🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
▪🗓 KAMIS
| 04 Jumadil Awwal 1443H
| 09 Desember 2021M
🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati
🔈 Audio ke-14
📖 Hukum Pernikahan (Bagian Kedua)
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد
Kalau kita kembali kepada referensi-referensi fiqih, kita akan dapatkan kontroversi, perselisihan pendapat, persilangan pendapat di kalangan para ulama.
Ada yang menyatakan bahwa pernikahan itu hukumnya mubah, karena substansi dari pernikahan itu hanyalah melampiaskan nafsu, bagaikan makan, bagaikan minum, bagaikan tidur. Sebagaimana makan dan minum itu mubah, sebagaimana tidur itu mubah, demikian pula pernikahan.
Karena inti dari semua itu hanyalah melampiaskan nafsu, melampiaskan hasrat, sebagaimana Anda berhasrat untuk makan, Anda juga berhasrat untuk berhubung badan. Sebagaimana makan dan minum itu mubah, maka berhubungan badan melalui prosesi pernikahan itu juga mubah. Demikian logika sebagian ulama.
Sebagian ulama lagi mengatakan tidak, pernikahan itu sunnah bagi semua orang, baik pemuda tua yang sudah menikah ataupun yang belum menikah, semuanya sunnah.
Kenapa? Karena dengan jelas Nabi menyatakan bahwa pernikahan itu adalah sunnah, itu adalah tuntunan Nabi. Maka berarti menikah itu sunnah hukumnya.
Sebagian lagi berkata tidak demikian, pernikahan itu bahkan hukumnya wajib. Kenapa demikian? Karena, kalau Anda tidak menikah maka sangat dimungkinkan Anda terjerumus dalam perzinaan, karena melawan kebutuhan biologis itu sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia.
Sebagaimana Anda tidak akan pernah kuasa melawan kantuk, Anda pasti tidur. Anda juga tidak akan kuasa melawan rasa lapar dan dahaga, cepat atau lambat kalau Anda paksakan tidak makan dan tidak minum Anda akan binasa.
Kalau Anda ingin tetap bertahan hidup, Anda harus makan dan minum, sebagaimana halnya dengan kebutuhan biologis Anda yang satu ini yaitu kebutuhan akan melampiaskan nafsu birahi Anda.
Anda tidak akan kuasa menahannya terus menerus. Mungkin sesaat mungkin dalam satu kondisi Anda mampu, tapi untuk seterusnya tidak. Anda cepat atau lambat akan terkalahkan dan akan terjerumus dalam perbuatan dosa.
Dengan kata lain untuk Anda bisa terhindar dari perbuatan zina, untuk Anda bisa terhindar dari perbuatan maksiat melampiaskan nafsu birahi dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, dengan cara-cara yang menyimpang dari aturan syariat. Tidak ada cara lain kecuali dengan cara menikah, karena Allah Subhānahu wa Ta'āla telah berfirman:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَـٰفِظُونَ ۞ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ
Dan orang-orang yang senatiasa menjaga kemaluan mereka, kecuali dari istri-istri mereka atau pun budak-budak (hamba sahaya) yang mereka miliki. Tatkala mereka melampiaskan nafsunya kepada istri atau pun kepada budak (hamba sahayanya) maka mereka tidaklah tercela." [QS Al-Mukminun: 5-6]
Alias ketika Anda melampiaskannya dengan cara-cara lain, tidak dengan cara menikah, tidak dengan cara melampiaskan kepada budak (hamba sahaya) Anda, sudah bisa dipastikan Anda akan terjerumus dalam perbuatan dosa yaitu zina.
أعاذنا الله وإياكم
Dan karena perbuatan zina tidak mungkin bisa dihindari kecuali dengan cara menikah maka sebagian ulama menyimpulkan, berarti pernikahan itu wajib hukumnya. Kenapa demikian? Karena:
ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب و ما لَا يتم ترك الحرم الا به و هو واجب
Meninggalkan zina itu hukumnya wajib, dan untuk bisa meninggalkan zina, tidak mungkin bisa Anda lakukan secara continue (terus menerus) kecuali dengan cara menikah, dengan cara melampiaskan nafsu birahi Anda dengan menikah.
Maka berarti kesimpulannya menikah itu hukumnya wajib, sebagaimana melakukan zina itu haram, dan untuk meninggalkan yang haram ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan cara menikah. Berarti menikah adalah sarana yang paling efektif atau sarana yang efektif untuk bisa membendung diri Anda dari perbuatan zina. Maka hukumnya wajib.
Namun demikian tentu kalau kita renungkan dengan baik, kita analisa kembali berbagai pendapat di atas, berbagai dalil yang mereka utarakan niscaya dalil-dalil yang mereka utarakan tersebut sejatinya tidak saling beradu, tidak saling bertentangan bahkan saling melengkapi.
