🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
▪🗓 RABU
| 26 Rabi’ul Akhir 1443H
| 01 Desember 2021M
🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati
🔈 Audio ke-008
📖 Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Ketiga)
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد
Allāh dalam Al-Qur'an menggambarkan bagaimana visi satu rumah tangga yang istimewa, yang luar biasa.
Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam. Nabi Ibrahim yang menikah dengan Sarah, telah sekian lama sekian puluh tahun tidak dikaruniai anak keturunan. Maka Sarah kemudian mengizinkan suami yaitu Nabi Ibrahim untuk menikahi budaknya yang bernama Hajar.
Dan segeralah Hajar setelah menikah dengan Nabi Ibrahim, Hajar segera hamil dan kemudian melahirkan seorang anak yang diberi nama Ismail.
Seorang suami, seorang ayah, seorang suami yang telah merindukan hadirnya buah hati anak keturunan. Kemudian anak tersebut betul-betul lahir ke dunia dengan selamat. Seorang anak yang tampan rupawan. Wajar, di dalam hatinya ada benih-benih cinta, rasa bangga rasa senang bagaikan oase di tengah hamparan padang pasir yang tak bertepi. Penantian panjang akhirnya datang anak keturunan.
Padahal Nabi Ibrahim telah mengikrarkan dalam dirinya bahwa dia hanya cinta kepada Allāh. Dia telah dipilih oleh Allāh, diberi karunia sebagai khalilurrahman atau khalilullah (Kekasih Allāh) sehingga tidak pantas, tidak patut di dalam jiwanya, di dalam hatinya ada rasa cinta kepada selain Allāh. Maka Allāh uji keluarga tersebut.
Nabi Ibrahim diuji untuk membawa Hajar beserta anaknya yang masih kecil, masih bayi merah untuk diletakkan di sisi Ka'bah (di lembah Mekkah) atau yang kala itu dikenal dengan lembah qaran (yang tak bertepi). Yang tidak bertuan, tidak ada penghuni, tidak ada tanaman, gersang, tandus, tidak ada sumber-sumber kehidupan.
Namun, Nabi Ibrahim sebagai seorang khalil. Yang hanya cinta dan patuh tunduk kepada Allāh. Diapun patuh atas perintah Allāh ini. Dia tidak membantah, dia tidak menunda, menganalisa atau bermusyawarah. Dia segera jalankan.
Setibanya di lembah Mekkah, di sisi Ka'bah segera Beliau letakkan putranya. Beliau tinggalkan istrinya Hajar dan Beliau segera bergegas pergi karena memang perintahnya hanya meletakkan putranya di sana tanpa harus berpesan atau tanpa harus membangun perumahan di sana. Menanti datangnya atau mengundang orang. Dia hanya diperintahkan untuk meletakkan putranya di sana beserta ibunya.
Ketika Nabi Ibrahim beranjak pergi, Hajar bertanya,
يا ابراهيم ، إلى من تدركن ؟
”Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau titipkan kami di sini?“
Lembah yang tidak bertuan. Lembah yang tidak ada sumber kehidupan. Nabi Ibrahim tetap bergegas, berjalan tanpa memperdulikan pertanyaan istrinya.
Hajar mengira mungkin Nabi Ibrahim kurang mendengar. Suaranya mungkin kabur oleh terpaan angin. Dia ulang lagi, dengan suara yang lebih lantang. Dengan suara yang lebih jelas.
يا ابراهيم ، إلى من تدركن ؟
”Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau titipkan kami di sini?“
Nabi Ibrahim tetap bergegas tanpa menggubris pertanyaan istrinya. Hajar Alaihissalam yang telah hidup di dalam keluarga Nabi sekian lama dan dia telah mendapatkan karunia sebagai Istri seorang Nabi, bahkan khalilullah. Sadar bahwa pertanyaan itu tidak layak muncul dari seorang muslimah yang beriman kepada Nabi, yang tidak berkata-kata atas dasar nafsu, yang dia jalankan hanya adalah wahyu.
Sehingga pertanyaan mengapa, bagaimana, kepada siapa, tidak layak muncul dalam keluarga seorang muslim dan muslimah, seorang mukmin dan mukminah.
Maka Hajar merubah sikapnya. Meralat kesalahannya. Sehingga dari lisannya muncul pertanyaan yang benar. Satu-satunya pertanyaan yang hanya boleh muncul dari seorang muslim dan mukminah.
