengatakan tidak, pernikahan itu sunnah bagi semua orang, baik pemuda tua yang sudah menikah ataupun yang belum menikah, semuanya sunnah.

Kenapa? Karena dengan jelas Nabi menyatakan bahwa pernikahan itu adalah sunnah, itu adalah tuntunan Nabi. Maka berarti menikah itu sunnah hukumnya.

Sebagian lagi berkata tidak demikian, pernikahan itu bahkan hukumnya wajib. Kenapa demikian? Karena, kalau Anda tidak menikah maka sangat dimungkinkan Anda terjerumus dalam perzinaan, karena melawan kebutuhan biologis itu sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia.

Sebagaimana Anda tidak akan pernah kuasa melawan kantuk, Anda pasti tidur. Anda juga tidak akan kuasa melawan rasa lapar dan dahaga, cepat atau lambat kalau Anda paksakan tidak makan dan tidak minum Anda akan binasa.

Kalau Anda ingin tetap bertahan hidup, Anda harus makan dan minum, sebagaimana halnya dengan kebutuhan biologis Anda yang satu ini yaitu kebutuhan akan melampiaskan nafsu birahi Anda.

Anda tidak akan kuasa menahannya terus menerus. Mungkin sesaat mungkin dalam satu kondisi Anda mampu, tapi untuk seterusnya tidak. Anda cepat atau lambat akan terkalahkan dan akan terjerumus dalam perbuatan dosa.

Dengan kata lain untuk Anda bisa terhindar dari perbuatan zina, untuk Anda bisa terhindar dari perbuatan maksiat melampiaskan nafsu birahi dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, dengan cara-cara yang menyimpang dari aturan syariat. Tidak ada cara lain kecuali dengan cara menikah, karena Allah Subhānahu wa Ta'āla telah berfirman:

وَٱلَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَـٰفِظُونَ ۞ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ

Dan orang-orang yang senatiasa menjaga kemaluan mereka, kecuali dari istri-istri mereka atau pun budak-budak (hamba sahaya) yang mereka miliki. Tatkala mereka melampiaskan nafsunya kepada istri atau pun kepada budak (hamba sahayanya) maka mereka tidaklah tercela." [QS Al-Mukminun: 5-6]

Alias ketika Anda melampiaskannya dengan cara-cara lain, tidak dengan cara menikah, tidak dengan cara melampiaskan kepada budak (hamba sahaya) Anda, sudah bisa dipastikan Anda akan terjerumus dalam perbuatan dosa yaitu zina.
 أعاذنا الله وإياكم

Dan karena perbuatan zina tidak mungkin bisa dihindari kecuali dengan cara menikah maka sebagian ulama menyimpulkan, berarti pernikahan itu wajib hukumnya. Kenapa demikian? Karena:

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب و ما لَا يتم ترك الحرم الا به و هو واجب

Meninggalkan zina itu hukumnya wajib, dan untuk bisa meninggalkan zina, tidak mungkin bisa Anda lakukan secara continue (terus menerus) kecuali dengan cara menikah, dengan cara melampiaskan nafsu birahi Anda dengan menikah.

Maka berarti kesimpulannya menikah itu hukumnya wajib, sebagaimana melakukan zina itu haram, dan untuk meninggalkan yang haram ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan cara menikah. Berarti menikah adalah sarana yang paling efektif atau sarana yang efektif untuk bisa membendung diri Anda dari perbuatan zina. Maka hukumnya wajib.

Namun demikian tentu kalau kita renungkan dengan baik, kita analisa kembali berbagai pendapat di atas, berbagai dalil yang mereka utarakan niscaya dalil-dalil yang mereka utarakan tersebut sejatinya tidak saling beradu, tidak saling bertentangan bahkan saling melengkapi.

Karenanya sebagian ulama sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah dan yang lainnya, menyimpulkan bahwa seharusnya yang kita lakukan bukan memperadukan dalil-dalil ini, tetapi mengkombinasikannya, menyinkronkan semua dalil ini untuk bisa kita lakukan, untuk bisa kita kompromikan sehingga menghasilkan satu kesimpulan hukum yang lebih akurat.

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf kepada Anda, di manapun Anda berada.

Dan sebagai penutup,
 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك.
Sampai jumpa di lain kesempatan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Rabu, 22 Desember 2021

Hukum Pernikahan (Bagian Pertama)

 🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 RABU
 | 03 Jumadil Awwal 1443H
 | 08 Desember 2021M

🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati

🔈 Audio ke-13
📖 Hukum Pernikahan (Bagian Pertama)
~•~•~•~•~

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد

Alhamdulillah kembali saya hadir ke tengah ruang siar Anda untuk bersama-sama,
  فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ الله
Guna mewujudkan mimpi kita semua yaitu, "Baiti Jannati (Rumahku adalah Surgaku)".

Rumahku adalah Surga duniaku sebelum aku kelak dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala masuk ke dalam Surga di akhirat.

Berbicara tentang pernikahan, satu pertanyaan yang sepatutnya Anda jawab dan kita jawab bersama, sebelum kita melangkah lebih jauh dengan menikah dan membangun rumah tangga.

Apa hukumnya menikah bagi diri saya?

Mungkin Anda telah mendengar, mungkin Anda telah mempelajari tentang hukum pernikahan secara umum dan Anda juga mungkin sering mendengar dan menghadiri langsung prosesi-prosesi pernikahan, walimah-walimahan yang di sana disampaikan ceramah-ceramah umum, mauizhah-mauizhah, ataupun  nasihat-nasihat.

Dan tentunya sebagaimana itu yang saya alami, ketika kita menikah, atau kita menghadiri acara-acara semacam itu, seringkali terbetik dalam diri kita ingin menikah tetapi di saat yang sama pertanyaan lain segera datang dan berkata: "Apakah hukumnya menikah bagi saya, wajibkah, sunnahkah, mubahkah atau bahkan bisa jadi haram?".

Karena tentu pernikahan itu bukanlah satu ritual, satu aktifitas yang suka-suka Anda lakukan, karena pernikahan itu adalah menjalankan tuntunan syari'at. Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam suatu hari, ketika mendapatkan satu fenomena unik di sebagian sahabatnya di mana sebagian pemuda.

Sekali lagi sebagian pemuda dari sahabat beliau bertekad untuk tidak menikah dengan alasan bahwa menikah itu akan menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allāh, sedangkan kita diciptakan di dunia ini, kita hadir di dunia ini dalam rangka menegakkan 'ubudiyyah kepada Allāh.

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menegakkan ibadah kepada-Ku." (kata Allah) [QS Adh-Dhariyat: 56]  

Sebagian pemuda tersebut berpikir bahwa menikah itu akan menyita banyak tenaga, waktu, pikiran sehingga konsentrasi kita beribadah kepada Allāh akan tersita. Maka dia bertekad untuk tidak menikah, apapun risikonya.

Dia sadar bahwa dia butuh, dia punya nafsu, punya syahwat, namun dia bertekad untuk mengendalikan bahkan mengalahkan nafsu tersebut agar dia bisa maksimal beribadah kepada Allah. Itu cara pandang beliau.

Tapi Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, beliau diutus dengan دِيْن الْحَنِيفِيَّةُ agama yang moderat, agama yang tengah-tengah, tidak ekstrem kanan ataupun ekstrem kiri.

Mengetahui gejala yang tidak sehat ini, beliau segera mencari pemuda tersebut dan berusaha meluruskan cara pandangnya. Bahwa pernikahan itu tidak sepatutnya diperadukan dengan ibadah kepada Allah.  

Kenapa? Karena pernikahan bagian dari perintah Allah, pernikahan bagian dari syariat Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam yang bila kita lakukan dengan benar itu akan menjadi ibadah tersendiri, bukan hanya shalat, puasa, haji atau berdzikir tapi menikahpun menjadi ibadah.

Beliau berkata kepada pemuda tersebut:

أَنْت الَّذِي قُلْت كَذَا وَكَذَا

"Engkaukah yang berkata demikian dan demikian?"

Ingin mengoptimalkan waktunya untuk beribadah puasa di siang hari dan shalat di malam hari.

Pemuda tersebut pun mengakuinya dan kemudian Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam meluruskan cara pandang pemuda tersebut, bahwa semangat beribadah tidak sepatutnya mengabaikan pernikahan, karena pernikahan adalah bagian dari ibadah.

Beliau mengatakan:

وَالَّذِي نَفْسِي بيَدِهِ

"Sungguh demi Allah, yang jiwaku ada di dalam genggaman-Nya."

 إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ ووَأَتْقَاكُمْ لَهُ

"Sungguh aku adalah orang yang paling khasyah, paling takut dan paling bertakwa kepada Allah dibandingkan kalian semua, walau demikian kesempurnaan takwa, kesempurnaan khasyah yang aku miliki tidak menjadikan aku terhalangi dari makan dan minum, tidur, dan juga dari menikahi wanita."

Kemudian Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam menyatakan:

 فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

"Inilah tuntunanku, inilah ajaranku, inilah syariatku."

Sehingga siapapun yang berusaha memperadukan antara ibadah kepada Allah dengan menikah, dengan memenuhi hak biologis dirinya maka itu, فَلَيْسَ مِنِّيْ.

Kata Nabi: Dia tidaklah termasuk dari umatku, dia tidak sedang menjalankan tuntunanku.

Karenanya wajar dan juga seharusnya Anda senantiasa berkata dan bertanya kepada diri Anda agar Anda tidak salah langkah.

Apakah hukum pernikahan bagi saya?
Apakah mubah, sunnah, atau bahkan bisa jadi wajib?

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf kepada Anda, di manapun Anda berada dan sebagai penutup.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك

Sampai jumpa di lain kesempatan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Kamis, 16 Desember 2021

Tujuan & Manfaat Pernikahan (Bagian Ketiga)

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _SELASA_
 | _02 Jumadil Awwal 1443H_
 | _07 Desember 2021M_

🎙 *Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى*
📗 *Fiqih Nikah / Baiti Jannati*

🔈 *Audio ke-12*
📖 *Tujuan & Manfaat Pernikahan (Bagian Ketiga)*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه أمام بعد

Kaum muslimin anggota grup Dirosah Islamiyah yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhanahu wa Ta'ala.

Di antara tujuan kita menikah selain menikah itu adalah sebuah ibadah, pernikahan adalah mengantarkan Anda untuk mengakui tentang keEsaan Allāh. 

Sehingga seperti Allāh gambarkan:

وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا

Di antara tanda keagungan Allāh, adalah Allāh menciptakan dari diri kalian pasangan-pasangan kalian لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا - agar kalian mendapatkan kedamaian, ketika kalian kembali kepada istri-istri kalian atau kepada pasangan kalian.

Di antara tujuan kita menikah, tujuan menikah salah satunya adalah Anda melangsungkan, menjadi bagian dari tongkat estafet kepemimpinan di muka bumi ini. 

Allāh telah menciptakan manusia sebagai khalifah. 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ

"Dan ingatlah tatkala Rabb-Mu berkata kepada para malaikat, Aku akan menciptakan khalifah/pemimpin di muka bumi ini." [QS Al-Baqarah: 30]

Dan Allāh dalam ayat lain, Allāh juga dengan tegas mengatakan: 

وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ 

"Allāh menginginkan memerintahkan kalian agar memakmurkan bumi ini." [QS Hud: 61]

Sehingga terjadinya proses lahir melahirkan, lahir melahirkan, pernikahan kemudian terjadi proses kelahiran, itu adalah bagian dari rencana Allāh, itu bagian dari perintah Allāh agar dunia ini terus makmur dengan ibadah kepada Allāh Subhanahu wa Ta'ala.

Andai dunia ini tidak dimakmurkan, tidak diramaikan dengan ibadah maka dunia ini tidak ada artinya dihadapan Allāh. 