Karenanya sebagian ulama sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah dan yang lainnya, menyimpulkan bahwa seharusnya yang kita lakukan bukan memperadukan dalil-dalil ini, tetapi mengkombinasikannya, menyinkronkan semua dalil ini untuk bisa kita lakukan, untuk bisa kita kompromikan sehingga menghasilkan satu kesimpulan hukum yang lebih akurat.
Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf kepada Anda, di manapun Anda berada.
Dan sebagai penutup,
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك.
Sampai jumpa di lain kesempatan.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•
Kamis, 23 Desember 2021
Hukum Pernikahan (Bagian Kedua)
Rabu, 22 Desember 2021
Hukum Pernikahan (Bagian Pertama)
🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
▪🗓 RABU
| 03 Jumadil Awwal 1443H
| 08 Desember 2021M
🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati
🔈 Audio ke-13
📖 Hukum Pernikahan (Bagian Pertama)
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد
Alhamdulillah kembali saya hadir ke tengah ruang siar Anda untuk bersama-sama,
فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ الله
Guna mewujudkan mimpi kita semua yaitu, "Baiti Jannati (Rumahku adalah Surgaku)".
Rumahku adalah Surga duniaku sebelum aku kelak dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala masuk ke dalam Surga di akhirat.
Berbicara tentang pernikahan, satu pertanyaan yang sepatutnya Anda jawab dan kita jawab bersama, sebelum kita melangkah lebih jauh dengan menikah dan membangun rumah tangga.
Apa hukumnya menikah bagi diri saya?
Mungkin Anda telah mendengar, mungkin Anda telah mempelajari tentang hukum pernikahan secara umum dan Anda juga mungkin sering mendengar dan menghadiri langsung prosesi-prosesi pernikahan, walimah-walimahan yang di sana disampaikan ceramah-ceramah umum, mauizhah-mauizhah, ataupun nasihat-nasihat.
Dan tentunya sebagaimana itu yang saya alami, ketika kita menikah, atau kita menghadiri acara-acara semacam itu, seringkali terbetik dalam diri kita ingin menikah tetapi di saat yang sama pertanyaan lain segera datang dan berkata: "Apakah hukumnya menikah bagi saya, wajibkah, sunnahkah, mubahkah atau bahkan bisa jadi haram?".
Karena tentu pernikahan itu bukanlah satu ritual, satu aktifitas yang suka-suka Anda lakukan, karena pernikahan itu adalah menjalankan tuntunan syari'at. Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam suatu hari, ketika mendapatkan satu fenomena unik di sebagian sahabatnya di mana sebagian pemuda.
Sekali lagi sebagian pemuda dari sahabat beliau bertekad untuk tidak menikah dengan alasan bahwa menikah itu akan menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allāh, sedangkan kita diciptakan di dunia ini, kita hadir di dunia ini dalam rangka menegakkan 'ubudiyyah kepada Allāh.
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menegakkan ibadah kepada-Ku." (kata Allah) [QS Adh-Dhariyat: 56]
Sebagian pemuda tersebut berpikir bahwa menikah itu akan menyita banyak tenaga, waktu, pikiran sehingga konsentrasi kita beribadah kepada Allāh akan tersita. Maka dia bertekad untuk tidak menikah, apapun risikonya.
Dia sadar bahwa dia butuh, dia punya nafsu, punya syahwat, namun dia bertekad untuk mengendalikan bahkan mengalahkan nafsu tersebut agar dia bisa maksimal beribadah kepada Allah. Itu cara pandang beliau.
Tapi Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, beliau diutus dengan دِيْن الْحَنِيفِيَّةُ agama yang moderat, agama yang tengah-tengah, tidak ekstrem kanan ataupun ekstrem kiri.
Mengetahui gejala yang tidak sehat ini, beliau segera mencari pemuda tersebut dan berusaha meluruskan cara pandangnya. Bahwa pernikahan itu tidak sepatutnya diperadukan dengan ibadah kepada Allah.
Kenapa? Karena pernikahan bagian dari perintah Allah, pernikahan bagian dari syariat Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam yang bila kita lakukan dengan benar itu akan menjadi ibadah tersendiri, bukan hanya shalat, puasa, haji atau berdzikir tapi menikahpun menjadi ibadah.
Beliau berkata kepada pemuda tersebut:
أَنْت الَّذِي قُلْت كَذَا وَكَذَا
"Engkaukah yang berkata demikian dan demikian?"
Ingin mengoptimalkan waktunya untuk beribadah puasa di siang hari dan shalat di malam hari.
Pemuda tersebut pun mengakuinya dan kemudian Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam meluruskan cara pandang pemuda tersebut, bahwa semangat beribadah tidak sepatutnya mengabaikan pernikahan, karena pernikahan adalah bagian dari ibadah.
Beliau mengatakan:
وَالَّذِي نَفْسِي بيَدِهِ
"Sungguh demi Allah, yang jiwaku ada di dalam genggaman-Nya."
إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ ووَأَتْقَاكُمْ لَهُ
"Sungguh aku adalah orang yang paling khasyah, paling takut dan paling bertakwa kepada Allah dibandingkan kalian semua, walau demikian kesempurnaan takwa, kesempurnaan khasyah yang aku miliki tidak menjadikan aku terhalangi dari makan dan minum, tidur, dan juga dari menikahi wanita."
Kemudian Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam menyatakan:
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ
"Inilah tuntunanku, inilah ajaranku, inilah syariatku."
Sehingga siapapun yang berusaha memperadukan antara ibadah kepada Allah dengan menikah, dengan memenuhi hak biologis dirinya maka itu, فَلَيْسَ مِنِّيْ.
Kata Nabi: Dia tidaklah termasuk dari umatku, dia tidak sedang menjalankan tuntunanku.
Karenanya wajar dan juga seharusnya Anda senantiasa berkata dan bertanya kepada diri Anda agar Anda tidak salah langkah.
Apakah hukum pernikahan bagi saya?
Apakah mubah, sunnah, atau bahkan bisa jadi wajib?
Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf kepada Anda, di manapun Anda berada dan sebagai penutup.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
Sampai jumpa di lain kesempatan.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•
Kamis, 16 Desember 2021
Tujuan & Manfaat Pernikahan (Bagian Ketiga)
Rabu, 15 Desember 2021
Tujuan & Manfaat Pernikahan (Bagian Kedua)
Selasa, 14 Desember 2021
Tujuan & Manfaat Pernikahan (Bagian Pertama)
Senin, 13 Desember 2021
Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Keempat)
Jumat, 10 Desember 2021
Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Ketiga)
🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
▪🗓 RABU
| 26 Rabi’ul Akhir 1443H
| 01 Desember 2021M
🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati
🔈 Audio ke-008
📖 Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Ketiga)
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد
Allāh dalam Al-Qur'an menggambarkan bagaimana visi satu rumah tangga yang istimewa, yang luar biasa.
Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam. Nabi Ibrahim yang menikah dengan Sarah, telah sekian lama sekian puluh tahun tidak dikaruniai anak keturunan. Maka Sarah kemudian mengizinkan suami yaitu Nabi Ibrahim untuk menikahi budaknya yang bernama Hajar.
Dan segeralah Hajar setelah menikah dengan Nabi Ibrahim, Hajar segera hamil dan kemudian melahirkan seorang anak yang diberi nama Ismail.
Seorang suami, seorang ayah, seorang suami yang telah merindukan hadirnya buah hati anak keturunan. Kemudian anak tersebut betul-betul lahir ke dunia dengan selamat. Seorang anak yang tampan rupawan. Wajar, di dalam hatinya ada benih-benih cinta, rasa bangga rasa senang bagaikan oase di tengah hamparan padang pasir yang tak bertepi. Penantian panjang akhirnya datang anak keturunan.
Padahal Nabi Ibrahim telah mengikrarkan dalam dirinya bahwa dia hanya cinta kepada Allāh. Dia telah dipilih oleh Allāh, diberi karunia sebagai khalilurrahman atau khalilullah (Kekasih Allāh) sehingga tidak pantas, tidak patut di dalam jiwanya, di dalam hatinya ada rasa cinta kepada selain Allāh. Maka Allāh uji keluarga tersebut.
Nabi Ibrahim diuji untuk membawa Hajar beserta anaknya yang masih kecil, masih bayi merah untuk diletakkan di sisi Ka'bah (di lembah Mekkah) atau yang kala itu dikenal dengan lembah qaran (yang tak bertepi). Yang tidak bertuan, tidak ada penghuni, tidak ada tanaman, gersang, tandus, tidak ada sumber-sumber kehidupan.
Namun, Nabi Ibrahim sebagai seorang khalil. Yang hanya cinta dan patuh tunduk kepada Allāh. Diapun patuh atas perintah Allāh ini. Dia tidak membantah, dia tidak menunda, menganalisa atau bermusyawarah. Dia segera jalankan.
Setibanya di lembah Mekkah, di sisi Ka'bah segera Beliau letakkan putranya. Beliau tinggalkan istrinya Hajar dan Beliau segera bergegas pergi karena memang perintahnya hanya meletakkan putranya di sana tanpa harus berpesan atau tanpa harus membangun perumahan di sana. Menanti datangnya atau mengundang orang. Dia hanya diperintahkan untuk meletakkan putranya di sana beserta ibunya.
Ketika Nabi Ibrahim beranjak pergi, Hajar bertanya,
يا ابراهيم ، إلى من تدركن ؟
”Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau titipkan kami di sini?“
Lembah yang tidak bertuan. Lembah yang tidak ada sumber kehidupan. Nabi Ibrahim tetap bergegas, berjalan tanpa memperdulikan pertanyaan istrinya.
Hajar mengira mungkin Nabi Ibrahim kurang mendengar. Suaranya mungkin kabur oleh terpaan angin. Dia ulang lagi, dengan suara yang lebih lantang. Dengan suara yang lebih jelas.