أ الله امرك بهذا ؟
”Wahai Ibrahim, apakah Allāh yang memerintahkan engkau melakukan ini?“
Inilah pertanyaan yang benar, yang seharusnya muncul dari keluarga yang muslim atau muslimah. Memastikan bahwa ini adalah perintah Allāh. Ketika pertanyaan itu betul, maka Nabi Ibrahim menoleh dan menjawab,
بلى
”Betul.“
Kemudian Nabi Ibrahim tidak banyak berkomentar, tidak perlu untuk banyak menjelaskan. Karena Nabi Ibrahim telah mendidik istrinya dengan pendidikan yang shalih. Sehingga ia (Hajar) langsung paham dan mengetahui apa konsekuensi jawaban suaminya bahwa ini adalah perintah Allāh. Sehingga Hajar segera menimpali jawaban suaminya dengan menunjukkan kepastian iman, kekokohan, ketangguhan iman. Hajar berkata,
إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا الله
“Kalau ini adalah perintah Allāh, Allāh tidak mungkin mencelakakan kita. Allāh tidak mungkin menyia-nyiakan kita.”
Subhanallah. Nabi Ibrahim terus bergegas pergi sampai pada satu tempat yang dia yakini Hajar tidak lagi bisa melihat dirinya. Dia tidak lupa untuk memohon kepada Allāh,
رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” [QS Ibrahim: 37]
Subhanallah. Doa seorang Nabi, seorang suami, seorang ayah, yang betul-betul beriman mencerminkan keinginan.
Ya Allāh, Wahai Rabb, Wahai Tuhanku. Aku telah meletakkan anak keturunanku di satu lembah yang tidak ada tanamannya. Artinya tidak ada sumber kehidupan di sana. Tapi aku lakukan karena aku yakin sumber kehidupan itu datangnya dari Engkau.
Walaupun tidak ada tanaman, mereka akan bisa bertahan hidup. Karena kehidupan itu datangnya dari Engkau. Aku letakkan di sana bukan agar mereka bercocok tanam, agar mereka memiliki ladang yang luas. Tidak.
لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ
Aku letakkan di sana, misiku satu, yaitu agar mereka menjadi orang-orang yang rajin menunaikan shalat. Beribadah hanya kepadaMu. Bukan karena aku meyakini Mekkah itu subur, sumber kehidupan, prospek masa depan. Tidak.
Aku letakkan di sana agar mereka menjadi orang yang rajin menegakkan shalat. Kenapa dengan shalat? Karena diletakkan di sisi puing-puing Ka'bah. Di sanalah tempat shalat ditegakkan. Di sanalah pusat ibadah shalat itu dijalankan. Di sanalah semua orang shalat itu menghadap.
Maka tatkala anak diletakkan di tempat ibadah, di dekat rumah Allāh. Maka visi seorang ayah yang shalih mengatakan, visi pertamanya rajin shalat. Subhanallah. Itu doa Nabi Ibrahim.
Nabi Ibrahim tidak berkata, “Ya Allāh aku letakkan anakku di tanah yang subur, jadikan usahanya sukses, dagangannya lancar, pertaniannya sukses.” Tidak.
Di lembah yang tidak ada tanaman, bahkan tidak cocok untuk bercocok tanam, tapi tempat tersebut adalah tempat untuk menegakkan shalat. Pusatnya orang shalat adalah di Ka'bah. Maka aku letakkan di sana agar mereka shalat.
Urusan rezeki, aku tidak perlu khawatir, aku tidak perlu risaukan. Karena kalau Engkau sudah cinta kepada mereka, Ya Allāh, kalau mereka sudah menjalankan ibadah kepadaMu dengan benar, urusan rezeki tidak usah diminta. Pasti Engkau beri. Tidak usah di nanti pasti akan disampaikan.
Kenapa? Karena Allāh telah berikrar. Dan ikrar ini telah disampaikan kepada semua Nabi, kepada semua orang yang shalih.
نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ
“Kamilah yang memberi rezeki kepada kalian.” [QS Al-Isra': 31]
Sehingga tidak perlu risau, tidak perlu galau, tidak perlu takut. Asalkan apa?
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Asalkan kita menjalankan fungsi hidup kita. Menjalankan visi hidup kita. Yaitu apa? Beribadah kepada Allāh. Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
“Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menegakkan ibadah kepada Ku” [QS Adz-Dzariyat: 56]
مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ
“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” [QS Adz-Dzariyat: 57]
Aku tidak mengharapkan mereka mengumpulkan rezeki, atau mereka mengumpulkan makanan atau api.
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ
“Karena sejatinya si pemberi rizki, yang memberi rizki itu adalah Allāh.”
ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ
“Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa.” [QS Adz-Dzariyat: 58]
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا
Kata Allāh, “Wahai Muhammad, perintahkan keluargamu untuk menegakkan shalat “.
وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan sabarlah, tabah dalam menegakkan shalat tersebut.”
لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا
“Karena Kami tidak akan meminta rezeki kepada kalian.” [QS Thaha: 132]
Jangan khawatir dengan shalat, kalian sibuk tidak sempat bekerja, tidak perlu khawatir. Karena apa?
نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ
“Karena dengan engkau rajin menegakkan shalat, Kami akan jamin rejeki.”
Itu yang terjadi, itu yang tersirat dari doa Nabi Ibrahim. Sehingga, Subhanallah. Dengan ketulusan dan keimanan Nabi Ibrahim, kekuatan tawakal Nabi Ibrahim.
Allāh tunjukkan, Allāh buktikan bahwa Ismail dan istri Nabi Ibrahim yang secara logika hitung-hitungan manusia mungkin akan segera binasa, kekeringan, kehausan, dehidrasi, atau mungkin diterkam oleh binatang buas, tapi tidak terjadi itu semua.
Kenapa? Karena Nabi Ibrahim telah menitipkan keluarganya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Nabi Ibrahim meletakkan keluarganya di Mekkah dalam rangka menjalankan perintah Allāh atas perintah Allāh, bukan karena kesemena-menaan, atau kerakusan, atau visi dunia, tidak.
Maka Allāh pun selamatkan mereka. Allāh melindungi mereka dan bahkan Allāh tunjukkan kepada dunia bahwa Allāh Kuasa menyelamatkan hambanya yang taat, hambanya yang patuh.
مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Dengan cara yang tidak diduga-duga.” [QS At-Talaq: 3]
Siapa dari kita yang menduga bahwa dari hentakkan kaki Nabi Ismail yang masih merah (bayi) mampu menjadikan air zam-zam memancar. Subhanallah. Sampai-sampai Nabi kita Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
رَحِمَهُ اللهُ أُمَّ إِسْمَاعِيْلَ لَوْ لَهَا لَكَنَا زَمْزَمَ عَيْنًا مَعِيْنًا
“Semoga Allāh merahmati ibunya Nabi Ismail. Andai bukan pekerjaan dia, andai bukan dia, niscaya zam-zam itu akan menjadi sungai yang mengalir.” [HR Bukhari 3364 dan 3365]
Kenapa? Pertama kali zam-zam memancar dari kaki Nabi Ismail, Hajar berkata,
زُمْزُمْ
“Berkumpullah air, janganlah mengalir, berkumpullah air, di sini jangan pergi.”
زُمْزُمْ
“Berkumpullah-berkumpullah.”
Maka zam-zam itu, sebesar apapun sumbernya, sederas apapun airnya keluar dari sumber, dia tidak bisa mengalir, tidak bisa tumpah dan kemudian menyebabkan banjir.
Subhanallah, Allāh beri rejeki, Allāh beri pertolongan dari jalan yang tidak di duga-duga. Itu seperti implementasi bahwa,
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ
“Siapapun yang bertakwa kepada Allāh.”
يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا
“Allāh pasti beri jalan keluar untuk problematikanya.” [QS At-Talaq: 2]
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Dan Allāh beri dia rejeki dari jalur yang dia tidak duga-duga.” [QS At-Talaq: 3]
Siapa yang menduga bahwa Ismail mampu menggetarkan bumi dan akhirnya menjadikan bumi mengeluarkan air yang memancar. Siapa yang menduga bahwa Hajar dan Ismail mampu bertahan hidup di lembah yang gersang semacam itu. Subhanallah.
Dan mengapa Nabi Ibrahim tega melakukan semua itu? Itu untuk menjadi pelajaran bagi kita bahwa dengan tawakkal, kalau kita menjalankan perintah, seburuk apapun kondisinya, segenting apapun suasananya, Allāh tidak akan pernah membiarkan, Allāh tidak akan pernah mencelakakan, membiarkan hambaNya celaka.
Seperti yang diikrarkan oleh Hajar,
إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا الله
Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan sebagai penutup,
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
Sampai jumpa di lain kesempatan.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•
Jumat, 10 Desember 2021
Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Ketiga)
Rabu, 08 Desember 2021
Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Kedua)
Halaqah 15: Ucapan Kotor dan Contohnya
Selasa, 07 Desember 2021
Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Pertama)
🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
▪🗓 SENIN
| 24 Rabi’ul Akhir 1443H
| 29 November 2021M
🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati
🔈 Audio ke-006
📖 Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Pertama)
~•~•~•~•~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد
Kehidupan rumah tangga yang dialami atau dijalani oleh masing-masing kita pasti ada arah dan tujuan. Sebagian kita mungkin memiliki orientasi untuk mengantarkan keluarga ini menjadi keluarga yang kaya-raya penuh dengan fasilitas, kesenangan, dan kemewahan.