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا

Kata Nabi: "Dunia ini terkutuk, jauh dari kasih sayang Allāh jauh dari rahmat Allāh Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana penghuninya, semua jauh dari kasih sayang Allāh."

إِلاَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا

Kecuali segala sesuatu yang itu adalah dzikir kepada Allāh atau hal yang mendukung terlaksananya dzikir ibadah kepada Allāh Subhanahu wa Ta'ala.

Dan pernikahan itu menjadi salah satu ketentuan alam yang telah Allāh tentukan agar di dunia ini terus tercipta, terlahir hamba-hamba Allāh yang akan mengikrarkan, beribadah kepada Allāh menegakkan dzikir kepada Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Karena itu Nabi berpesan kepada umatnya:

 تََزَوَجُوْا الوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ يوم القيامة 

Nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang penyayang (الوَدُوْدَ), subur (الْوَلُوْدَ). Karena aku nanti dihadapan Allāh akan saling membandingkan (berbanding-bandingan) umat dengan para nabi.

Apa fungsinya? Kenapa banyaknya umat dijadikan sebagai sebuah perbandingan (kebanggaan)? Kenapa Nabi sampai mengharapkan, sangat mengharap agar umat beliau menjadi umat yang terbesar? 

Karena beliau mendapat tugas dari Allāh Subhanahu wa Ta'ala sebagai seorang Rasul, sebagai seorang Nabi untuk mengajak manusia mengikrarkan, melantunkan ibadah, mengikrarkan tauhid, ibadah kepada Allāh Subhanahu wa Ta’ala yang itu merupakan fungsi dari diciptakannya manusia.

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ

"Serulah manusia untuk berbondong-bondong menuju jalan Allāh dengan cara-cara yang bijak." [QS An-Nahl: 125]

Sehingga dengan pernikahan terlahirnya anak keturunan, berarti kita telah mensukseskan misi menjadikan dunia ini makmur dengan ibadah kepada Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara tujuan pernikahan yang ini menjadi poin terakhir yang saya sampaikan pada kesempatan ini, bahwa pernikahan itu adalah suatu benteng yang kokoh, suatu bata yang harus kita susun untuk menciptakan masyarakat yang muslim dan muslimah.

Kalau rumah tangga itu harmonis maka seluruh masyarakat pun akan segera harmonis, tapi ketika rumah tangga itu rusak, satu rumah tangga rusak, satu rumah tangga lagi rusak, maka tatanan masyarakat itu akan rusak semuanya.

Untuk itu kita harus sadar bahwa baiknya masyarakat majunya suatu negeri, jayanya suatu negeri diawali dari rumah tangga. Bagaimana Anda mendidik anak keturunan Anda. Bagaimana Anda tolong menolong membangun generasi masa depan.

Anda, ketika Anda menikah bukan lagi saatnya untuk berpikir, "Saya mencari kepuasan seksual, mencari kepuasan ini dan itu", Tidak! 

Tetapi Anda harus berorientasi ke depan dari rumah tangga inilah akan terlahir pemimpin-pemimpin di masa depan. Dari keluarga ini akan terlahir orang-orang shalih yang akan memimpin dunia ini, memakmurkan dunia ini dengan ibadah kepada Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu Nabi dulu berpesan kepada kaum suami (calon-calon suami), beliau mengatakan:

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ

"Kalau kalian ingin menikah, menyalurkan nafsu, pilihlah di mana engkau akan meletakkan benihmu itu, jangan sembarangan engkau menikah yang penting cantik jelita.

تُنْكَحُ المرأَةُ لِأَرْبَعٍ

Wanita itu dinikahi karena empat alasan (biasanya empat alasan). Karena kecantikan, harta, jabatan (kedudukan), dan karena agama.

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ

Kata Nabi, "Pilihlah wanita yang beragama."

تَرِبَتْ يَدَاكَ

Niscaya engkau akan beruntung.

Karena dari wanita yang shalihah akan terlahir generasi-generasi yang shalih dan shalihah, sebaliknya demikian pula jangan nikahkan anak Anda dengan orang yang kaya, tampan tapi tidak mempunyai agama. 

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ 

Kalau datang kepadamu lelaki yang agamanya engkau ridhai, agamanya baik,

وَخُلُقَهُ
Akhlaknya baik, 
فأَنكِحُوا - 
Nikahkan dia, terima lamarannya karena dari merekalah akan terlahir generasi-generasi yang shalih.

Karenanya saudaraku seiman dan seaqidah, di manapun Anda berada.

Generasi masa depan pemimpin masa depan terletak pada rumah tangga. Masa depan negara kita sangat bergantung kepada kesuksesan kita membangun rumah tangga. 

Karena itu jangan lihat rumah tangga itu hanya kesenangan sesaat tetapi itu adalah kesuksesan masa depan, masa depan negara kita, masa depan bangsa kita, masa depan masyarakat kita, sangat bergantung bagaimana kita menikah, bagaimana kita mengarungi bahtera rumah tangga ini.

Sebagai penutup, saya berpesan tujuan-tujuan yang mulia tersebut tidak akan bisa terwujud hanya berbekalkan dengan modal kekuatan kita kehebatan ilmu kita, keluasan pengalaman kita. Tidak! 

Semua itu hanya bisa terlaksana dengan pertolongan dan karunia Allāh Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu senantiasa lantunkanlah doa kepada Allāh, agar Allāh membenahi rumah tangga kita, membenahi anak keturunan kita.

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

Para Nabi saja berdoa: 

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

"Yaa Allāh, berikanlah aku keturunan yang shalih." [QS As-Saffat: 100]

Para Nabi juga berdoa: 

وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ

"Benahilah anak keturunanku." [QS Al-Ahqaf: 15]

Dan masih banyak lagi doa-doa yang dicontohkan oleh para ulama, para orang-orang shalih dan para Nabi tentunya, bagaimana kita terus bersandar kepada Allāh, memohon kepada Allāh agar rumah tangga kita betul-betul menjadi baitiy jannatiy (بيتي جنتي).

Wallahu Ta'ala A'lam. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Rabu, 15 Desember 2021

Tujuan & Manfaat Pernikahan (Bagian Kedua)

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _SENIN_
 | _01 Jumadil Awwal 1443H_
 | _06 Desember 2021M_

🎙 *Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى*
📗 *Fiqih Nikah / Baiti Jannati*

🔈 *Audio ke-11*
📖 *Tujuan & Manfaat Pernikahan (Bagian Kedua)*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه أمام بعد

Kaum muslimin anggota grup Dirosah Islamiyah yang semoga senantiasa dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta'ala.

Di antara tujuan kita menikah bukan karena kita hiperseks, gila, haus, nafsu. Tidak! Selain ibadah, selain betul dalam pernikahan itu melampiaskan nafsu, tetapi ingat dalam pernikahan konsep tolong-menolong itu nyata. 

Suami menolong, melindungi, melayani, membimbing, menyantuni. Istripun demikian. Melayani, membantu, mendukung, mengabdi, kemudian berbakti kepada suami. Subhanallah. 

Sehingga terciptalah tolong-menolong luar biasa, kesetiaan yang luar biasa. Karena Allāh telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sosial, tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, pasti butuh kepada kehadiran orang lain. Siapapun kita. 

Sehingga suami harus berpikir bahwa dia menjadi suami bukan untuk mengeksploitasi. Tapi dia melayani, menyantuni, melindungi, membimbing maka itu dalam Al-Qur'an Allāh katakan,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ
[QS An-Nisa: 34]

Lelaki suami itu pemimpin yang bertugas, قَوَّٰم (meluruskan, membimbing) istrinya. 

Kemudian dalam Al-Qur'an Allāh juga katakan,

وَلَهُنَّ مِثْلُ ٱلَّذِى عَلَيْهِنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

“Kaum wanita itu punya hak yang harus engkau tunaikan wahai kaum lelaki, wahai kaum suami. Yang hak wanita itu setimpal dengan kewajiban yang mereka jalankan.” [QS Al-Baqarah: 228]

Sehingga dalam rumah tangga bukan hanya eksploitasi, tapi yang lebih dilakukan adalah melayani. Karena itu jangan sampai menjadi suami yang hobi menginventaris hak. Tetapi jadilah suami yang rajin menginventaris kewajiban. 

Kewajiban diri Anda kepada istri. Kalau Anda sebagai seorang wanita, kewajiban sebagai seorang istri apa yang harus Anda lakukan untuk suami. Sehingga terjadi kesetiaan yang timbal balik karena semangat menikah bukan eksploitasi. 

Menikah itu adalah melayani, menikah itu adalah melindungi, menikah itu adalah untuk memberi, bukan mengemis. Kita menikah bukan untuk mengemis cinta. Kita menikah bukan untuk mengemis pelayanan, tetapi kita menikah untuk memberi kedermawanan. Jiwa seorang mukmin telah ditanam oleh Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam dengan sabdanya,

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Jadilah orang yang senantiasa bersemangat memberi lebih, dibanding semangat menerima.”

Suami tidak sepatutnya menjadi suami pengemis. Suami bermental pengemis. Yang hanya bisa meminta, meminta, meminta kepada istrinya. Tapi tidak memiliki semangat, tidak memiliki dedikasi untuk memberi dan melayani dan melayani. 

Istripun demikian, tidak sepatutnya istri itu hanya mengeksploitasi suami. Apa yang saya dapat? Apa lagi yang saya harus minta dari suami? Tetapi istri sepatutnya menjadi istri yang dermawan. Yang terus melayani dan terus melayani tanpa pamrih. 

Kenapa? Karena di sanalah terletak surganya. Di sanalah terletak surganya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

Kalau wanita itu sudah rajin menunaikan shalat lima waktu, senantiasa berpuasa Ramadhan dan senantiasa tunduk patuh kepada suaminya. Apa yang terjadi? 

Kelak di hari kiamat akan dikatakan kepadanya, “silahkan engkau masuk ke dalam surga dari pintu surga yang 8 itu dari manapun engkau suka.” 

Sebaliknya suami ketika suami hanya bisa mengeksploitasi, meminta, meminta, meminta haknya tapi dia tidak respek, dia tidak peduli, bahkan mungkin dia mengabaikan sebagian atau bahkan mungkin banyak dari hak istrinya. Apa yang terjadi? Pintu neraka yang terbuka, bukan pintu surga yang terbuka.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

كَفَى بِالمَرْءِ إِثْماً أنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ

“Cukup sebagai dosa besar yang akan menjerumuskan engkau ke dalam neraka bila engkau itu telah menelantarkan nafkah orang yang wajib engkau nafkahi.” 

Dan para ulama sepakat orang pertama yang harus dinafkahi adalah istri dan anak keturunannya. Karena itu jangan jadi suami yang bermental pengemis, jangan menjadi istri yang bermental sebagai pengemis. Jadilah suami, jadilah istri yang bermental

الْيَدُ الْعُلْيَا

“Tangan berada di atas. Lebih suka melayani.”

Itu yang digambarkan oleh Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Ta'ala Anhu. Ketika suatu hari didapatkan beliau berdandan cakep, ganteng, rupawan, tampan rupawan. 

Murid-muridnya heran. Engkau seorang ulama besar berdandan seperti ini. Apalagi dia seorang ahli tafsir. Pantaskah seorang ulama besar berdandan, perlente, sehingga tampan. Maka, Abdullah Ibnu Abbas memberikan alasan yang sangat menakjubkan.

إني لأحب أن أتزين للمرأة، كما أحب أن تتزين لي
 
Aku berdandan, aku senang berdandan karena aku pun senang bila istriku berdandan. Jadi aku berdandan bukan agar engkau puji. Tapi agar istriku senang. Sebagaimana kalau istriku berdandan tampak cantik jelita aku pun senang. 

