Jumat, 10 Desember 2021

Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Ketiga)

 🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 RABU
 | 26 Rabi’ul Akhir 1443H
 | 01 Desember 2021M

🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati

🔈 Audio ke-008
📖 Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Ketiga)
~•~•~•~•~


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد

Allāh dalam Al-Qur'an menggambarkan bagaimana visi satu rumah tangga yang istimewa, yang luar biasa.

Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam. Nabi Ibrahim yang menikah dengan Sarah, telah sekian lama sekian puluh tahun tidak dikaruniai anak keturunan. Maka Sarah kemudian mengizinkan suami yaitu Nabi Ibrahim untuk menikahi budaknya yang bernama Hajar.

Dan segeralah Hajar setelah menikah dengan Nabi Ibrahim, Hajar segera hamil dan kemudian melahirkan seorang anak yang diberi nama Ismail.

Seorang suami, seorang ayah, seorang suami yang telah merindukan hadirnya buah hati anak keturunan. Kemudian anak tersebut betul-betul lahir ke dunia dengan selamat. Seorang anak yang tampan rupawan. Wajar, di dalam hatinya ada benih-benih cinta, rasa bangga rasa senang bagaikan oase di tengah hamparan padang pasir yang tak bertepi. Penantian panjang akhirnya datang anak keturunan.

Padahal Nabi Ibrahim telah mengikrarkan dalam dirinya bahwa dia hanya cinta kepada Allāh. Dia telah dipilih oleh Allāh, diberi karunia sebagai khalilurrahman atau khalilullah (Kekasih Allāh) sehingga tidak pantas, tidak patut di dalam jiwanya, di dalam hatinya ada rasa cinta kepada selain Allāh. Maka Allāh uji keluarga tersebut.

Nabi Ibrahim diuji untuk membawa Hajar beserta anaknya yang masih kecil, masih bayi merah untuk diletakkan di sisi Ka'bah (di lembah Mekkah) atau yang kala itu dikenal dengan lembah qaran (yang tak bertepi). Yang tidak bertuan, tidak ada penghuni, tidak ada tanaman, gersang, tandus, tidak ada sumber-sumber kehidupan.

Namun, Nabi Ibrahim sebagai seorang khalil. Yang hanya cinta dan patuh tunduk kepada Allāh. Diapun patuh atas perintah Allāh ini. Dia tidak membantah, dia tidak menunda, menganalisa atau bermusyawarah. Dia segera jalankan.

Setibanya di lembah Mekkah, di sisi Ka'bah segera Beliau letakkan putranya. Beliau tinggalkan istrinya Hajar dan Beliau segera bergegas pergi karena memang perintahnya hanya meletakkan putranya di sana tanpa harus berpesan atau tanpa harus membangun perumahan di sana. Menanti datangnya atau mengundang orang. Dia hanya diperintahkan untuk meletakkan putranya di sana beserta ibunya.

Ketika Nabi Ibrahim beranjak pergi, Hajar bertanya,

يا ابراهيم ، إلى من تدركن ؟

”Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau titipkan kami di sini?“

Lembah yang tidak bertuan. Lembah yang tidak ada sumber kehidupan. Nabi Ibrahim tetap bergegas, berjalan tanpa memperdulikan pertanyaan istrinya.

Hajar mengira mungkin Nabi Ibrahim kurang mendengar. Suaranya mungkin kabur oleh terpaan angin. Dia ulang lagi, dengan suara yang lebih lantang. Dengan suara yang lebih jelas.

يا ابراهيم ، إلى من تدركن ؟

”Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau titipkan kami di sini?“

Nabi Ibrahim tetap bergegas tanpa menggubris pertanyaan istrinya. Hajar Alaihissalam yang telah hidup di dalam keluarga Nabi sekian lama dan dia telah mendapatkan karunia sebagai Istri seorang Nabi, bahkan khalilullah. Sadar bahwa pertanyaan itu tidak layak muncul dari seorang muslimah yang beriman kepada Nabi, yang tidak berkata-kata atas dasar nafsu, yang dia jalankan hanya adalah wahyu.

Sehingga pertanyaan mengapa, bagaimana, kepada siapa, tidak layak muncul dalam keluarga seorang muslim dan muslimah, seorang mukmin dan mukminah.

Maka Hajar merubah sikapnya. Meralat kesalahannya. Sehingga dari lisannya muncul pertanyaan yang benar. Satu-satunya pertanyaan yang hanya boleh muncul dari seorang muslim dan mukminah.