Bisa jadi dari sebagian kita punya orientasi pendidikan, ingin menjadikan keluarga ini adalah keluarga yang terpelajar, memiliki titel akademik yang tinggi. Bisa pula ada dari kita yang memiliki orientasi sosial agar suami dan istri memiliki karier sosial yang tinggi, anak-anak pun kelak agar memiliki status sosial yang terpandang.
Namun saya yakin, masing-masing kita memiliki orientasi yang lebih mulia dari semua ini. Membangun rumah tangga bukan untuk mengumpulkan harta kekayaan, karena apalah arti kekayaan, apalah arti harta bagi rumah tangga kita kalau ternyata harta itu hanya menjadi biang datangnya petaka.
Allāh Subhanahu wa Ta'ala telah kisahkan dalam Al-Qur'an kisah keluarga yang dengan hartanya mereka celaka. Allāh ceritakan kisah Qarun seorang yang kaya raya. Allāh juga kisahkan bagaimana Abu Lahab keluarganya menyeret ke dalam kekufuran sehingga Allāh katakan:
مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ
"Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan." [QS Al-Masad: 2]
Apalah artinya harta dan apa yang dia dapatkan semasa hidupnya kalau ternyata Abu Lahab beserta keluarganya kelak akan masuk dalam neraka yang ذَاتَ لَهَبٖ neraka yang apinya berkobar-kobar.
Dalam Al-Qur'an Allāh juga kisahkan, kisah seorang raja yang memiliki orientasi kekuasaan, keluarga yang orientasinya membangun kejayaan. Fir’aun, ia membangun kerajaan, kekuasaan dengan segala cara yang dia punya, harta yang dia kerahkan, pasukan yang dia miliki, semuanya adalah untuk membangun kekuasaan.
Namun ternyata subhanallah, kekuasaan dia mendatangkan petaka, celaka bagi dia, bahkan Allāh telah kondisikan sedemikian rupa, bahwa kehancuran Fir'aun datangnya dari anak angkatnya yaitu Nabi Musa alayhisallam.
Di tengah keluarga yang penuh dengan kemaksiatan, kekafiran, keangkaramurkaan, namun ternyata subhanallah ketika visi misi keluarga itu tidak sejalan. Istri Fir'aun memiliki visi yang benar, yang shalih, menjadi wanita yang shalihah, maka tatkala Nabi Musa menyeru, berdakwah kepada Allāh.
Istrinya Fir'aun masuk Islam, menerima hidayah dan membela kebenaran walaupun suami tidak sejalan. Sehingga kisah perjuangan istri Fir'aun mempertahankan eksistensi keislamannya Allāh abadikan dalam Al-Qur’an.
وٱمْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَ
[QS At-Tahrim: 11]
Dan ingatlah kisah istri Fir'aun tatkala dia terus menerus berdoa kepada Allāh dia terjerembab, dia terperangkap dalam rumah tangga yang tidak harmonis, rumah tangga yang tidak Islami, rumah tangga yang tidak mengantarkan kepada ketaatan, kepada keimanan, tapi rumah tangga yang mengantarkan kepada kekufuran, keangkara murkaan kesewenang-wenangan. Karena dia berada di bawah kepemimpinan seorang suami yang kafir dan angkara murka.
Namun itu tidak menghalangi istri Fir'aun untuk menjalankan nilai-nilai keimanan dia, memperjuangkan eksistensi keimanan dia, sehingga dia terus dengan tulus berdoa kepada Allāh:
رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ
Ya Allāh aku akan kehilangan, aku akan segera kehilangan istana di dunia ini karena aku berseberangan dengan suami yaitu Fir'aun pemilik istana dunia, maka gantikanlah dengan apa?
بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ
Istana di dalam surga
وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِه
Dan lindungi aku, selamatkan aku dari kejahatan Fir'aun dan juga kejahatan perilaku Fir'aun (ulahnya Fir'aun).
Subhanallah, ini adalah potret istri yang memiliki visi sebagai seorang wanita muslimah.
Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan sebagai penutup,
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
Sampai jumpa di lain kesempatan.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•
Halaqah 14: Obat dari Penyakit Al-Khushūmah dan Al-Ghadhab (Amarah)
🌍 BimbinganIslam.Com
📆 Senin, 24 Rabi'ul Akhir1443 H/29 November 2021 M
👤 Ustadz Afit Iqwanudin, Amd, Lc.