يا ابراهيم ، إلى من تدركن ؟
”Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau titipkan kami di sini?“
Nabi Ibrahim tetap bergegas tanpa menggubris pertanyaan istrinya. Hajar Alaihissalam yang telah hidup di dalam keluarga Nabi sekian lama dan dia telah mendapatkan karunia sebagai Istri seorang Nabi, bahkan khalilullah. Sadar bahwa pertanyaan itu tidak layak muncul dari seorang muslimah yang beriman kepada Nabi, yang tidak berkata-kata atas dasar nafsu, yang dia jalankan hanya adalah wahyu.
Sehingga pertanyaan mengapa, bagaimana, kepada siapa, tidak layak muncul dalam keluarga seorang muslim dan muslimah, seorang mukmin dan mukminah.
Maka Hajar merubah sikapnya. Meralat kesalahannya. Sehingga dari lisannya muncul pertanyaan yang benar. Satu-satunya pertanyaan yang hanya boleh muncul dari seorang muslim dan mukminah.
أ الله امرك بهذا ؟
”Wahai Ibrahim, apakah Allāh yang memerintahkan engkau melakukan ini?“
Inilah pertanyaan yang benar, yang seharusnya muncul dari keluarga yang muslim atau muslimah. Memastikan bahwa ini adalah perintah Allāh. Ketika pertanyaan itu betul, maka Nabi Ibrahim menoleh dan menjawab,
بلى
”Betul.“
Kemudian Nabi Ibrahim tidak banyak berkomentar, tidak perlu untuk banyak menjelaskan. Karena Nabi Ibrahim telah mendidik istrinya dengan pendidikan yang shalih. Sehingga ia (Hajar) langsung paham dan mengetahui apa konsekuensi jawaban suaminya bahwa ini adalah perintah Allāh. Sehingga Hajar segera menimpali jawaban suaminya dengan menunjukkan kepastian iman, kekokohan, ketangguhan iman. Hajar berkata,
إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا الله
“Kalau ini adalah perintah Allāh, Allāh tidak mungkin mencelakakan kita. Allāh tidak mungkin menyia-nyiakan kita.”
Subhanallah. Nabi Ibrahim terus bergegas pergi sampai pada satu tempat yang dia yakini Hajar tidak lagi bisa melihat dirinya. Dia tidak lupa untuk memohon kepada Allāh,
رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” [QS Ibrahim: 37]
Subhanallah. Doa seorang Nabi, seorang suami, seorang ayah, yang betul-betul beriman mencerminkan keinginan.
Ya Allāh, Wahai Rabb, Wahai Tuhanku. Aku telah meletakkan anak keturunanku di satu lembah yang tidak ada tanamannya. Artinya tidak ada sumber kehidupan di sana. Tapi aku lakukan karena aku yakin sumber kehidupan itu datangnya dari Engkau.
Walaupun tidak ada tanaman, mereka akan bisa bertahan hidup. Karena kehidupan itu datangnya dari Engkau. Aku letakkan di sana bukan agar mereka bercocok tanam, agar mereka memiliki ladang yang luas. Tidak.
لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ
Aku letakkan di sana, misiku satu, yaitu agar mereka menjadi orang-orang yang rajin menunaikan shalat. Beribadah hanya kepadaMu. Bukan karena aku meyakini Mekkah itu subur, sumber kehidupan, prospek masa depan. Tidak.
Aku letakkan di sana agar mereka menjadi orang yang rajin menegakkan shalat. Kenapa dengan shalat? Karena diletakkan di sisi puing-puing Ka'bah. Di sanalah tempat shalat ditegakkan. Di sanalah pusat ibadah shalat itu dijalankan. Di sanalah semua orang shalat itu menghadap.
Maka tatkala anak diletakkan di tempat ibadah, di dekat rumah Allāh. Maka visi seorang ayah yang shalih mengatakan, visi pertamanya rajin shalat. Subhanallah. Itu doa Nabi Ibrahim.
Nabi Ibrahim tidak berkata, “Ya Allāh aku letakkan anakku di tanah yang subur, jadikan usahanya sukses, dagangannya lancar, pertaniannya sukses.” Tidak.
Di lembah yang tidak ada tanaman, bahkan tidak cocok untuk bercocok tanam, tapi tempat tersebut adalah tempat untuk menegakkan shalat. Pusatnya orang shalat adalah di Ka'bah. Maka aku letakkan di sana agar mereka shalat.
Urusan rezeki, aku tidak perlu khawatir, aku tidak perlu risaukan. Karena kalau Engkau sudah cinta kepada mereka, Ya Allāh, kalau mereka sudah menjalankan ibadah kepadaMu dengan benar, urusan rezeki tidak usah diminta. Pasti Engkau beri. Tidak usah di nanti pasti akan disampaikan.
Kenapa? Karena Allāh telah berikrar. Dan ikrar ini telah disampaikan kepada semua Nabi, kepada semua orang yang shalih.
نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ
“Kamilah yang memberi rezeki kepada kalian.” [QS Al-Isra': 31]
Sehingga tidak perlu risau, tidak perlu galau, tidak perlu takut. Asalkan apa?