أ الله امرك به‍ذا ؟

”Wahai Ibrahim, apakah Allāh yang memerintahkan engkau melakukan ini?“

Inilah pertanyaan yang benar, yang seharusnya muncul dari keluarga yang muslim atau muslimah. Memastikan bahwa ini adalah perintah Allāh. Ketika pertanyaan itu betul, maka Nabi Ibrahim menoleh dan menjawab,

بلى

”Betul.“

Kemudian Nabi Ibrahim tidak banyak berkomentar, tidak perlu untuk banyak menjelaskan. Karena Nabi Ibrahim telah mendidik istrinya dengan pendidikan yang shalih. Sehingga ia (Hajar) langsung paham dan mengetahui apa konsekuensi jawaban suaminya bahwa ini adalah perintah Allāh. Sehingga Hajar segera menimpali jawaban suaminya dengan menunjukkan kepastian iman, kekokohan, ketangguhan iman. Hajar berkata,

إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا الله

“Kalau ini adalah perintah Allāh, Allāh tidak mungkin mencelakakan kita. Allāh tidak mungkin menyia-nyiakan kita.”

Subhanallah. Nabi Ibrahim terus bergegas pergi sampai pada satu tempat yang dia yakini Hajar tidak lagi bisa melihat dirinya. Dia tidak lupa untuk memohon kepada Allāh,

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” [QS Ibrahim: 37]

Subhanallah. Doa seorang Nabi, seorang suami, seorang ayah, yang betul-betul beriman mencerminkan keinginan.

Ya Allāh, Wahai Rabb, Wahai Tuhanku. Aku telah meletakkan anak keturunanku di satu lembah yang tidak ada tanamannya. Artinya tidak ada sumber kehidupan di sana. Tapi aku lakukan karena aku yakin sumber kehidupan itu datangnya dari Engkau.

Walaupun tidak ada tanaman, mereka akan bisa bertahan hidup. Karena kehidupan itu datangnya dari Engkau. Aku letakkan di sana bukan agar mereka bercocok tanam, agar mereka memiliki ladang yang luas. Tidak.

لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ

Aku letakkan di sana, misiku satu, yaitu agar mereka menjadi orang-orang yang rajin menunaikan shalat. Beribadah hanya kepadaMu. Bukan karena aku meyakini Mekkah itu subur, sumber kehidupan, prospek masa depan. Tidak.

Aku letakkan di sana agar mereka menjadi orang yang rajin menegakkan shalat. Kenapa dengan shalat? Karena diletakkan di sisi puing-puing Ka'bah. Di sanalah tempat shalat ditegakkan. Di sanalah pusat ibadah shalat itu dijalankan. Di sanalah semua orang shalat itu menghadap.

Maka tatkala anak diletakkan di tempat ibadah, di dekat rumah Allāh. Maka visi seorang ayah yang shalih mengatakan, visi pertamanya rajin shalat. Subhanallah. Itu doa Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim tidak berkata, “Ya Allāh aku letakkan anakku di tanah yang subur, jadikan usahanya sukses, dagangannya lancar, pertaniannya sukses.” Tidak.

Di lembah yang tidak ada tanaman, bahkan tidak cocok untuk bercocok tanam, tapi tempat tersebut adalah tempat untuk menegakkan shalat. Pusatnya orang shalat adalah di Ka'bah. Maka aku letakkan di sana agar mereka shalat.

Urusan rezeki, aku tidak perlu khawatir, aku tidak perlu risaukan. Karena kalau Engkau sudah cinta kepada mereka, Ya Allāh, kalau mereka sudah menjalankan ibadah kepadaMu dengan benar, urusan rezeki tidak usah diminta. Pasti Engkau beri. Tidak usah di nanti pasti akan disampaikan.

Kenapa? Karena Allāh telah berikrar. Dan ikrar ini telah disampaikan kepada semua Nabi, kepada semua orang yang shalih.

نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ

“Kamilah yang memberi rezeki kepada kalian.” [QS Al-Isra': 31]

Sehingga tidak perlu risau, tidak perlu galau, tidak perlu takut. Asalkan apa?

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
 
Asalkan kita menjalankan fungsi hidup kita. Menjalankan visi hidup kita. Yaitu apa? Beribadah kepada Allāh. Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

“Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menegakkan ibadah kepada Ku”  [QS Adz-Dzariyat: 56]

مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” [QS Adz-Dzariyat: 57]

Aku tidak mengharapkan mereka mengumpulkan rezeki, atau mereka mengumpulkan makanan atau api.  