Muhammad ibn Ali ibn Ali Husain bin Abi Thalib, atau yang lebih dikenal dengan Muhammad al-Hanafiyah. Suatu hari menemui tamu, menemui murid-muridnya dengan menggunakan kain syal yang berwarna merah kemudian janggutnya atau jenggotnya meneteskan misk. Sehingga sangat harum sekali beliau menemui tamu. 

Murid-murid beliau segera bertanya, “Subhanallah engkau mengenakan minyak wangi yang sedemikian harum. Ada acara apa? Mau ke mana? Ada momentum apa? Sehingga minyak wangi yang kau kenakan begitu semerbak. Dan engkau penampilannya luar biasa, kelihatan tampan rupawan”. 

Apa katanya? Ini syal yang melekat di punggung ini adalah, itu baru saja dipakaikan oleh istriku ketika aku hendak keluar. Istriku yang mendandani. Dan minyak wangi yang menetes dari janggut ku ini adalah istriku yang memberi. Subhanallah. 

Tentu istri ingin suaminya semerbak harum. Penampilannya tampan. Jadi dia berdandan bukan untuk Anda. Jangan kira saya berdandan karena Anda. Tapi ini berdandan adalah untuk menuruti hasrat istri. Memuaskan kemauan istri. Subhanallah.

Itulah rumah tangga yang harmonis, Subhanallah. 

Sekali lagi jangan jadi suami yang bermental pengemis, istri yang bermental pengemis. Tapi jadilah suami yang bermental dermawan, menyantuni, melindungi, melayani. 

Sebagaimana jadilah istri yang dermawan. Istri yang senantiasa berorientasi melayani suami, memuaskan suami. Bukan hanya bertanya apa yang telah saya dapat dari suami.

 Wallahu Ta'ala A'lam.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Selasa, 14 Desember 2021

Tujuan & Manfaat Pernikahan (Bagian Pertama)

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _JUM’AT_
 | _28 Rabi’ul Akhir 1443H_
 | _03 Desember 2021M_

🎙 *Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى*
📗 *Fiqih Nikah / Baiti Jannati*

🔈 *Audio ke-010*
📖 *Tujuan & Manfaat Pernikahan (Bagian Pertama)*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله و صحبه ومن والاه أمام بعد

Kaum muslimin anggota grup Dirosah Islamiyah yang semoga senantiasa dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kembali saya hadir ke tengah ruang Anda, untuk bersama-sama menata kembali rumah tangga kita, agar rumah tangga kita betul-betul menjadi بيتي جنتي (rumahku adalah surgaku).

Sebelum Anda menikah atau kalaupun Anda telah menikah tidak ada salahnya untuk Anda duduk sesaat termenung, bertanya kembali, “untuk apa kita menikah?” 

Jangan-jangan kita itu menikah hanya karena tuntutan trend, hanya karena merasa sudah tua, hanya karena merasa menuruti hawa nafsu saja, atau mungkin karena didesak-desak oleh orang tua agar kita segera menikah dan menghadirkan cucu untuk orang tua kita.

Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ

Ada tiga golongan manusia yang pasti Allāh akan menolong mereka, satu dari ketiga golongan tersebut adalah, 

النَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ العَفَافَ

Orang yang menikah karena dia merasa sadar terancam, bahwa dia dalam bahaya, bisa jadi terjerumus dalam dosa maksiat atau perzinahan, agar dia selamat dari perzinahan, punya benteng yang membentengi dia dari perbuatan nista maka dia menikah. Karena niat dia adalah luhur. Allāh berjanji Allāh pasti tolong mereka.

Seperti apa pertolongan Allāh? mungkin Anda akan bertanya, seperti apa wujud konkretnya Allāh itu akan menolong saya. Allāh gambarkan dalam Al-Quran,

إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ
[QS An-Nur: 32]

Kalau mereka anak-anak muda yang menikah itu di saat mereka menikah,

يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ

Mereka dalam kondisi miskin, dalam kondisi kekurangan.

يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ 

Allāh memberikan kecukupan mereka dari kemurahanNya, Allāh akan mudahkan, Allāh akan bukakan pintu kecukupan untuk mereka.

Dan secara de facto, bukti telah banyak orang-orang yang semula ketika mereka bujang, alih-alih mereka mendapatkan kecukupan, mereka selalu merasa kekurangan, tetapi subhanallah setelah mereka menikah Allāh berikan kemudahan. Allāh lancarkan rezekinya.  

Banyak anak-anak muda yang berkata, "untuk biaya hidup sendiri saja susah, bagaimana harus menafkahi istri". Inilah sebuah slogan dan ini adalah ucapan yang tidak tepat, tidak mencerminkan akan iman.

Apakah Anda menjamin rezeki istri Anda, apakah rezeki Anda itu diambil, direnggut istri Anda, tidak! Istri Anda Allāh ciptakan terlahir ke dunia ini dengan membawa jatah rezeki, Anda pun terlahir ke dunia dengan membawa jatah rezeki. Tidak saling mengambil, tidak saling mengurangi.

Namun ketika Anda menyatukan tekad dengan seorang wanita, menyatukan tekad dengan seorang pria untuk menjalin suatu ikatan suci yaitu pernikahan, sucinya niat Anda yang menikah dalam rangka membentengi diri dari perbuatan maksiat diapresiasi oleh Allāh Subhanahu wa taala dengan sebuah janji,

إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ

Kalau mereka miskin akan Allāh berikan kecukupan kepada mereka.

Karenanya, pada kesempatan ini saya mengajak Anda untuk kembali memetakan, menjawab pertanyaan yang sangat principal (sangat mendasar) dalam kehidupan rumah tangga setiap muslim, “untuk apa kita menikah?”

Para ahli fiqih, para ulama, telah menjelaskan bahwa pernikahan itu memiliki visi (tujuan) yang sangat mulia dan banyak, bukan hanya satu. Yang terbesar adalah menjalankan perintah Allāh, menjalankan syariat Allāh, menjalankan kepatuhan kepada Allāh, karena Allāh menciptakan dunia ini bukan untuk dipandangi, bukan untuk kemudian disia-siakan dunia ini, Allāh percayakan kepada Anda. Allāh ciptakan semua yang ada yang ada di dunia ini, untuk apa?

Untuk Anda makmurkan, untuk Anda nikmati, untuk Anda manfaatkan, agar apa? Agar Anda bisa menjalankan perintah, menegakkan ibadah kepada Allāh, agar Anda memiliki anak keturunan, yang mereka semua nanti akan menegakkan ketaatan kepada Allāh, memakmurkan, mengisi dunia ini, dengan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh yang memerintahkan Anda untuk menikah,

فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَ ۖ

“Nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang kalian suka, yang kalian senangi dua, tiga, atau empat.”

Atau kalau-kalau tidak mampu,

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا۟

“Kalau kalian khawatir tidak mampu berbuat adil.” 

Maka

فَوَٰحِدَةً

“Maka nikahilah satu orang wanita.” [QS An-Nisa: 3]

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, suatu hari tersentak dengan sikap sebagian sahabat yang salah persepsi tentang ibadah. Mereka mengira bahwa ibadah itu kontra produktif (bertentangan) dengan pernikahan, kenapa?

Pernikahan itu adalah melampiaskan nafsu, berfoya-foya, bersenang-senang, sedangkan ibadah itu konsentrasi, bermunajat kepada Allāh, subhanallah.

Sehingga mereka apa yang mereka lakukan? mereka berikrar untuk tidak menikah, karena mereka menganggap dengan menikah itu menjadikan kita jauh dari ibadah. 

Padahal faktanya tidak demikian, justru dengan menikah kita semakin dekat dengan ibadah. Karena ibadah itu bukan hanya shalat, bukan hanya puasa tetapi menikahpun itu adalah bentuk dari ibadah. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Dan ketika kalian melampiaskan nafsu birahi dengan menggauli istrimu, maka kamu akan mendapatkan pahala sedekah.”

Para sahabat heran dan bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ

“Ya Rasulullah apakah kita melampiaskan syahwat (nafsu) kita kemudian kita mendapatkan pahala.”

Ini suatu yang menakjubkan, suatu yang aneh. Nabi memberikan satu gambaran

أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا

“Allāh menciptakan kalian sebagai manusia yang normal, lelaki ataupun wanita diciptakan dalam kondisi punya nafsu.”

Coba pikirkan kalau dilampiaskan nafsunya di tempat atau dengan cara yang haram bukankah dia dapat dosa,

فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ  

“Demikian pula kalau dia melampiaskan nafsu itu dengan cara yang halal, kenapa dapat pahala.” [HR Muslim No. 1006]

Iya, melampiaskan nafsu dengan cara yang halal itu adalah bentuk dari pengakuan bahwa Anda manusia.

Anda punya hajat, punya kebutuhan dengan Anda melampiaskan nafsu, itu Anda mengaku bahwa Anda hamba dan bukan Tuhan. Anda butuh, Anda punya hasrat, sehebat apapun Anda, sekuat apapun, Anda butuh pada kehadiran partner, yaitu seorang wanita yang lemah yang akan menyempurnakan hidup Anda, yang akan menjadikan hidup Anda berarti, yang menjadikan hidup Anda bermakna.

Secerdas apapun, sekuat apapun, sepandai apapun, sekaya apapun Anda, hidup Anda akan menjadi hampa tidak ada artinya. Hidup Anda akan menjadi gersang tidak ada rasanya, ketika Anda tidak menikah. Harta Anda sia-sia, kecerdasan Anda sia-sia, kekuatan Anda tidak ada artinya, tetapi dengan Anda menikah Anda merasakan dunia ini terasa indah.

Kekayaan Anda memiliki arti, ketampanan akan ada artinya, keperkasaan Anda ada rasanya, dengan menikah. Sehingga itu akan semakin menghantarkan Anda bahwa ternyata Anda makhluk yang lemah, walaupun Anda punya, Anda tidak akan bisa merasakan. Anda memiliki, tapi Anda tidak bisa menikmatinya kecuali dengan hadirnya partner yaitu istri.

Anda tidak akan bisa merasakan betapa bahagianya seorang suami yang memberikan nafkah istrinya, memberikan kecukupan kepada istrinya, sampai Anda menikah.

Dan ketahuilah salah satu surat yang istimewa, bahkan dikatakan oleh Nabi sebagai sepertiga Al-Quran adalah ayat atau surat yang menggambarkan, menceritakan akan fakta ini,

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

“Katakan Muhammad bahwa Allāh itu Maha Esa.”

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
 
“Allāh tidak pernah beranak dan Allāh tidak pernah diperanakkan.”

Anda menikah agar Anda bisa menyadari fakta ini, siapapun Anda, Anda adalah anak manusia lain, anak wanita lain, anak lelaki lain. Dan siapapun Anda, Anda memiliki anak dan butuh kepada kehadiran anak. 

Dulu Anda butuh kepada orang tua Anda, tanpa mereka Anda binasa, tidak mungkin hadir di dunia ini, sehingga jangan pernah mengaku sebagai Tuhan, karena pada suatu saat Anda tidak pernah ada di dunia ini.  

Anda pada suatu periode,

لَمْ يَكُنْ شَيْـًٔا مَّذْكُوْرًا

Tidak pernah tersebut tidak pernah ada dan setelah Anda, jangan sombong, jangan lupa bahwa Anda kemarin tidak ada, hadir karena hubungan lelaki dan wanita. 

Dan kemudian setelah Anda dewasa menginjak umur secara alami, secara natural, jiwa Anda bersuara, jiwa Anda menjerit untuk apa? 