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Asalkan kita menjalankan fungsi hidup kita. Menjalankan visi hidup kita. Yaitu apa? Beribadah kepada Allāh. Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
“Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menegakkan ibadah kepada Ku” [QS Adz-Dzariyat: 56]
مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ
“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” [QS Adz-Dzariyat: 57]
Aku tidak mengharapkan mereka mengumpulkan rezeki, atau mereka mengumpulkan makanan atau api.
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ
“Karena sejatinya si pemberi rizki, yang memberi rizki itu adalah Allāh.”
ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ
“Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa.” [QS Adz-Dzariyat: 58]
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا
Kata Allāh, “Wahai Muhammad, perintahkan keluargamu untuk menegakkan shalat “.
وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan sabarlah, tabah dalam menegakkan shalat tersebut.”
لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا
“Karena Kami tidak akan meminta rezeki kepada kalian.” [QS Thaha: 132]
Jangan khawatir dengan shalat, kalian sibuk tidak sempat bekerja, tidak perlu khawatir. Karena apa?
نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ
“Karena dengan engkau rajin menegakkan shalat, Kami akan jamin rejeki.”
Itu yang terjadi, itu yang tersirat dari doa Nabi Ibrahim. Sehingga, Subhanallah. Dengan ketulusan dan keimanan Nabi Ibrahim, kekuatan tawakal Nabi Ibrahim.
Allāh tunjukkan, Allāh buktikan bahwa Ismail dan istri Nabi Ibrahim yang secara logika hitung-hitungan manusia mungkin akan segera binasa, kekeringan, kehausan, dehidrasi, atau mungkin diterkam oleh binatang buas, tapi tidak terjadi itu semua.
Kenapa? Karena Nabi Ibrahim telah menitipkan keluarganya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Nabi Ibrahim meletakkan keluarganya di Mekkah dalam rangka menjalankan perintah Allāh atas perintah Allāh, bukan karena kesemena-menaan, atau kerakusan, atau visi dunia, tidak.
Maka Allāh pun selamatkan mereka. Allāh melindungi mereka dan bahkan Allāh tunjukkan kepada dunia bahwa Allāh Kuasa menyelamatkan hambanya yang taat, hambanya yang patuh.
مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Dengan cara yang tidak diduga-duga.” [QS At-Talaq: 3]
Siapa dari kita yang menduga bahwa dari hentakkan kaki Nabi Ismail yang masih merah (bayi) mampu menjadikan air zam-zam memancar. Subhanallah. Sampai-sampai Nabi kita Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
رَحِمَهُ اللهُ أُمَّ إِسْمَاعِيْلَ لَوْ لَهَا لَكَنَا زَمْزَمَ عَيْنًا مَعِيْنًا
“Semoga Allāh merahmati ibunya Nabi Ismail. Andai bukan pekerjaan dia, andai bukan dia, niscaya zam-zam itu akan menjadi sungai yang mengalir.” [HR Bukhari 3364 dan 3365]
Kenapa? Pertama kali zam-zam memancar dari kaki Nabi Ismail, Hajar berkata,
زُمْزُمْ
“Berkumpullah air, janganlah mengalir, berkumpullah air, di sini jangan pergi.”
زُمْزُمْ
“Berkumpullah-berkumpullah.”
Maka zam-zam itu, sebesar apapun sumbernya, sederas apapun airnya keluar dari sumber, dia tidak bisa mengalir, tidak bisa tumpah dan kemudian menyebabkan banjir.
Subhanallah, Allāh beri rejeki, Allāh beri pertolongan dari jalan yang tidak di duga-duga. Itu seperti implementasi bahwa,
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ
“Siapapun yang bertakwa kepada Allāh.”
يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا
“Allāh pasti beri jalan keluar untuk problematikanya.” [QS At-Talaq: 2]
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Dan Allāh beri dia rejeki dari jalur yang dia tidak duga-duga.” [QS At-Talaq: 3]
Siapa yang menduga bahwa Ismail mampu menggetarkan bumi dan akhirnya menjadikan bumi mengeluarkan air yang memancar. Siapa yang menduga bahwa Hajar dan Ismail mampu bertahan hidup di lembah yang gersang semacam itu. Subhanallah.
Dan mengapa Nabi Ibrahim tega melakukan semua itu? Itu untuk menjadi pelajaran bagi kita bahwa dengan tawakkal, kalau kita menjalankan perintah, seburuk apapun kondisinya, segenting apapun suasananya, Allāh tidak akan pernah membiarkan, Allāh tidak akan pernah mencelakakan, membiarkan hambaNya celaka.