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ

“Karena sejatinya si pemberi rizki, yang memberi rizki itu adalah Allāh.”

ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ

“Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa.” [QS Adz-Dzariyat: 58]

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Kata Allāh, “Wahai Muhammad, perintahkan keluargamu untuk menegakkan shalat “.

وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan sabarlah, tabah dalam menegakkan shalat tersebut.”

لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا

“Karena Kami tidak akan meminta rezeki kepada kalian.” [QS Thaha: 132]

Jangan khawatir dengan shalat, kalian sibuk tidak sempat bekerja, tidak perlu khawatir. Karena apa?

نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ

“Karena dengan engkau rajin menegakkan shalat, Kami akan jamin rejeki.”

Itu yang terjadi, itu yang tersirat dari doa Nabi Ibrahim. Sehingga, Subhanallah. Dengan ketulusan dan keimanan Nabi Ibrahim, kekuatan tawakal Nabi Ibrahim.

Allāh tunjukkan, Allāh buktikan bahwa Ismail dan istri Nabi Ibrahim yang secara logika hitung-hitungan manusia mungkin akan segera binasa, kekeringan, kehausan, dehidrasi, atau mungkin diterkam oleh binatang buas, tapi tidak terjadi itu semua.

Kenapa? Karena Nabi Ibrahim telah menitipkan keluarganya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Nabi Ibrahim meletakkan keluarganya di Mekkah dalam rangka menjalankan perintah Allāh atas perintah Allāh, bukan karena kesemena-menaan, atau kerakusan, atau visi dunia, tidak.

Maka Allāh pun selamatkan mereka. Allāh melindungi mereka dan bahkan Allāh tunjukkan kepada dunia bahwa Allāh Kuasa menyelamatkan hambanya yang taat, hambanya yang patuh.

مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dengan cara yang tidak diduga-duga.” [QS At-Talaq: 3]

Siapa dari kita yang menduga bahwa dari hentakkan kaki Nabi Ismail yang masih merah (bayi) mampu menjadikan air zam-zam memancar. Subhanallah. Sampai-sampai Nabi kita Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

رَحِمَهُ اللهُ أُمَّ إِسْمَاعِيْلَ لَوْ لَهَا لَكَنَا زَمْزَمَ عَيْنًا مَعِيْنًا

“Semoga Allāh merahmati ibunya Nabi Ismail. Andai bukan pekerjaan dia, andai bukan dia, niscaya zam-zam itu akan menjadi sungai yang mengalir.” [HR Bukhari 3364 dan 3365]

Kenapa? Pertama kali zam-zam memancar dari kaki Nabi Ismail, Hajar berkata,

 زُمْزُمْ

“Berkumpullah air, janganlah mengalir, berkumpullah air, di sini jangan pergi.”

زُمْزُمْ

“Berkumpullah-berkumpullah.”

Maka zam-zam itu, sebesar apapun sumbernya, sederas apapun airnya keluar dari sumber, dia tidak bisa mengalir, tidak bisa tumpah dan kemudian menyebabkan banjir.

Subhanallah, Allāh beri rejeki, Allāh beri pertolongan dari jalan yang tidak di duga-duga. Itu seperti implementasi bahwa,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ

“Siapapun yang bertakwa kepada Allāh.”

يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

“Allāh pasti beri jalan keluar untuk problematikanya.” [QS At-Talaq: 2]

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan Allāh beri dia rejeki dari jalur yang dia tidak duga-duga.” [QS At-Talaq: 3]

Siapa yang menduga bahwa Ismail mampu menggetarkan bumi dan akhirnya menjadikan bumi mengeluarkan air yang memancar. Siapa yang menduga bahwa Hajar dan Ismail mampu bertahan hidup di lembah yang gersang semacam itu. Subhanallah.

Dan mengapa Nabi Ibrahim tega melakukan semua itu? Itu untuk menjadi pelajaran bagi kita bahwa dengan tawakkal, kalau kita menjalankan perintah, seburuk apapun kondisinya, segenting apapun suasananya, Allāh tidak akan pernah membiarkan, Allāh tidak akan pernah mencelakakan, membiarkan hambaNya celaka.