Butuh kepada kehadiran seorang anak untuk menjadikan Anda merasa sebagai manusia yang sempurna, lelaki yang sempurna, wanita yang sempurna. Apalah artinya laki-laki ketika dia tidak bisa melahirkan seorang anak, apalah arti seorang wanita ketika dia tidak bisa hamil dan menghadirkan seorang anak. Semua orang menyadari ini, sehingga dengan lahirnya anak, dengan proses pernikahan, Anda betul-betul akhirnya sampai pada satu titik, bahwa Anda bukan Tuhan.

Tetapi Anda adalah hamba Allāh, sehingga ketika Anda mengingat orang tua Anda, Anda akan teringat saya terlahir dari lelaki dan wanita, berarti saya bukan Tuhan. Dan saatnya nanti Anda melahirkan seorang anak berarti Anda bukan Tuhan, karena Tuhan itu

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Sebagaimana Anda dalam rumah tangga, bisa jadi Anda bukan satu-satunya anak, tetapi Anda punya saudara. Di kampung itu Anda juga bukan satu-satunya anak, banyak teman sejawat Anda seumuran dengan Anda, sebaya dengan Anda yang membuktikan bahwa Anda bukan Tuhan, karena apapun yang bisa Anda lakukan, bisa dilakukan oleh teman-teman Anda

Sehingga pernikahan ini manfaat terbesarnya adalah membuktikan, mengantarkan Anda untuk mengakui bahwa Anda hamba bukanlah Tuhan. 

Fir'aun lakanatullah alaih lupa akan hal ini, keberhasilan, kekayaan, kekuasaan dia, menjadikan dia lupa daratan, sehingga dia mengatakan,

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

“Aku adalah Tuhan kalian yang paling perkasa, paling berkuasa.” [QS An Nazi’at: 24]

Tetapi, Subhanallah dia tidak bisa mendustakan, Allāh buktikan kepada Fir’aun, 

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

“Bahwa Tuhan itu tidak pernah diperanakkan dan juga tidak pernah beranak.”

Fir'aun lupa sejarah boleh, bisa jadi lupa sejarah bahwa dia adalah anak, dia terlahir melalui proses kelahiran, tetapi seperkasa apapun, se-digjaya apapun seorang dia tidak bisa melawan hati nurani, bahwa dia rindu untuk bisa menimang seorang anak.

Dia seorang manusia biasa. Seperti apapun sombongnya, hati nuraninya akan berkata, kehadiran seorang anak yang dia cium, yang dia timang, yang dia goda, itu adalah salah satu kunci kebahagiaan hidup di dunia. 

Maka Allāh jadikan Fir'aun mandul (tidak punya anak keturunan) sehingga akhirnya dia tergoda untuk mengangkat anak, maka diambil Nabi Musa Alaihissalam yang oleh orang tuanya telah diletakkan dalam sebuah peti dan kemudian dihanjutkan ke sungai Nil.

Kemudian diambil oleh Fir'aun secara sembunyi-sembunyi, dia mengira tidak ada yang mengetahui, dia rawat, dia ingin melampiaskan sebagian dari nalurinya sebagai manusia biasa, menimang anak. Subhanallah 

Sehingga kehadiran pernikahan itu salah satu manfaatnya adalah untuk membuktikan bahwa Anda manusia, bukan Tuhan, karena Tuhan itu,

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
 
Karena itu ketika Anda ingat orang tua Anda, ingatlah bahwa Allāh.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Ketika Anda ingat kepada anak Anda, katakan bahwa Allāh itu tidak Pernah lahir dan tidak melahirkan. 

Ketika Anda rindu kepada istri Anda, naluri sebagai seorang laki-laki atau naluri sebagai seorang wanita ingin disayangi, ingin dilindungi, ada rindu kepada pasangan Anda, maka itu adalah satu petir yang menyambar nalar Anda agar Anda sadar bahwa Anda bukanlah Tuhan.

Yang namanya Tuhan itu,

 وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
 
Allāh tidak punya partner, Allāh tidak punya pesaing, Allāh tidak punya pasangan, Subhanallah. Tidak ada yang bisa menyaingi Allāh Subhanahu wa taala

 والله تعالى أعلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Senin, 13 Desember 2021

Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Keempat)

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _KAMIS_
 | _27 Rabi’ul Akhir 1443H_
 | _02 Desember 2021M_

🎙 *Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى*
📗 *Fiqih Nikah / Baiti Jannati*

🔈 *Audio ke-009*
📖 *Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Keempat)*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد

Kita membangun rumah tangga bukan untuk menumpuk harta, membangun istana merintis kejayaan, bukan. Tetapi seperti yang digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,

نِعْمَ الرَّجُلُ الَّذِي قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى مَا كُتِبَاله شم انقظ عاله 
 
Sebaik-baik suami adalah suami yang bangun malam. Kemudian apa? Dia shalat semampunya. Setelah dia shalat semampunya, dia bangunkan istrinya agar turut shalat di tengah malam.

نِعْمَتل مرأة 

Sebaik-baik istri adalah wanita yang,

قَامَ مِنَ اللَّيْلِ

Bangun di tengah malam,

فَصَلَّى مَا كُتِبَاله

Kemudian dia shalat semampunya, 

Setelah dia shalat, dia bangunkan suaminya.

فإن أبا

Kalau suaminya hendak mau bangun, dipercikkan air di wajahnya. 

Dirangsang agar dia bangun, agar dia ikut turut bermunajat bersimpuh di hadapan Allāh di tengah gelapnya malam, di kesunyian malam.

Itulah rumah tangga yang shalih, itulah rumah tangga yang ideal. Rumah tangga yang sukses bukan rumah tangga yang mampu membangun istana, bisa menjadikan, mengantarkan anak keturunannya sebagai raja, menjadi seorang ilmuwan, professor, pesohor, tidak. 

Tetapi rumah tangga yang sukses adalah rumah tangga yang mampu mengantarkan anggotanya, suaminya, istrinya, anak keturunannya untuk bisa mengikrarkan dan selalu sadar, 

رَبُّنَا ٱللَّهُ

“Rabb kita adalah Allāh.”

Kemudian mereka Istiqomah dengan ikrar tersebut hingga akhir ajal. Itu adalah tujuan hidup, itulah tujuan rumah tangga. Rumah tangga dibangun agar di tengah rumah tangga ini senantiasa dilantunkan ayat-ayat Allāh. Agar di dalam rumah tangga ini senantiasa ditunaikan shalat-shalat sunnah di dalam rumah tangga itu. Agar di dalam rumah tangga ini senantiasa terlahir anak keturunan yang lisannya itu selalu basah dengan dzikir kepada Allāh. 

Suatu hari datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam yang dia berpikir realistis. 

إِنَّ شَرَائِعَ الْإسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ

Ya Rasulullah sejatinya syarat Islam ini sudah terlalu banyak, aku tidak bisa menjalankan semuanya.

دلني على خير ا

Ya Rasulullah ajarkan aku satu kebaikan saja,

أَتَشَبَّثُ بِهِ

Yang dengan satu kebaikan ini aku bisa berpegangan, bisa menjadikannya sebagai modal, obor dalam hidup ku. 

Maka Nabi mengajarkan kepadanya,

لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ

Ya, aku ajarkan satu hal. Mudah, ringan, tidak butuh biaya, tidak butuh waktu yang spesial, tempat yang spesial, sederhana sekali. Yaitu lisanmu senantiasa engkau basahi dengan dzikir kepada Allāh. Subhanallah.

Betapa indahnya rumah tangga yang di dalamnya suami senantiasa mengatakan, 

استغفرالله ، سبحان الله ، لا حول ولاقوة إلا بالله، لا اله الا الله. 

Betapa indahnya rumah tangga yang istrinya senantiasa melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an, betapa bahagianya harmonisnya rumah tangga yang anaknya senantiasa bersenandung bukan dengan lagu-lagu tetapi dengan istighfar, dengan Al-Qur'an.

Karena rumah tangga yang semacam itu, rumah tangga yang senantiasa bergemuruh suara dzikir kepada Allāh, bergemuruh suara ayat-ayat Al-Qur'an, setan akan menjauh.

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Sejatinya setan itu senantiasa jauh dari rumah yang di dalamnya selalu dibacakan surat Al-Baqarah. [HR Muslim No. 780]

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan rumah tangga kita, keluarga kita, rumah kita, rumah yang senantiasa bergemuruh dengan berdzikir kepada Allāh. Lisan kita senantiasa dihiasi dengan berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Jumat, 10 Desember 2021

Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Ketiga)

 🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 RABU
 | 26 Rabi’ul Akhir 1443H
 | 01 Desember 2021M

🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati

🔈 Audio ke-008
📖 Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Ketiga)
~•~•~•~•~


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد

Allāh dalam Al-Qur'an menggambarkan bagaimana visi satu rumah tangga yang istimewa, yang luar biasa.

Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam. Nabi Ibrahim yang menikah dengan Sarah, telah sekian lama sekian puluh tahun tidak dikaruniai anak keturunan. Maka Sarah kemudian mengizinkan suami yaitu Nabi Ibrahim untuk menikahi budaknya yang bernama Hajar.

Dan segeralah Hajar setelah menikah dengan Nabi Ibrahim, Hajar segera hamil dan kemudian melahirkan seorang anak yang diberi nama Ismail.

Seorang suami, seorang ayah, seorang suami yang telah merindukan hadirnya buah hati anak keturunan. Kemudian anak tersebut betul-betul lahir ke dunia dengan selamat. Seorang anak yang tampan rupawan. Wajar, di dalam hatinya ada benih-benih cinta, rasa bangga rasa senang bagaikan oase di tengah hamparan padang pasir yang tak bertepi. Penantian panjang akhirnya datang anak keturunan.

Padahal Nabi Ibrahim telah mengikrarkan dalam dirinya bahwa dia hanya cinta kepada Allāh. Dia telah dipilih oleh Allāh, diberi karunia sebagai khalilurrahman atau khalilullah (Kekasih Allāh) sehingga tidak pantas, tidak patut di dalam jiwanya, di dalam hatinya ada rasa cinta kepada selain Allāh. Maka Allāh uji keluarga tersebut.

Nabi Ibrahim diuji untuk membawa Hajar beserta anaknya yang masih kecil, masih bayi merah untuk diletakkan di sisi Ka'bah (di lembah Mekkah) atau yang kala itu dikenal dengan lembah qaran (yang tak bertepi). Yang tidak bertuan, tidak ada penghuni, tidak ada tanaman, gersang, tandus, tidak ada sumber-sumber kehidupan.

Namun, Nabi Ibrahim sebagai seorang khalil. Yang hanya cinta dan patuh tunduk kepada Allāh. Diapun patuh atas perintah Allāh ini. Dia tidak membantah, dia tidak menunda, menganalisa atau bermusyawarah. Dia segera jalankan.

Setibanya di lembah Mekkah, di sisi Ka'bah segera Beliau letakkan putranya. Beliau tinggalkan istrinya Hajar dan Beliau segera bergegas pergi karena memang perintahnya hanya meletakkan putranya di sana tanpa harus berpesan atau tanpa harus membangun perumahan di sana. Menanti datangnya atau mengundang orang. Dia hanya diperintahkan untuk meletakkan putranya di sana beserta ibunya.

Ketika Nabi Ibrahim beranjak pergi, Hajar bertanya,

يا ابراهيم ، إلى من تدركن ؟

”Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau titipkan kami di sini?“

Lembah yang tidak bertuan. Lembah yang tidak ada sumber kehidupan. Nabi Ibrahim tetap bergegas, berjalan tanpa memperdulikan pertanyaan istrinya.

Hajar mengira mungkin Nabi Ibrahim kurang mendengar. Suaranya mungkin kabur oleh terpaan angin. Dia ulang lagi, dengan suara yang lebih lantang. Dengan suara yang lebih jelas.