Seperti yang diikrarkan oleh Hajar,
إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا الله
Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan sebagai penutup,
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
Sampai jumpa di lain kesempatan.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•
Rabu, 08 Desember 2021
Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Kedua)
Selasa, 07 Desember 2021
Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Pertama)
🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
▪🗓 SENIN
| 24 Rabi’ul Akhir 1443H
| 29 November 2021M
🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati
🔈 Audio ke-006
📖 Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Pertama)
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد
Kehidupan rumah tangga yang dialami atau dijalani oleh masing-masing kita pasti ada arah dan tujuan. Sebagian kita mungkin memiliki orientasi untuk mengantarkan keluarga ini menjadi keluarga yang kaya-raya penuh dengan fasilitas, kesenangan, dan kemewahan.
Bisa jadi dari sebagian kita punya orientasi pendidikan, ingin menjadikan keluarga ini adalah keluarga yang terpelajar, memiliki titel akademik yang tinggi. Bisa pula ada dari kita yang memiliki orientasi sosial agar suami dan istri memiliki karier sosial yang tinggi, anak-anak pun kelak agar memiliki status sosial yang terpandang.
Namun saya yakin, masing-masing kita memiliki orientasi yang lebih mulia dari semua ini. Membangun rumah tangga bukan untuk mengumpulkan harta kekayaan, karena apalah arti kekayaan, apalah arti harta bagi rumah tangga kita kalau ternyata harta itu hanya menjadi biang datangnya petaka.
Allāh Subhanahu wa Ta'ala telah kisahkan dalam Al-Qur'an kisah keluarga yang dengan hartanya mereka celaka. Allāh ceritakan kisah Qarun seorang yang kaya raya. Allāh juga kisahkan bagaimana Abu Lahab keluarganya menyeret ke dalam kekufuran sehingga Allāh katakan:
مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ
"Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan." [QS Al-Masad: 2]
Apalah artinya harta dan apa yang dia dapatkan semasa hidupnya kalau ternyata Abu Lahab beserta keluarganya kelak akan masuk dalam neraka yang ذَاتَ لَهَبٖ neraka yang apinya berkobar-kobar.
Dalam Al-Qur'an Allāh juga kisahkan, kisah seorang raja yang memiliki orientasi kekuasaan, keluarga yang orientasinya membangun kejayaan. Fir’aun, ia membangun kerajaan, kekuasaan dengan segala cara yang dia punya, harta yang dia kerahkan, pasukan yang dia miliki, semuanya adalah untuk membangun kekuasaan.
Namun ternyata subhanallah, kekuasaan dia mendatangkan petaka, celaka bagi dia, bahkan Allāh telah kondisikan sedemikian rupa, bahwa kehancuran Fir'aun datangnya dari anak angkatnya yaitu Nabi Musa alayhisallam.
Di tengah keluarga yang penuh dengan kemaksiatan, kekafiran, keangkaramurkaan, namun ternyata subhanallah ketika visi misi keluarga itu tidak sejalan. Istri Fir'aun memiliki visi yang benar, yang shalih, menjadi wanita yang shalihah, maka tatkala Nabi Musa menyeru, berdakwah kepada Allāh.
Istrinya Fir'aun masuk Islam, menerima hidayah dan membela kebenaran walaupun suami tidak sejalan. Sehingga kisah perjuangan istri Fir'aun mempertahankan eksistensi keislamannya Allāh abadikan dalam Al-Qur’an.
وٱمْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَ
[QS At-Tahrim: 11]
Dan ingatlah kisah istri Fir'aun tatkala dia terus menerus berdoa kepada Allāh dia terjerembab, dia terperangkap dalam rumah tangga yang tidak harmonis, rumah tangga yang tidak Islami, rumah tangga yang tidak mengantarkan kepada ketaatan, kepada keimanan, tapi rumah tangga yang mengantarkan kepada kekufuran, keangkara murkaan kesewenang-wenangan. Karena dia berada di bawah kepemimpinan seorang suami yang kafir dan angkara murka.
Namun itu tidak menghalangi istri Fir'aun untuk menjalankan nilai-nilai keimanan dia, memperjuangkan eksistensi keimanan dia, sehingga dia terus dengan tulus berdoa kepada Allāh:
رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ
Ya Allāh aku akan kehilangan, aku akan segera kehilangan istana di dunia ini karena aku berseberangan dengan suami yaitu Fir'aun pemilik istana dunia, maka gantikanlah dengan apa?
بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ
Istana di dalam surga
وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِه
Dan lindungi aku, selamatkan aku dari kejahatan Fir'aun dan juga kejahatan perilaku Fir'aun (ulahnya Fir'aun).
Subhanallah, ini adalah potret istri yang memiliki visi sebagai seorang wanita muslimah.
Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan sebagai penutup,
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
Sampai jumpa di lain kesempatan.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•
Rabu, 01 Desember 2021
Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Perselisihan dan lainnya
Senin, 29 November 2021
Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Sedih Ditimpa Musibah
Kamis, 25 November 2021
Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Bahagia
Rabu, 24 November 2021
Muqoddimah (Bagian Kedua)
🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
▪🗓 SELASA
| 18 Rabi’ul Akhir 1443H
| 23 November 2021M
🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati
🔈 Audio ke-02
📖 Muqoddimah (Bagian Kedua)
~•~•~•~•~
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، أَمَّا بَعْد
Meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mengelola dan membina rumah tangga tentu itu adalah satu-satunya cara yang paling efektif agar keluarga kita betul-betul menjadi baiti jannati karena Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam adalah manusia paling sempurna.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
[Al-Ahzāb: 21]
Sehingga beliau adalah teladan paling istimewa untuk kita ikuti, untuk kita jadikan panutan adalah nabi. Kenapa? karena beliau telah mendapatkan satu apresiasi dari Allah Azza wa jalla bukan dari manusia
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Sungguh engkau (Muhammad) betul-betul memiliki, berada dalam akhlak yang sangat agung. [QS Al-Qalam: 4]
Sehingga kesempurnaan akhlak beliau bisa menjadikan beliau seorang figur yang sempurna dalam segala urusan. Pemimpin, pemimpin umat, Rasul, beliau juga sebagai seorang suami, beliau juga sebagai manusia biasa yang bisa marah dan lain sebagainya
Namun dalam segala kondisi beliau senantiasa berada dalam puncak akhlak yang mulia, selalu sukses memposisikan diri dan berinteraksi dengan cara-cara yang terbaik.
Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam sebagai seorang pemimpin, seorang Rasul dan telah lanjut usia, kisaran atau kira-kira berumur lebih dari 50 tahun atau kisaran berumur 55 tahun atau kurang atau lebih sedikit.
Walaupun demikian, beliau memahami bagaimana pola pikir dan bagaimana perilaku seorang istri yang masih muda belia semisal Aisyah radhiyallahu ta’ala anha, dan bagaimana seharusnya seorang suami memperhatikan perasaan istri.
Ketika Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam pulang dari suatu perjalanan peperangan. Di tengah jalan beliau perintahkan para sahabat.
أن تَقَدَّمُوا
“Hendaknya kalian maju duluan.”
Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersama Aisyah berduaan menanti para sahabat berada di tempat yang jauh, maka Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam menunjukkan sebagai seorang suami yang senantiasa harmonis dalam segala waktu dan dalam segala kondisi.
Beliau berkata kepada Aisyah,
لتسابقني
”Wahai Aisyah engkau harus mau berlomba lari dengan aku.“
Aisyah berkata, "Ya Rasulullah aku sudah gemuk seperti ini".
Maka Nabi mengatakan
لتفعلنّ
”Sungguh engkau harus melakukannya.“
Kita harus lomba lari, maka nabi pun berlomba lari dengan Aisyah, dan ternyata nabi menang, beliau lebih dahulu lebih cepat larinya dibanding Aisyah, kemudian setelah berhasil membuktikan kemenangannya. Beliau mengatakan,
هَذِهِ بِتِلْكَ
“Wahai Aisyah kemenanganku ini adalah tebusan dari kekalahanku dulu ketika kita awal nikah.”
Subhanallah, Nabi tidak pernah berkata, pernikahan kita sudah berumur puluhan tahun, Nabi tidak pernah berkata umurku sudah lanjut, datar-datar saja. Hubungan keharmonisan dalam rumah tangga dibutuhkan siapapun termasuk oleh orang yang sudah lanjut usia kita butuh kepada keharmonisan.
Subhanallah, Nabi tidak pernah melupakan apa yang pernah beliau lalui dari masa-masa yang indah dengan istri-istrinya. Beliau senantiasa kenang seperti dalam kasus ini, “kekalahanku dulu, aku tebus hari ini”.
Subhanallah, Siapa dari kita yang telah berumur pernikahannya lebih dari 10 tahun, pernikahannya telah berumur 20 tahun, namun masih seharmonis Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Siapa dari kita yang umurnya telah menginjak lebih atau kepala 5 namun masih bersendau gurau dengan istrinya lomba lari dengan istrinya.
Nabi tidak merasa sungkan, risih dengan sekian banyak pasukan yang mengetahui. Subhanallah... Itulah keteladanan.
Andai itu ada dalam rumah tangga kita, andai kita bisa melakukan itu dalam rumah tangga kita. Niscaya betul-betul baiti jannati (rumah tanggaku adalah surgaku).
Subhanallah. Di antara secuil (sedikit) dari kisah keteladanan Nabi. Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam suatu malam pergi ke kuburan Baqi' karena mendapatkan perintah dari Allah Azza wa Jalla agar beliau mendoakan para penghuni kuburan Baqi'.
Aisyah sebagai seorang istri yang masih muda belia cemburu, ia menduga bahwa nabi pergi ke rumah istri yang lain maka Aisyah membuntuti kepergian Nabi. Namun ternyata Nabi tidak pergi ke istri yang lain namun Nabi pergi ke kuburan Baqi mendoakan, memohonkan ampunan untuk para penghuni kuburan Baqi'.
Maka segera Aisyah berpaling dan kemudian bergegas pulang ke rumah. Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam dari kejauhan melihat ada sekelebat hitam yang bergegas lari maka Nabi segera membuntutinya. Setelah Aisyah berhasil masuk ke rumah dan pura-pura tidur. Namun nafas beliau tidak bisa berdusta, terengah-engah.