Seperti yang diikrarkan oleh Hajar,

إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا الله

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan sebagai penutup,

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك

Sampai jumpa di lain kesempatan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Rabu, 08 Desember 2021

Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Kedua)

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _SELASA_
 | _25 Rabi’ul Akhir 1443H_
 | _30 November 2021M_

🎙 *Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى*
📗 *Fiqih Nikah / Baiti Jannati*

🔈 *Audio ke-007*
📖 *Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Kedua)*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد

Allāh dalam Al-Qur'an mengabarkan bagaimana kisah seorang suami yang memiliki visi yang shalih menjadi hamba Allāh, menegakkan sendi-sendi keimanan dalam rumah tangganya, yaitu Nabi Luth alayhisallam. 

Allāh kisahkan sejarah keluarga Nabi Luth, perjalanan hidup keluarga Nabi Luth. Nabi Luth menyeru, berdakwah, menegakkan Islam, mengajarkan akhlak yang mulia, mencegah kemungkaran, pergaulan bebas, mencegah terjadinya homoseksual.

Namun ternyata Allāh telah pilihkan untuk Nabi Luth seorang istri yang tidak shalih, seorang istri yang kafirah, seorang istri yang tidak menjalani perintah suami, tidak tunduk dan patuh kepada suami, tetapi tunduk dan patuh kepada nafsunya. Tidak taat kepada Rabb-Nya, tetapi taat kepada bisikan setannya.

Sehingga istri nabi Luth menjadi pengkhianat terbesar dalam perjalanan dakwah nabi Luth. Apa yang dia lakukan?

Dia terus menjadi mata-mata kaum homoseksual, menjadi pengkhianat perjalanan dakwah nabi Luth alayhisallam. Tetapi apa yang terjadi?

Ketika adzab Allāh telah tiba, murka Allāh telah datang, Allāh selamatkan nabi Luth beserta orang yang beriman. Allāh perintahkan agar mereka keluar dari rumahnya pergi dari kampung halaman di tengah malam.

Dan Allāh berpesan agar ketika mereka berjalan bergegas, fokus segera meninggalkan kampung halamannya. 

وَلَا يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ 

Jangan sekalipun dari satu orang dari kalian yang menoleh ke belakang, agar betul-betul fokus melarikan diri dari kampung yang akan segera ditimpa adzab kecuali istrinya, walaupun istrinya diajak pergi oleh nabi Luth. Tanggung jawab seorang suami untuk menyelamatkan istri dari adzab. 

Tetapi apa yang terjadi? Tetap istrinya nabi Luth telah digariskan bahwa dia akan termasuk orang yang ditimpa adzab, dia berpaling, dia menoleh ke belakang dan dia pun terkena adzab Allāh Subhanahu wa Ta'ala. 

Namun bejatnya istri, rusaknya istri, kafirnya istri, tidak menggoyahkan keimanan nabi Luth. Sebagaimana keangkaramurkaan Fir'aun tidak menggoyahkan kekokohan iman istrinya, sehingga mereka tetap beriman menjalankan ketaatan kepada Allāh karena mereka dalam membangun rumah tangga memiliki visi yang jelas. 

Suami bukanlah Tuhan, istri bukanlah sembahan, tetapi mereka adalah partner untuk bisa sampai kepada mardhatillah, keridhaan Allāh Subhanahu wa Ta'ala untuk bisa menegakkan ibadah kepada Allāh. 

Tetapi ketika di tengah jalan terbukti mereka adalah partner yang berkhianat, pasangan yang berkhianat, pengkhianatan istri, pengkhianatan suami, tidak menjadikan mereka berubah arah dan kemudian kompromi berhenti di tengah-tengah. TIDAK. 

Tetap pada visi, رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ 

Sejatinya orang-orang yang telah mengikrarkan رَبُّنَا ٱللَّهُ Rabb kita adalah Allāh, kemudian mereka istiqamah dengan perjalanan tersebut. 

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟

Kelak di saat malaikat maut menjemput mereka, mencabut nyawa mereka, orang yang istiqamah di atas jalan Allāh akan dihampiri oleh para malaikat yang mengabarkan kepadanya,

  أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟

Janganlah engkau gentar, janganlah engkau bersedih, janganlah engkau takut. 

وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Dan bergembiralah, berbahagialah segera karena engkau akan segera sampai ke surga yang telah Allāh janjikan atas perjuangan, keistiqamahanmu mempertahankan iman. Walaupun suamimu kafir, walaupun suamimu mengajak untuk murtad, suamimu mengajak untuk berbuat durhaka. 

Walaupun istrimu menyeretmu untuk berbuat maksiat tapi istiqamah. Engkau tetap istiqamah maka inilah balasannya, kabar gembira dengan surga di saat yang paling krusial yaitu pada titik di mana kita harus berpisah dengan dunia dan masuk ke dalam alam akhirat. 