يا ابراهيم ، إلى من تدركن ؟

”Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau titipkan kami di sini?“

Nabi Ibrahim tetap bergegas tanpa menggubris pertanyaan istrinya. Hajar Alaihissalam yang telah hidup di dalam keluarga Nabi sekian lama dan dia telah mendapatkan karunia sebagai Istri seorang Nabi, bahkan khalilullah. Sadar bahwa pertanyaan itu tidak layak muncul dari seorang muslimah yang beriman kepada Nabi, yang tidak berkata-kata atas dasar nafsu, yang dia jalankan hanya adalah wahyu.

Sehingga pertanyaan mengapa, bagaimana, kepada siapa, tidak layak muncul dalam keluarga seorang muslim dan muslimah, seorang mukmin dan mukminah.

Maka Hajar merubah sikapnya. Meralat kesalahannya. Sehingga dari lisannya muncul pertanyaan yang benar. Satu-satunya pertanyaan yang hanya boleh muncul dari seorang muslim dan mukminah.

أ الله امرك به‍ذا ؟

”Wahai Ibrahim, apakah Allāh yang memerintahkan engkau melakukan ini?“

Inilah pertanyaan yang benar, yang seharusnya muncul dari keluarga yang muslim atau muslimah. Memastikan bahwa ini adalah perintah Allāh. Ketika pertanyaan itu betul, maka Nabi Ibrahim menoleh dan menjawab,

بلى

”Betul.“

Kemudian Nabi Ibrahim tidak banyak berkomentar, tidak perlu untuk banyak menjelaskan. Karena Nabi Ibrahim telah mendidik istrinya dengan pendidikan yang shalih. Sehingga ia (Hajar) langsung paham dan mengetahui apa konsekuensi jawaban suaminya bahwa ini adalah perintah Allāh. Sehingga Hajar segera menimpali jawaban suaminya dengan menunjukkan kepastian iman, kekokohan, ketangguhan iman. Hajar berkata,

إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا الله

“Kalau ini adalah perintah Allāh, Allāh tidak mungkin mencelakakan kita. Allāh tidak mungkin menyia-nyiakan kita.”

Subhanallah. Nabi Ibrahim terus bergegas pergi sampai pada satu tempat yang dia yakini Hajar tidak lagi bisa melihat dirinya. Dia tidak lupa untuk memohon kepada Allāh,

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” [QS Ibrahim: 37]

Subhanallah. Doa seorang Nabi, seorang suami, seorang ayah, yang betul-betul beriman mencerminkan keinginan.

Ya Allāh, Wahai Rabb, Wahai Tuhanku. Aku telah meletakkan anak keturunanku di satu lembah yang tidak ada tanamannya. Artinya tidak ada sumber kehidupan di sana. Tapi aku lakukan karena aku yakin sumber kehidupan itu datangnya dari Engkau.

Walaupun tidak ada tanaman, mereka akan bisa bertahan hidup. Karena kehidupan itu datangnya dari Engkau. Aku letakkan di sana bukan agar mereka bercocok tanam, agar mereka memiliki ladang yang luas. Tidak.

لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ

Aku letakkan di sana, misiku satu, yaitu agar mereka menjadi orang-orang yang rajin menunaikan shalat. Beribadah hanya kepadaMu. Bukan karena aku meyakini Mekkah itu subur, sumber kehidupan, prospek masa depan. Tidak.

Aku letakkan di sana agar mereka menjadi orang yang rajin menegakkan shalat. Kenapa dengan shalat? Karena diletakkan di sisi puing-puing Ka'bah. Di sanalah tempat shalat ditegakkan. Di sanalah pusat ibadah shalat itu dijalankan. Di sanalah semua orang shalat itu menghadap.

Maka tatkala anak diletakkan di tempat ibadah, di dekat rumah Allāh. Maka visi seorang ayah yang shalih mengatakan, visi pertamanya rajin shalat. Subhanallah. Itu doa Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim tidak berkata, “Ya Allāh aku letakkan anakku di tanah yang subur, jadikan usahanya sukses, dagangannya lancar, pertaniannya sukses.” Tidak.

Di lembah yang tidak ada tanaman, bahkan tidak cocok untuk bercocok tanam, tapi tempat tersebut adalah tempat untuk menegakkan shalat. Pusatnya orang shalat adalah di Ka'bah. Maka aku letakkan di sana agar mereka shalat.

Urusan rezeki, aku tidak perlu khawatir, aku tidak perlu risaukan. Karena kalau Engkau sudah cinta kepada mereka, Ya Allāh, kalau mereka sudah menjalankan ibadah kepadaMu dengan benar, urusan rezeki tidak usah diminta. Pasti Engkau beri. Tidak usah di nanti pasti akan disampaikan.

Kenapa? Karena Allāh telah berikrar. Dan ikrar ini telah disampaikan kepada semua Nabi, kepada semua orang yang shalih.

نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ

“Kamilah yang memberi rezeki kepada kalian.” [QS Al-Isra': 31]

Sehingga tidak perlu risau, tidak perlu galau, tidak perlu takut. Asalkan apa?

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
 
Asalkan kita menjalankan fungsi hidup kita. Menjalankan visi hidup kita. Yaitu apa? Beribadah kepada Allāh. Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

“Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menegakkan ibadah kepada Ku”  [QS Adz-Dzariyat: 56]

مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” [QS Adz-Dzariyat: 57]

Aku tidak mengharapkan mereka mengumpulkan rezeki, atau mereka mengumpulkan makanan atau api.  

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ

“Karena sejatinya si pemberi rizki, yang memberi rizki itu adalah Allāh.”

ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ

“Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa.” [QS Adz-Dzariyat: 58]

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Kata Allāh, “Wahai Muhammad, perintahkan keluargamu untuk menegakkan shalat “.

وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan sabarlah, tabah dalam menegakkan shalat tersebut.”

لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا

“Karena Kami tidak akan meminta rezeki kepada kalian.” [QS Thaha: 132]

Jangan khawatir dengan shalat, kalian sibuk tidak sempat bekerja, tidak perlu khawatir. Karena apa?

نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ

“Karena dengan engkau rajin menegakkan shalat, Kami akan jamin rejeki.”

Itu yang terjadi, itu yang tersirat dari doa Nabi Ibrahim. Sehingga, Subhanallah. Dengan ketulusan dan keimanan Nabi Ibrahim, kekuatan tawakal Nabi Ibrahim.

Allāh tunjukkan, Allāh buktikan bahwa Ismail dan istri Nabi Ibrahim yang secara logika hitung-hitungan manusia mungkin akan segera binasa, kekeringan, kehausan, dehidrasi, atau mungkin diterkam oleh binatang buas, tapi tidak terjadi itu semua.

Kenapa? Karena Nabi Ibrahim telah menitipkan keluarganya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Nabi Ibrahim meletakkan keluarganya di Mekkah dalam rangka menjalankan perintah Allāh atas perintah Allāh, bukan karena kesemena-menaan, atau kerakusan, atau visi dunia, tidak.

Maka Allāh pun selamatkan mereka. Allāh melindungi mereka dan bahkan Allāh tunjukkan kepada dunia bahwa Allāh Kuasa menyelamatkan hambanya yang taat, hambanya yang patuh.

مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dengan cara yang tidak diduga-duga.” [QS At-Talaq: 3]

Siapa dari kita yang menduga bahwa dari hentakkan kaki Nabi Ismail yang masih merah (bayi) mampu menjadikan air zam-zam memancar. Subhanallah. Sampai-sampai Nabi kita Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

رَحِمَهُ اللهُ أُمَّ إِسْمَاعِيْلَ لَوْ لَهَا لَكَنَا زَمْزَمَ عَيْنًا مَعِيْنًا

“Semoga Allāh merahmati ibunya Nabi Ismail. Andai bukan pekerjaan dia, andai bukan dia, niscaya zam-zam itu akan menjadi sungai yang mengalir.” [HR Bukhari 3364 dan 3365]

Kenapa? Pertama kali zam-zam memancar dari kaki Nabi Ismail, Hajar berkata,

 زُمْزُمْ

“Berkumpullah air, janganlah mengalir, berkumpullah air, di sini jangan pergi.”

زُمْزُمْ

“Berkumpullah-berkumpullah.”

Maka zam-zam itu, sebesar apapun sumbernya, sederas apapun airnya keluar dari sumber, dia tidak bisa mengalir, tidak bisa tumpah dan kemudian menyebabkan banjir.

Subhanallah, Allāh beri rejeki, Allāh beri pertolongan dari jalan yang tidak di duga-duga. Itu seperti implementasi bahwa,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ

“Siapapun yang bertakwa kepada Allāh.”

يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

“Allāh pasti beri jalan keluar untuk problematikanya.” [QS At-Talaq: 2]

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan Allāh beri dia rejeki dari jalur yang dia tidak duga-duga.” [QS At-Talaq: 3]

Siapa yang menduga bahwa Ismail mampu menggetarkan bumi dan akhirnya menjadikan bumi mengeluarkan air yang memancar. Siapa yang menduga bahwa Hajar dan Ismail mampu bertahan hidup di lembah yang gersang semacam itu. Subhanallah.

Dan mengapa Nabi Ibrahim tega melakukan semua itu? Itu untuk menjadi pelajaran bagi kita bahwa dengan tawakkal, kalau kita menjalankan perintah, seburuk apapun kondisinya, segenting apapun suasananya, Allāh tidak akan pernah membiarkan, Allāh tidak akan pernah mencelakakan, membiarkan hambaNya celaka.

Seperti yang diikrarkan oleh Hajar,

إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا الله

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan sebagai penutup,

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك

Sampai jumpa di lain kesempatan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Rabu, 08 Desember 2021

Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Kedua)

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _SELASA_
 | _25 Rabi’ul Akhir 1443H_
 | _30 November 2021M_

🎙 *Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى*
📗 *Fiqih Nikah / Baiti Jannati*

🔈 *Audio ke-007*
📖 *Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Kedua)*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد

Allāh dalam Al-Qur'an mengabarkan bagaimana kisah seorang suami yang memiliki visi yang shalih menjadi hamba Allāh, menegakkan sendi-sendi keimanan dalam rumah tangganya, yaitu Nabi Luth alayhisallam. 

Allāh kisahkan sejarah keluarga Nabi Luth, perjalanan hidup keluarga Nabi Luth. Nabi Luth menyeru, berdakwah, menegakkan Islam, mengajarkan akhlak yang mulia, mencegah kemungkaran, pergaulan bebas, mencegah terjadinya homoseksual.

Namun ternyata Allāh telah pilihkan untuk Nabi Luth seorang istri yang tidak shalih, seorang istri yang kafirah, seorang istri yang tidak menjalani perintah suami, tidak tunduk dan patuh kepada suami, tetapi tunduk dan patuh kepada nafsunya. Tidak taat kepada Rabb-Nya, tetapi taat kepada bisikan setannya.

Sehingga istri nabi Luth menjadi pengkhianat terbesar dalam perjalanan dakwah nabi Luth. Apa yang dia lakukan?

Dia terus menjadi mata-mata kaum homoseksual, menjadi pengkhianat perjalanan dakwah nabi Luth alayhisallam. Tetapi apa yang terjadi?

Ketika adzab Allāh telah tiba, murka Allāh telah datang, Allāh selamatkan nabi Luth beserta orang yang beriman. Allāh perintahkan agar mereka keluar dari rumahnya pergi dari kampung halaman di tengah malam.

Dan Allāh berpesan agar ketika mereka berjalan bergegas, fokus segera meninggalkan kampung halamannya. 

وَلَا يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ 

Jangan sekalipun dari satu orang dari kalian yang menoleh ke belakang, agar betul-betul fokus melarikan diri dari kampung yang akan segera ditimpa adzab kecuali istrinya, walaupun istrinya diajak pergi oleh nabi Luth. Tanggung jawab seorang suami untuk menyelamatkan istri dari adzab. 