Maka Nabi berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah engkaukah hitam-hitam yang aku lihat dari kejauhan, sekelebat hitam yang aku lihat dari kejauhan?“
”Betul ya Rasulullah.“
Rasulullah memahami, memotivasi yang menjadikan Aisyah membuntuti langkah Nabi, dia merasa cemburu.
أغرتِ يا عائشة ؟
"Wahai Aisyah apakah engkau cemburu, khawatir kalau aku pergi ke istriku yang lain?"
Maka Aisyah segera berkata,
كيف لا يغارو مثل على مثلك يا رسول الله ؟
“Ya Rasulullah, bagaimana mungkin istri seperti aku ini tidak cemburu, tidak khawatir engkau itu pergi ke istri yang lain.”
Siapa yang tidak cemburu, memiliki suami yang serba sempurna akhlaknya, ketampanannya, keimanannya.
Subhanallah... maka Nabi kemudian menjelaskan bahwa sejatinya tadi bahwa Malaikat Jibril memanggilku dari luar rumah. Dia tidak mungkin masuk ke rumah karena aku telah berada dalam satu selimut denganmu. Maka dia memanggil dari luar rumah dan memerintahkan aku agar aku memohonkan ampunan teruntuk penghuni kuburan Baqi, maka aku pun pergi.
Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan penjelasan (wejangan) kepada istrinya yang tidak sepatutnya mudah dibakar oleh rasa cemburu,
أو قد جائت الشيطان يا عئشة؟
=”Wahai Aisyah Apakah engkau telah kedatangan kembali setanmu, apakah engkau telah kedatangan kembali oleh setan، setanmu telah datang kembali, sehingga engkau itu hanyut terbakar oleh rasa cemburu.
Kemudian Aisyah berkata,
يا رسول الله أو معي الشيطان؟
“Apakah aku ini diikuti terus oleh setan?”
Nabi mengatakan, “Bala (بلا), betul, setiap manusia itu ada qorin, ada pendampingnya yang terus mengikutinya yaitu dari setan, yang satu qarin dari kalangan para malaikat.
Aisyah kembali bertanya, "Wahai Rasulullah bagaimana dengan dirimu, apakah engkau juga diikuti oleh qarin dari setan?"
Nabi mengatakan, “Ya, aku pun senantiasa dikintil (diikuti) oleh setan, namun bedanya Allah telah membantu aku sehingga setan yang senantiasa membuntuti aku itu telah masuk islam sehingga.”
فَلا يَأْمُرنِي إِلاَّ بِخَيْرٍ
Sehingga dia tidak pernah membisikkan aku kecuali dengan kebaikan.
Subhanallah .... cermatilah Nabi ketika mengetahui istrinya mulai terbakar oleh rasa cemburu, hanyut dalam badai cemburu, Nabi tidak murka, Nabi tidak marah. Nabi berusaha menyelamatkan istrinya dari badai cemburu tersebut dengan menjelaskan bahwa cemburu buta itu datangnya dari setan.
Pikiran-pikiran negatif yang terbetik pada pikiran seorang istri atau suami yang senantiasa berpikir negatif atau kadangkala berfikir negatif su’udhon, curiga kepada suami ataupun istri itu sejatinya adalah bisikan setan.
Sehingga sepatutnya kita waspada, kita senantiasa ingat bahwa pikiran negatif yang tendensinya adalah cemburu itu adalah bisikan setan yang seharusnya dilawan.
Pertama, kita memohon perlindungan kepada Allāh, agar tidak hanyut dalam cemburu buta tersebut.
Dan yang kedua, ada satu pelajaran penting bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang tidak cemburu. Siapapun dari kita pasti cemburu, kenapa? Karena cemburu buta itu adalah bisikan setan yang berkepentingan untuk merusak rumah tangga kita.
Karena itu satu-satunya obat untuk mengobati cemburu buta adalah memohon perlindungan kepada Allah
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ نَزْغٌۭ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ
Kalau engkau mulai digoda oleh setan maka obatnya hanya ada satu, memohon perlindungan dari Allah. [QS Fusshilat: 36]
Ini pelajaran penting bagi kita bahwa tidak ada satu orangpun dari kita yang tidak dirundung, tidak terkena badai cemburu buta. Semua kita merasakan cemburu buta namun hanya orang-orang yang senantiasa berlindung kepada Allah dari godaan setan, hanya merekalah yang bisa selamat dari cemburu buta yang mengancam keutuhan rumah tangga kita
Ini sekelumit dari keteladanan Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam sebagai seorang suami, yang juga sebagai seorang Uswah Rasul (teladan) kita semua dalam mengarungi mahligai rumah tangga.
Semoga apa yang disampaikan menjadikan keluarga kita betul-betul baiti jannati (Rumah tanggaku adalah Surgaku)
و السلام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•