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan sebagai penutup,

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك

Sampai jumpa di lain kesempatan. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Halaqah 15: Ucapan Kotor dan Contohnya

🌍 BimbinganIslam.Com
📆 Selasa, 25 Rabi'ul Akhir1443 H/30 November 2021 M
👤 Ustadz Afit Iqwanudin, Amd, Lc.
📗 Kitāb Āfātul Lisān Fī Dhau'il Kitābi was Sunnah ( آفات اللسان في ضوء الكتاب والسُّـنَّة) karya Syaikh Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qahthāni rahimahullāh
🔊 Halaqah 15: Ucapan Kotor dan Contohnya

〰〰〰〰〰〰〰

*UCAPAN KOTOR DAN CONTOHNYA*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمدلله و صلاة وسلم على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، و لَاحول ولاقوة الا بالله أما بعد

Sahabat BiAS kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kembali kita akan melanjutkan pembahasan dari Risalah Āfātul Lisān fī Dhau'il Kitābi was Sunnah ( آفات اللسان في ضوء الكتاب والسُّـنَّة) karya Syaikh Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf Al Qahthāni rahimahullāhu ta'āla. 

Pembahasan kali ini ialah seputar:

*▪︎ Ucapan Kotor (بذاءة اللسان) dan Contohnya*

Cukup banyak dalīl, baik dari Al Qur'ān maupun dari Hadīts Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam yang menjelaskan buruknya ucapan kotor serta ancaman bagi pelakunya.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

 لَّا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلْجَهْرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

_"Allāh tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya dan Allāh adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."_

(QS. An Nissā: 148)

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌۭ

_"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap untuk mencatatnya."_

(QS. Qaf: 18)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

وإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ ‏

_"Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang dibenci oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang mana ia tidak memperdulikannya. Namun justru karena kalimat tersebut Allāh Subhānahu wa Ta'āla melemparkannya ke dalam neraka jahannam."_

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6478)

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bersabda: 

من كان يؤمن بـالله واليوم الآخر، فليقل خيرا

_"Barangsiapa yang beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan hari akhir maka hendaknya ia berkata baik atau diam."_

Sahabat BiAS kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Saat ditanya seputar amalan yang paling banyak memasukkan masukan manusia ke dalam neraka. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kemudian menjawab: 

الفمُ والفرج

_"Mulut dan kemaluan."_

(Hadīts Tirmidzi nomor 2004, dinilai hasan oleh Al Albani)

Terdapat beberapa contoh perkataan buruk yang dituliskan oleh sang pengarang rahimahullāh dalam kitab ini, diantaranya ialah:

• الاستسقاء بالأنواء

_⑴ Menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang._

Atau menganggap bahwa bintang-bintang tersebut yang menyebabkan turunnya hujan.

Dalam sebuah hadīts qudsi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤمن بالكوكب {مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ}

_"Adapun orang yang berkata hujan turun kepada kami karena bintang ini atau bintang itu maka ia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang."_

(Muttafaqun 'alayhi)

Contoh lain yang termasuk dalam perkataan buruk ialah: 

• الحلف بغير الله تعالى

_⑵ Bersumpah dengan nama selain Allāh._

⑶ Bersumpah palsu dan mengungkit-ungkit pemberian.

Dalam hadīts yang shahīh, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah menjelaskan, tiga kelompok orang yang tidak dilihat oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan pandangan rahmat pada hari kiamat serta tidak diajak berbicara dan bagi mereka adzab yang pedih. 

Mereka adalah:

① Al Musbil (الْمُسْبِلُ ), yaitu orang yang isbāl dalam berpakaian).

② Al Mannān (الْمَنَّانُ), yaitu orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian.

③ Penjual yang gemar bersumpah palsu demi melariskan dagangannya.

Kemudian contoh lainnya, ialah: 

⑷ Mencela waktu (سبّ الدّهر).
⑸ Meratapi mayit.
⑹ Menipu orang lain.
⑺ Terlalu berlebihan di dalam memuji.
⑻ Mencemooh dan mengolok-olok serta melaknat sesama muslim.