📗 Kitāb Āfātul Lisān Fī Dhau'il Kitābi was Sunnah ( آفات اللسان في ضوء الكتاب والسُّـنَّة) karya Syaikh Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qahthāni rahimahullāh
🔊 Halaqah 14: Obat dari Penyakit Al-Khushūmah dan Al-Ghadhab (Amarah)
〰〰〰〰〰〰〰
OBAT DARI PENYAKIT AL KHUSHŪMAH DAN AL GHADHAB
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله و صلاة وسلم على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، و لَاحول ولاقوة الا بالله أما بعد
Sahabat BiAS kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
In syā Allāh kembali kita akan melanjutkan pembahasan dari Risalah Āfātul Lisān fī Dhau'il Kitābi was Sunnah ( آفات اللسان في ضوء الكتاب والسُّـنَّة) karya Syaikh Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf Al Qahthāni rahimahullāhu ta'āla.
Pada kesempatan kali ini kita akan memasuki bab seputar:
▪︎Obat dari Penyakit Al Khushūmah dan Al Ghadhab (Amarah)
Cara mengobati penyakit ini sendiri ialah dengan terus berusaha memadamkan amarah dan meredam emosi.
Lebih detailnya terdapat dua metode yang bisa kita lakukan agar emosi kita stabil dan tidak mudah meluap-luap.
• Melakukan Pencegahan (الوقاية)
Hal ini sebagaimana dalam sebuah peribahasa yang masyhur:
الوقاية خير من العلاج
"Mencegah itu lebih baik daripada mengobati."
Maksudnya ialah kita berusaha menjauhkan diri kita dari hal-hal yang kerap menimbulkan amarah. Diantara faktor utama yang menimbulkan amarah ialah sikap sombong dan bangga terhadap diri sendiri.
Di mana saat kita merasa orang lain meremehkan kedudukan dan harga diri kita, maka secara otomatis rasa amarah dan murka akan mudah sekali muncul.
Faktor lain yang berpotensi menimbulkan amarah ialah bercanda pada momen tidak tepat.
Sahabat BiAS kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Bercanda atau bergurau, memang bukan perkara yang terlarang. Akan tetapi jika terlalu berlebihan tentunya tidaklah baik. Seseorang yang terlalu sering dan berlebihan dalam bercanda ditakutkan akan dapat menyinggung perasaan orang lain yaitu saat ia bercanda pada momen yang seharusnya tidak dijadikan bahan gurauan.
Ia mungkin merasa bahwa apa yang ia lakukan wajar (hal yang biasa), akan tetapi tidak dengan orang lain. Orang lain belum tentu merasa hal yang biasa. Saat ini orang lain tersebut akan marah, tidak senang dengan gurau yang ia buat dan secara otomatis membuat orang tersebut menjadi naik pitam. Seorang muslim yang baik tentunya harus bijak dalam bercanda.
Adapun cara yang kedua adalah:
• Berusaha Meredam Amarah yang Ada dalam Dada, jika memang kita sudah terlanjur tersulut emosi.
Ada beberapa tahapan yang perlu kita lakukan untuk meredam emosi tersebut.
⑴ Kita harus segera beristi'adzah, meminta perlindungan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan mengucapkan: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
⑵ Segera mengambil wudhu'.
⑶ Beralih dari posisi kita saat marah. Jika kita berdiri maka segera duduk, jika duduk maka segera berbaring, kemudian diam dan tidak perlu berkata-kata atau mungkin bisa keluar dari tempat tersebut.
⑷ Berusaha mengingat-ingat janji Allāh Subhānahu wa Ta'āla kepada mereka yang mampu menahan amarah dan tidak melampiaskannya.
Begitu juga kita berusaha mengingat bahwa efek jangka panjang yang akan muncul karena melampiaskan amarah sering kali akan menjadi penyesalan seumur hidup. Terlebih lagi hukuman yang akan Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan di akhirat nanti.
Dalam hal ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا - وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ - دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ
"Barangsiapa sanggup menahan amarahnya padahal ia mampu untuk melampiaskan maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat hingga Dia memberinya kebebasan untuk memilih bidadari yang ia suka."
(Hadīts hasan riwayat Abu Dawud nomor 4777)
Sahabat BiAS kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Jika tahapan-tahapan ini sudah kita lakukan, in syā Allāh emosi dan amarah yang tadinya meluap-luap akan berkurang sedikit demi sedikit, sehingga tidak muncul permusuhan diantara kita dan orang lain.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla senantiasa melindungi kita dari penyakit ini. آمين يا رب العالمين
صلى الله على نبينا محمّد و على آله وصحبه وسلم
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
________