Tetapi apa yang terjadi? Tetap istrinya nabi Luth telah digariskan bahwa dia akan termasuk orang yang ditimpa adzab, dia berpaling, dia menoleh ke belakang dan dia pun terkena adzab Allāh Subhanahu wa Ta'ala. 

Namun bejatnya istri, rusaknya istri, kafirnya istri, tidak menggoyahkan keimanan nabi Luth. Sebagaimana keangkaramurkaan Fir'aun tidak menggoyahkan kekokohan iman istrinya, sehingga mereka tetap beriman menjalankan ketaatan kepada Allāh karena mereka dalam membangun rumah tangga memiliki visi yang jelas. 

Suami bukanlah Tuhan, istri bukanlah sembahan, tetapi mereka adalah partner untuk bisa sampai kepada mardhatillah, keridhaan Allāh Subhanahu wa Ta'ala untuk bisa menegakkan ibadah kepada Allāh. 

Tetapi ketika di tengah jalan terbukti mereka adalah partner yang berkhianat, pasangan yang berkhianat, pengkhianatan istri, pengkhianatan suami, tidak menjadikan mereka berubah arah dan kemudian kompromi berhenti di tengah-tengah. TIDAK. 

Tetap pada visi, رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ 

Sejatinya orang-orang yang telah mengikrarkan رَبُّنَا ٱللَّهُ Rabb kita adalah Allāh, kemudian mereka istiqamah dengan perjalanan tersebut. 

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟

Kelak di saat malaikat maut menjemput mereka, mencabut nyawa mereka, orang yang istiqamah di atas jalan Allāh akan dihampiri oleh para malaikat yang mengabarkan kepadanya,

  أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟

Janganlah engkau gentar, janganlah engkau bersedih, janganlah engkau takut. 

وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Dan bergembiralah, berbahagialah segera karena engkau akan segera sampai ke surga yang telah Allāh janjikan atas perjuangan, keistiqamahanmu mempertahankan iman. Walaupun suamimu kafir, walaupun suamimu mengajak untuk murtad, suamimu mengajak untuk berbuat durhaka. 

Walaupun istrimu menyeretmu untuk berbuat maksiat tapi istiqamah. Engkau tetap istiqamah maka inilah balasannya, kabar gembira dengan surga di saat yang paling krusial yaitu pada titik di mana kita harus berpisah dengan dunia dan masuk ke dalam alam akhirat. 

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan sebagai penutup,

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك

Sampai jumpa di lain kesempatan. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Selasa, 07 Desember 2021

Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Pertama)

 🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 SENIN
 | 24 Rabi’ul Akhir 1443H
 | 29 November 2021M

🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati

🔈 Audio ke-006
📖 Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Pertama)
~•~•~•~•~


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد

Kehidupan rumah tangga yang dialami atau dijalani oleh masing-masing kita pasti ada arah dan tujuan. Sebagian kita mungkin memiliki orientasi untuk mengantarkan keluarga ini menjadi keluarga yang kaya-raya penuh dengan fasilitas, kesenangan, dan kemewahan.

Bisa jadi dari sebagian kita punya orientasi pendidikan, ingin menjadikan keluarga ini adalah keluarga yang terpelajar, memiliki titel akademik yang tinggi. Bisa pula ada dari kita yang memiliki orientasi sosial agar suami dan istri memiliki karier sosial yang tinggi, anak-anak pun kelak agar memiliki status sosial yang terpandang.

Namun saya yakin, masing-masing kita memiliki orientasi yang lebih mulia dari semua ini. Membangun rumah tangga bukan untuk mengumpulkan harta kekayaan, karena apalah arti kekayaan, apalah arti harta bagi rumah tangga kita kalau ternyata harta itu hanya menjadi biang datangnya petaka.

Allāh Subhanahu wa Ta'ala telah kisahkan dalam Al-Qur'an kisah keluarga yang dengan hartanya mereka celaka. Allāh ceritakan kisah Qarun seorang yang kaya raya. Allāh juga kisahkan bagaimana Abu Lahab keluarganya menyeret ke dalam kekufuran sehingga Allāh katakan:

مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ

"Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan." [QS Al-Masad: 2]

Apalah artinya harta dan apa yang dia dapatkan semasa hidupnya kalau ternyata Abu Lahab beserta keluarganya kelak akan masuk dalam neraka yang ذَاتَ لَهَبٖ neraka yang apinya berkobar-kobar.

Dalam Al-Qur'an Allāh juga kisahkan, kisah seorang raja yang memiliki orientasi kekuasaan, keluarga yang orientasinya membangun kejayaan. Fir’aun, ia membangun kerajaan, kekuasaan dengan segala cara yang dia punya, harta yang dia kerahkan, pasukan yang dia miliki, semuanya adalah untuk membangun kekuasaan.

Namun ternyata subhanallah, kekuasaan dia mendatangkan petaka, celaka bagi dia, bahkan Allāh telah kondisikan sedemikian rupa, bahwa kehancuran Fir'aun datangnya dari anak angkatnya yaitu Nabi Musa alayhisallam.

Di tengah keluarga yang penuh dengan kemaksiatan, kekafiran, keangkaramurkaan, namun ternyata subhanallah ketika visi misi keluarga itu tidak sejalan. Istri Fir'aun memiliki visi yang benar, yang shalih, menjadi wanita yang shalihah, maka tatkala Nabi Musa menyeru, berdakwah kepada Allāh.

Istrinya Fir'aun masuk Islam, menerima hidayah dan membela kebenaran walaupun suami tidak sejalan. Sehingga kisah perjuangan istri Fir'aun mempertahankan eksistensi keislamannya Allāh abadikan dalam Al-Qur’an.

وٱمْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَ
[QS At-Tahrim: 11]

Dan ingatlah kisah istri Fir'aun tatkala dia terus menerus berdoa kepada Allāh dia terjerembab, dia terperangkap dalam rumah tangga yang tidak harmonis, rumah tangga yang tidak Islami, rumah tangga yang tidak mengantarkan kepada ketaatan, kepada keimanan, tapi rumah tangga yang mengantarkan kepada kekufuran, keangkara murkaan kesewenang-wenangan. Karena dia berada di bawah kepemimpinan seorang suami yang kafir dan angkara murka.

Namun itu tidak menghalangi istri Fir'aun untuk menjalankan nilai-nilai keimanan dia, memperjuangkan eksistensi keimanan dia, sehingga dia terus dengan tulus berdoa kepada Allāh:

رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ

Ya Allāh aku akan kehilangan, aku akan segera kehilangan istana di dunia ini karena aku berseberangan dengan suami yaitu Fir'aun pemilik istana dunia, maka gantikanlah dengan apa?

بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ

Istana di dalam surga

وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِه

Dan lindungi aku, selamatkan aku dari kejahatan Fir'aun dan juga kejahatan perilaku Fir'aun (ulahnya Fir'aun).

Subhanallah, ini adalah potret istri yang memiliki visi sebagai seorang wanita muslimah.

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan sebagai penutup,

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك

Sampai jumpa di lain kesempatan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Rabu, 01 Desember 2021

Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Perselisihan dan lainnya

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _JUM’AT_
 | _21 Rabi’ul Akhir 1443H_
 | _26 November 2021M_

🎙 *Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى*
📗 *Fiqih Nikah / Baiti Jannati*

🔈 *Audio ke-005*
📖 *Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Perselisihan dan lainnya*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~



بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله و صحبه ومن والاه أمام بعد

Pada kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk sedikit menyelami bagaimanakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memanage, mengendalikan emosional beliau, baik ketika senang ataupun ketika sedih, marah, kecewa, ataupun sedang bahagia, karena dengan pengendalian diri inilah keberhasilan dalam mengarungi rumah tangga itu akan terwujud.

Demikian pula tatkala berada dalam kondisi perbedaan, perselisihan, ataupun dalam kondisi emosional yang lainnya. Ketika suami marah, atau istri marah, suami kecewa, ataupun istri kecewa, tidak sepatutnya kekecewaan terhadap pasangan itu menjadikan kita lepas kontrol. 

Misalnya; suami karena marah dengan istri, memukul, menyiksa, menyakiti hati ataupun fisik istrinya, tentu itu tidak tepat. Sampai-sampai Nabi shallallahu alayhi wa sallam mengatakan:

لا يضرب أحدكم امرأته كما يضرب البعير أول النهار ثم يضاجعها آخر النهار

"Tidaklah layak seorang muslim memukul, menyakiti istrinya sebagaimana dia memukul unta, kemudian faktanya kalau malam tiba dia menggauli istrinya kembali."

Itu satu perilaku yang tidak sepatutnya dilakukan. Bengis, hilang rasa, baru saja melampiaskan amarah dengan pukulan, kemudian dia mengharapkan layanan. Dia menggaulinya, dia melampiaskan nafsunya kepada wanita tersebut, tentu ini mencerminkan perilaku yang sangat buruk, akhlak yang sangat rendah. 

Mungkin Anda berkata, "Bukankah Nabi tidak pernah marah kepada istrinya? Bukankah beliau adalah orang yang paling sabar, orang yang paling baik akhlaknya?" Iya, betul. Tetapi bukan berarti Nabi tidak pernah marah. 

Nabi pernah marah kepada keluarganya, Nabi pun pernah kecewa dengan keluarganya. Tetapi marahnya, kecewanya, tidak dilampiaskan dengan membabi buta, memukul, menghina, menyakiti, itulah yang disimpulkan oleh Aisyah Radhiyallahu Ta'ala 'anha. Beliau mengatakan:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ بِيَدِهِ قَطُّ لم امْرَأَةً وَلاَ ضَرَبَ ولا خَادِمًا

Nabi tidak pernah memukul dengan tangannya, Nabi tidak pernah menggunakan tangannya untuk memukul seseorang sama sekali, tidak istrinya, tidak budaknya.

Kecuali bila agama Allāh telah dinodai, maka bila beliau mendapat agama Allāh dinodai beliau akan segera bangkit menuntut menegakkan hukum Allāh Subhanahu wa Ta'ala. 

Ketika beliau marah, beliau tidak lepas kontrol, sebagaimana ketika beliau senang beliau juga tidak lepas kontrol. Beliau tetap berada dalam kendali, beliau tetap berada dalam koridor syari’at. 

Ini keteladanan yang seharusnya kita bangun. Sehingga pada saatnya betul-betul kita akan secara natural (alami) hati kita berawal dari kita, hati kita kemudian berlanjut dengan lisan kita. Kita akan berikrar Baiti Jannati (بيتي جنتي). 

Sungguh rumah tangga yang dibangun dengan keteladanan kepada Nabi shallallahu alayhi wa sallam akan menghasilkan rumah tangga yang sangat indah بيتي جنتي (rumahku adalah surgaku). 

Apalagi kalau semuanya itu, rumah tangga itu dibangun dengan nuansa ibadah, apapun yang dilakukan itu tujuannya adalah untuk menegakkan ibadah ihtisab alallah (إحتساب علي الله). 

Ketika suami memberi nafkah, ketika suami bersabar dengan istrinya bukan karena takut, bukan karena dituntut, bukan karena merasa terhina, atau terpaksa, tidak. Semuanya itu karena ibadah. 

Suatu hari Nabi shallallahu alayhi wa sallam bersabda menggambarkan fakta ini, dan ini nyata dalam kehidupan beliau. Bahwa apapun yang engkau berikan kepada istrimu termasuk sesuap makanan yang engkau berikan, 

حتى لقمة تجعلها في فم امرأتك لك بها صدقة 

“Sesuap makanan yang engkau berikan kepada istrimu itu adalah bernilai ibadah yaitu bernilai sedekah.”
 
Sampai pun ketika engkau menggauli istrimu,

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Ketika engkau menggauli istrimu maka itu bernilai ibadah (bernilai sedekah).”

Kenapa? Karena dengan engkau menggauli istrimu, engkau telah membentengi dirimu dari perbuatan zina, dan engkau juga telah membentengi istrimu dari perbuatan zina. 

Subhanallah. Pola pikir yang dibangun begitu indah, andai kita semua mampu meneladani sehingga apapun yang kita lakukan.

Kita duduk di rumah ataupun kita pergi beraktifitas (bekerja), berkarya ataupun kita meladeni istri kita dalam berbicara, bercengkrama, semuanya kita niatkan untuk ibadah kepada Allāh. Niscaya rumah tangga kita betul-betul rumah tangga yang akan harmonis dan aura surga itu akan betul-betul terasa dalam rumah tangga kita. 

Baiti Jannati (بيتي جنتي) Rumahku adalah Surgaku. 

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini, kurang dan lebihnya mohon maaf. 

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Senin, 29 November 2021

Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Sedih Ditimpa Musibah

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _KAMIS_
 | _20 Rabi’ul Akhir 1443H_
 | _25 November 2021M_

🎙 *Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى*
📗 *Fiqih Nikah / Baiti Jannati*

🔈 *Audio ke-004*
📖 *Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Sedih Ditimpa Musibah*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله، والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه و من والاه أمام بعد

Pada kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk sedikit menyelami bagaimanakah Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, memanage (mengendalikan) emosional beliau baik ketika senang ataupun ketika sedih, marah, kecewa ataupun sedang bahagia. 

Karena dengan pengendalian diri inilah keberhasilan dalam mengarungi rumah tangga itu akan terwujud. Ketika mendapatkan kesusahan, musibah mendapatkan hal-hal yang menyakitkan maka kadangkala kita berputus asa.

Kadangkala kita bersedih seakan-akan semua urusan kita telah berakhir, telah tertutup pintu kasih sayang karunia Allāh, akhirnya kita berputus asa, hanyut dalam kesedihan, karenanya seorang suami yang telah Allāh pilih sebagai qowwam, Allāh katakan,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
 [QS An Nisa: 34]

Seorang suami lelaki adalah seorang pemimpin yang bertugas untuk meluruskan. Memimpin kaum wanita yaitu istri-istrinya, karena mereka kaum lelaki memiliki kelebihan dalam urusan harta, mereka menafkahi, mereka memberi mas kawin, dan juga mereka memiliki kelebihan, kekuatan fisik, kekuatan mental, keberanian dan keuletan, mereka memberi nafkah, dan kemudian kaum lelaki juga memiliki kelebihan dalam hal-hal yang lain.

Ketika dalam kondisi musibah kesusahan, lagi-lagi Nabi memberikan keteladanan yang luar biasa kepada keluarganya. Ketika salah seorang putri Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mengirimkan seorang utusan menyampaikan bahwa salah satu putranya meregang nyawa (meninggal dunia) yaitu cucu Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam.

Maka Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam berkata kepada utusan putrinya tersebut, mengatakan,

فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ 
[HR Bukhari 6829, Muslim 1531]

Perintahkan kepada dia, agar dia sabar agar dia tabah dan (تَحْتَسِبْ) memohon pahala kepada Allāh 'Azza wa Jalla.

Beliau tanamkan, musibah bukan untuk diratapi, disesali, karena musibah itu datangnya dari Allāh Azza wa Jalla, semua itu telah berjalan sesuai dengan takdir, untuk apa kita hanyut dalam kesedihan sampai misalnya memukul-mukul badan sendiri, merobek baju, menjerit histeris, atau menganggap bahwa dunia telah kiamat, gelap mata.

Tidak sepatutnya seorang muslim melakukan hal-hal tersebut, karena matinya anak, matinya orang tua, matinya saudara bukan berarti matinya kita.

Tertutupnya pintu rezeki seseorang bukan berarti pintu rezeki kita juga ikut tertutup, berakhirnya hayat seseorang bukan berarti akhir dari kehidupan kita pula. Masing-masing akan menjalani takdirnya, suratan takdirnya.

Sehingga kita harus tetap berada dalam kendali iman, karena Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mengancam wanita-wanita yang lepas kendali ketika mendapatkan musibah, bahwa:

فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ وَالْحَالِقَةِ
[HR Muslim 149]

Bahwa aku berlepas diri dari wanita-wanita yang menggundul kepalanya ketika ditimpa musibah, atau الصَّالِقَةِ atau berteriak-teriak menjerit histeris. 

Kenapa? karena itu tidak mencerminkan iman kepada Allāh 'Azza wa Jalla. Nabi mencontohkan ini kepada keluarganya, mencontohkannya kepada putrinya 

Dalam lain kesempatan ketika putranya yaitu Ibrahim Alaihissalam, putra Nabi shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia. Putra beliau dari budak yang beliau miliki yaitu Mariah al-Qibthiyah, yang diberi nama Ibrahim meninggal dunia. Di saat sakaratul maut menjemput putranya, Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam meneteskan air mata sebagai tanda beliau bersedih

Maka sebagian sahabat bertanya perihal tangisan Nabi tersebut, apalagi sebelumnya mereka telah mendengar bahwa Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mencegah atau melarang mencela wanita-wanita wanita yang صالقة, wanita-wanita yang menggundul rambutnya atau حالقة, صالقة yang berteriak-teriak histeris. 

Dalam riwayat lain nabi juga mencela wanita-wanita (naihah) yang meratapi kematian seseorang. Namun ketika putra beliau meninggal nabi menangis, kemudian beliau berkata,

ﻳَﺎ ﺇﺑﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﻟَﻤَﺤﺰُﻭﻧُﻮﻥَ

Wahai Ibrahim, sungguh perpisahan kita ini sangatlah menyedihkan kita sangatlah bersedih, berduka ketika harus berpisah dengan dirimu. 

Namun ketika ditanya kenapa harus menangis? Nabi menjawab sikap yang benar yang dilakukan seorang muslim ketika mengalami kesedihan kesusahan

إِنَّهَا رَحْمَةٌ
[HR Bukhari 1220]

Wahai tangisan ini adalah implementasi dari kasih sayang seorang ayah. 

Dalam riwayat lain beliau mengatakan,

إن العين لتدمع

Sungguh kedua mata itu bisa saja menangis.

وإن القلب ليحزن
 
Dan sungguh hati itu tersayat-sayat pilu karena sedih.

ﻭَﻻَ ﻧَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﻳُﺮْﺿِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ
 
Namun demikian apapun yang terjadi walaupun mata menangis meneteskan air mata, hati bersedih tidak menjadikan lisan kita sembrono (gegabah) dalam bertutur kata menjerit histeris, tidak.

Tetap saja apapun kondisinya,

لاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا،

Kita tidak bertutur kata kecuali yang diridhai Allāh Subhanahu wa ta'ala, yaitu mengatakan istirja’

اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

Demikianlah sikap seorang muslim. Dinamika rumah tangga yang ada kenikmatan, ada kemudahan, ada kelapangan, ada suka namun juga ada duka, disikapi dengan kendali iman, sehingga apapun yang terjadi rumah tangga akan tetap berada di bawah bimbingan dan naungan agama Allāh 'Azza wa Jalla.

Ini yang kami bisa sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini, kurang dan lebihnya mohon maaf 

وبالله التوفيق و الهداية 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Kamis, 25 November 2021

Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Bahagia

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _RABU_
 | _19 Rabi’ul Akhir 1443H_
 | _24 November 2021M_

🎙 *Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى*
📗 *Fiqih Nikah / Baiti Jannati*

🔈 *Audio ke-003*
📖 *Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Bahagia*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~ 


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله، والصلاة و السلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه أمام بعد

Kembali saya hadir untuk berbincang-bincang dengan Anda merencanakan, menggubah dan juga menyusun bagaimanakah seharusnya rumah tangga kita ini kita bangun, bagaimanakah sepatutnya keteladanan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dapat diwujudkan dalam rumah tangga kita.

Sebagai seorang muslim kita semua percaya beriman, bahwa panutan kita hanya ada satu yaitu Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Bukan hanya dalam hal ibadah, tetapi dalam semua urusan muamalah perniagaan, ataupun hal-hal yang bersifat personal rumah tangga, ataupun dunia urusan kita.

Dalam kehidupan rumah tangga semua orang menyadari dan merasakan pasang surut kehidupan, ada suka ada duka, ada kesepahaman dengan pasangan, ada percekcokan, perselisihan, dan perbedaan. 

Ketika dalam kondisi senang harmonis seiya sekata, maka rumah tangga itu begitu indah. Andai itu terus abadi, andai suasana itu selalu menjadi kenyataan tetapi fakta tidaklah demikian. Pasang surut kehidupan terus terjadi ada suka ada duka, ada kesepahaman, ada perseteruan atau perbedaan. 

Karenanya meneladani Nabi ketika Anda suka senang sedang harmonis perlu dilakukan dan wajib dilakukan agar Anda tidak evoria, agar Anda tidak hanyut dalam suka sehingga Anda lepas kontrol dan lepas kendali akhirnya Anda terjerembab dalam menuruti nafsu, mengekploitasi hawa nafsu yang akan mencelakakan Anda. 

Sebagaimana ketika Anda sedang dalam duka dalam kesusahan, perbedaan, marah, sepatutnya Anda juga meneladani Nabi shallallahu alaihi wa sallam agar amarah Anda dapat terkendali, Anda tidak hanyut dalam nafsu setan karena memang marah itu adalah bisikan setan.

Sampai-sampai nabi menggambarkan bahwa marah itu,

إنَّ الْغَضَبُ مِنَ الشَّيْطَانِ،

Betul-betul sumbernya dari setan. Kemudian Nabi memberikan indikasinya kenapa marah itu datangnya dari setan? Lihatlah mukanya memerah, ototnya menegang, itu adalah bukti bahwa marah itu dari setan. Setanlah yang menjadikan manusia hanyut dalam amarah. 

Namun ketika Anda mampu meneladani Nabi di saat Anda menghadapi suasana masalah yang menyebabkan Anda terpancing untuk marah maka rumah tangga Anda akan selamat.

Pada kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk sedikit menyelami bagaimanakah Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam memanage mengendalikan emosional beliau, baik ketika senang, ataupun ketika sedih, marah, kecewa, ataupun sedang bahagia. Karena dengan pengendalian diri inilah keberhasilan dalam mengarungi rumah tangga itu akan terwujud.

Allāh 'Azza wa Jalla berfirman,

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍ

“Agar kalian tidak berputus asa ketika mengalami kegagalan dan juga tidak evoria hanyut lupa daratan ketika mendapatkan keberhasilan, karena Allāh tidak senang Allah tidak mencintai orang yang مختال membusungkan dadanya فخور menyombongkan dirinya.” [QS Al-Hadid: 23]

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam suatu hari didapatkan oleh Aisyah, shalat yang begitu lama. Dan itu bukan sekali atau dua kali ini adalah suatu hal yang sering dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi sallam. Sampai-sampai kedua kaki beliau bengkak-bengkak saking lamanya beliau berdiri ketika shalat. 

Maka Aisyah radhiyallahu ta’ala anha mempertanyakan sikap Nabi ini mengapa beliau beribadah begitu gigih, beribadah begitu lama, padahal kalau dipikir-pikir dosa beliau telah dijamin akan diampuni. Surga, beliau telah mendapatkan jaminan kepastian bahwa beliau akan mendapatkannya, bahkan mendapatkan surga yang paling tinggi.

Namun untuk apakah beliau beribadah? dalam kondisi inilah, dalam kondisi ketika kita menyadari mendapatkan nikmat keberhasilan, kemudahan, kemuliaan, kedudukan, seorang suami sepatutnya mencontohkan kepada istri menanamkan kepada keluarganya sikap yang benar.

Nabi menanamkan hal ini, mengajarkan hal ini kepada istri beliau Aisyah dengan sabdanya dalam kondisi tersebut beliau bersabda,

أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا. 

Wahai Aisyah, betul apa yang kau katakan, bahwa Allah telah menjamin akan dimasukkan surga, diampuni dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. 

Namun demikian itu semua nikmat, tidaklah pantas tidakkah layak kalau aku menyadari hal itu kemudian aku pandai-pandai bersyukur melipatgandakan syukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla seiring dengan besarnya nikmat maka semakin besar pula implementasi syukur yang harus kita lakukan 

Inilah sebuah keteladanan, kadangkala suami ketika mendapatkan keberhasilan sukses ke kelapangan dalam rezeki, kedudukan yang tinggi, dan lain sebagainya, lupa untuk menanamkan syukur kepada istrinya, yang dia lakukan yang dia ingat adalah bagaimana memanjakan istrinya. Bagaimana menonjolkan keberhasilannya di depan istri.

Lupa untuk menanamkan bahwa nikmat itu bukan untuk ditonjol-tonjolkan, dibangga-banggakan atau sekedar dinikmati, tapi nikmat itu harus disyukuri.

Inilah sebuah keteladanan seorang suami menanamkan kepada istrinya, pentingnya syukur, seiring dengan nikmat yang kita rasakan, seiring dengan bertambahnya karunia yang kita dapatkan, suami terus menanamkan kesyukuran, rasa syukur kepada Allāh 'Azza wa Jalla

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini, kurang dan lebihnya mohon maaf 

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Rabu, 24 November 2021

Muqoddimah (Bagian Kedua)

 🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 SELASA
 | 18 Rabi’ul Akhir 1443H
 | 23 November 2021M

🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati

🔈 Audio ke-02
📖 Muqoddimah (Bagian Kedua)
~•~•~•~•~


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، أَمَّا بَعْد

Meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mengelola dan membina rumah tangga tentu itu adalah satu-satunya cara yang paling efektif agar keluarga kita betul-betul menjadi baiti jannati karena Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam  adalah manusia paling sempurna.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
[Al-Ahzāb: 21]

Sehingga beliau adalah teladan paling istimewa untuk kita ikuti, untuk kita jadikan panutan adalah nabi. Kenapa? karena beliau telah mendapatkan satu apresiasi dari Allah Azza wa jalla bukan dari manusia

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sungguh engkau (Muhammad) betul-betul memiliki, berada dalam akhlak yang sangat agung. [QS Al-Qalam: 4]

Sehingga kesempurnaan akhlak beliau bisa menjadikan beliau seorang figur yang sempurna dalam segala urusan. Pemimpin, pemimpin umat, Rasul, beliau juga sebagai seorang suami, beliau juga sebagai manusia biasa yang bisa marah dan lain sebagainya

Namun dalam segala kondisi beliau senantiasa berada dalam puncak akhlak yang mulia, selalu sukses memposisikan diri dan berinteraksi dengan cara-cara yang terbaik.

Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam sebagai seorang pemimpin, seorang Rasul dan telah lanjut usia, kisaran atau kira-kira berumur lebih dari 50 tahun atau kisaran berumur 55 tahun atau kurang atau lebih sedikit.

Walaupun demikian, beliau memahami bagaimana pola pikir dan bagaimana perilaku seorang istri yang masih muda belia semisal Aisyah radhiyallahu ta’ala anha, dan bagaimana seharusnya seorang suami memperhatikan perasaan istri.

Ketika Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam pulang dari suatu perjalanan peperangan. Di tengah jalan beliau perintahkan para sahabat.

أن تَقَدَّمُوا

“Hendaknya kalian maju duluan.”

Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersama Aisyah berduaan menanti para sahabat berada di tempat yang jauh, maka Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam  menunjukkan sebagai seorang suami yang senantiasa harmonis dalam segala waktu dan dalam segala kondisi.

Beliau berkata kepada Aisyah,

لتسابقني

”Wahai Aisyah engkau harus mau berlomba lari dengan aku.“

Aisyah berkata, "Ya Rasulullah aku sudah gemuk seperti ini".

Maka Nabi mengatakan

لتفعلنّ

”Sungguh engkau harus melakukannya.“

Kita harus lomba lari, maka nabi pun berlomba lari dengan Aisyah, dan ternyata nabi menang, beliau lebih dahulu lebih cepat larinya dibanding Aisyah, kemudian setelah berhasil membuktikan kemenangannya. Beliau mengatakan,

هَذِهِ بِتِلْكَ

“Wahai Aisyah kemenanganku ini adalah tebusan dari kekalahanku dulu ketika kita awal nikah.”

Subhanallah, Nabi tidak pernah berkata, pernikahan kita sudah berumur puluhan tahun, Nabi tidak pernah berkata umurku sudah lanjut, datar-datar saja. Hubungan keharmonisan dalam rumah tangga dibutuhkan siapapun termasuk oleh orang yang sudah lanjut usia kita butuh kepada keharmonisan.

Subhanallah, Nabi tidak pernah melupakan apa yang pernah beliau lalui dari masa-masa yang indah dengan istri-istrinya. Beliau senantiasa kenang seperti dalam kasus ini, “kekalahanku dulu, aku tebus hari ini”.

Subhanallah, Siapa dari kita yang telah berumur pernikahannya lebih dari 10 tahun, pernikahannya telah berumur 20 tahun, namun masih seharmonis Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Siapa dari kita yang umurnya telah menginjak lebih atau kepala 5 namun masih bersendau gurau dengan istrinya lomba lari dengan istrinya.

Nabi tidak merasa sungkan, risih dengan sekian banyak pasukan yang mengetahui. Subhanallah... Itulah keteladanan.

Andai itu ada dalam rumah tangga kita, andai kita bisa melakukan itu dalam rumah tangga kita. Niscaya betul-betul baiti jannati (rumah tanggaku adalah surgaku).

Subhanallah. Di antara secuil (sedikit) dari kisah keteladanan Nabi. Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam  suatu malam pergi ke kuburan Baqi' karena mendapatkan perintah dari Allah Azza wa Jalla agar beliau mendoakan para penghuni kuburan Baqi'.

Aisyah sebagai seorang istri yang masih muda belia cemburu, ia menduga bahwa nabi pergi ke rumah istri yang lain maka Aisyah membuntuti kepergian Nabi. Namun ternyata Nabi tidak pergi ke istri yang lain namun Nabi pergi ke kuburan Baqi mendoakan, memohonkan ampunan untuk para penghuni kuburan Baqi'.

Maka segera Aisyah berpaling dan kemudian bergegas pulang ke rumah. Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam dari kejauhan melihat ada sekelebat hitam yang bergegas lari maka Nabi segera membuntutinya. Setelah Aisyah berhasil masuk ke rumah dan pura-pura tidur. Namun nafas beliau tidak bisa berdusta, terengah-engah.

Maka Nabi berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah engkaukah hitam-hitam yang aku lihat dari kejauhan, sekelebat hitam yang aku lihat dari kejauhan?“

”Betul ya Rasulullah.“

Rasulullah memahami, memotivasi yang menjadikan Aisyah membuntuti langkah Nabi, dia merasa cemburu.

أغرتِ يا عائشة ؟

"Wahai Aisyah apakah engkau cemburu, khawatir kalau aku pergi ke istriku yang lain?"

Maka Aisyah segera berkata,

كيف لا يغارو مثل على مثلك يا رسول الله ؟

“Ya Rasulullah, bagaimana mungkin istri seperti aku ini tidak cemburu, tidak khawatir engkau itu pergi ke istri yang lain.”

Siapa yang tidak cemburu, memiliki suami yang serba sempurna akhlaknya, ketampanannya, keimanannya.

Subhanallah... maka Nabi kemudian menjelaskan bahwa sejatinya tadi bahwa  Malaikat Jibril memanggilku dari luar rumah. Dia tidak mungkin masuk ke rumah karena aku telah berada dalam satu selimut denganmu. Maka dia memanggil dari luar rumah dan memerintahkan aku agar aku memohonkan ampunan teruntuk penghuni kuburan Baqi, maka aku pun pergi.

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan penjelasan (wejangan) kepada istrinya yang tidak sepatutnya mudah dibakar oleh rasa cemburu,

أو قد جائت الشيطان يا عئشة؟
 
=”Wahai Aisyah Apakah engkau telah kedatangan kembali setanmu, apakah engkau telah kedatangan kembali oleh setan، setanmu telah datang kembali, sehingga engkau itu hanyut terbakar oleh rasa cemburu.

Kemudian Aisyah berkata,

يا رسول الله أو معي الشيطان؟

“Apakah aku ini diikuti terus oleh setan?”

Nabi mengatakan, “Bala (بلا), betul, setiap manusia itu ada qorin, ada pendampingnya yang terus mengikutinya yaitu dari setan, yang satu qarin dari kalangan para malaikat.

Aisyah kembali bertanya, "Wahai Rasulullah  bagaimana dengan dirimu, apakah engkau juga diikuti oleh qarin dari setan?"

Nabi mengatakan, “Ya, aku pun senantiasa dikintil (diikuti) oleh setan, namun bedanya Allah telah membantu aku sehingga setan yang senantiasa membuntuti aku itu telah masuk islam sehingga.”

فَلا يَأْمُرنِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

Sehingga dia tidak pernah membisikkan aku kecuali dengan kebaikan.

Subhanallah .... cermatilah Nabi ketika mengetahui istrinya mulai terbakar oleh rasa cemburu, hanyut dalam badai cemburu, Nabi tidak murka, Nabi tidak marah. Nabi berusaha menyelamatkan istrinya dari badai cemburu tersebut dengan menjelaskan bahwa cemburu buta itu datangnya dari setan.

Pikiran-pikiran negatif yang terbetik pada pikiran seorang istri atau suami yang senantiasa berpikir negatif atau kadangkala berfikir negatif su’udhon, curiga kepada suami ataupun istri itu sejatinya adalah bisikan setan.

Sehingga sepatutnya kita waspada, kita senantiasa ingat bahwa pikiran negatif yang tendensinya adalah cemburu itu adalah bisikan setan yang seharusnya dilawan.

Pertama, kita memohon perlindungan kepada Allāh, agar tidak hanyut dalam cemburu buta tersebut.

Dan yang kedua, ada satu pelajaran penting bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang tidak cemburu. Siapapun dari kita pasti cemburu, kenapa? Karena cemburu buta itu adalah bisikan setan yang berkepentingan untuk merusak rumah tangga kita.

Karena itu satu-satunya obat untuk mengobati cemburu buta adalah memohon perlindungan kepada Allah

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ نَزْغٌۭ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ

Kalau engkau mulai digoda oleh setan maka obatnya hanya ada satu, memohon perlindungan dari Allah. [QS Fusshilat: 36]

Ini pelajaran penting bagi kita bahwa tidak ada satu orangpun dari kita yang tidak dirundung, tidak terkena badai cemburu buta. Semua kita merasakan cemburu buta namun hanya orang-orang yang senantiasa berlindung kepada Allah dari godaan setan, hanya merekalah yang bisa selamat dari cemburu buta yang mengancam keutuhan rumah tangga kita

Ini sekelumit dari keteladanan Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam sebagai seorang suami, yang juga sebagai seorang Uswah Rasul (teladan) kita semua dalam mengarungi mahligai rumah tangga.

Semoga apa yang disampaikan menjadikan keluarga kita betul-betul baiti jannati (Rumah tanggaku adalah Surgaku)

و السلام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•