Adapun melaknat ahli maksiat dan orang kafir secara umum dan bukan secara spesifik orang tertentu, maka hal ini diperbolehkan. Sebagaimana kita jumpai dalam hadīts-hadīts Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam seperti sabda Beliau: 

لعن الله اليهود والنصارى
 
_"Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla melaknat orang Yahudi dan Nashrani."_

لعن الله من ذبح لغير الله

_"Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla melaknat orang-orang yang menyembelih karena selain Allāh."_

Kemudian contoh lain yang juga disebutkan oleh sang pengarang rahimahullāh adalah:

⑼ Menceritakan kemaksiatan yang ia lakukan kepada orang lain padahal Allāh Subhānahu wa Ta'āla sudah menutupi kemaksiatan tersebut sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Akan tetapi dengan bangga ia menceritakannya kepada orang lain.

Dalam hal ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: 

كلُّ أُمَّتي مُعافًى إلا المجاهرين

_"Setiap umatku diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dosanya kecuali orang yang terang-terangan dalam melakukan maksiat."_

(Hadīts riwayat Bukhari nomer 6069)

Di antara bentuknya ialah seorang yang melakukan maksiat dimalam hari kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla sudah menutupi maksiat tersebut, akan tetapi pada pagi harinya dia menceritakan kemaksiatan yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla tutupi tersebut.

Kemudian contoh selanjutnya ialah: 

⑽ Berandai-andai dan menolak takdir.
⑾ Nyanyian-nyanyian.
⑿ Berjanji palsu.
⒀ Menceritakan kejelekan suami atau seorang istri yang menceritakan kejelekan suami atau suami yang menceritakan kejelekan istri.
⒁ Memerintahkan yang hak namun tidak mengerjakannya. 

Atau memerintahkan suatu yang ma'ruf (الأمر بالمعروف) akan tetapi dia sendiri tidak mengerjakannya dan melarang kemaksiatan namun justru ia melakukan kemaksiatan tersebut.

Inilah beberapa dosa yang berhubungan dengan lisan yang perlu kita perhatikan agar jangan sampai terjatuh ke dalamnya.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjauhkan kita dari perkara-perkara tersebut, آمين يا رب العالمين.

صلى الله على نبينا محمّد و على آله وصحبه وسلم 
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

____________________

Selasa, 07 Desember 2021

Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Pertama)

 🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 SENIN
 | 24 Rabi’ul Akhir 1443H
 | 29 November 2021M

🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
📗 Fiqih Nikah / Baiti Jannati

🔈 Audio ke-006
📖 Visi dan Misi dalam Rumah Tangga (Bagian Pertama)
~•~•~•~•~


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْد

Kehidupan rumah tangga yang dialami atau dijalani oleh masing-masing kita pasti ada arah dan tujuan. Sebagian kita mungkin memiliki orientasi untuk mengantarkan keluarga ini menjadi keluarga yang kaya-raya penuh dengan fasilitas, kesenangan, dan kemewahan.

Bisa jadi dari sebagian kita punya orientasi pendidikan, ingin menjadikan keluarga ini adalah keluarga yang terpelajar, memiliki titel akademik yang tinggi. Bisa pula ada dari kita yang memiliki orientasi sosial agar suami dan istri memiliki karier sosial yang tinggi, anak-anak pun kelak agar memiliki status sosial yang terpandang.

Namun saya yakin, masing-masing kita memiliki orientasi yang lebih mulia dari semua ini. Membangun rumah tangga bukan untuk mengumpulkan harta kekayaan, karena apalah arti kekayaan, apalah arti harta bagi rumah tangga kita kalau ternyata harta itu hanya menjadi biang datangnya petaka.

Allāh Subhanahu wa Ta'ala telah kisahkan dalam Al-Qur'an kisah keluarga yang dengan hartanya mereka celaka. Allāh ceritakan kisah Qarun seorang yang kaya raya. Allāh juga kisahkan bagaimana Abu Lahab keluarganya menyeret ke dalam kekufuran sehingga Allāh katakan:

مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ

"Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan." [QS Al-Masad: 2]

Apalah artinya harta dan apa yang dia dapatkan semasa hidupnya kalau ternyata Abu Lahab beserta keluarganya kelak akan masuk dalam neraka yang ذَاتَ لَهَبٖ neraka yang apinya berkobar-kobar.

Dalam Al-Qur'an Allāh juga kisahkan, kisah seorang raja yang memiliki orientasi kekuasaan, keluarga yang orientasinya membangun kejayaan. Fir’aun, ia membangun kerajaan, kekuasaan dengan segala cara yang dia punya, harta yang dia kerahkan, pasukan yang dia miliki, semuanya adalah untuk membangun kekuasaan.

Namun ternyata subhanallah, kekuasaan dia mendatangkan petaka, celaka bagi dia, bahkan Allāh telah kondisikan sedemikian rupa, bahwa kehancuran Fir'aun datangnya dari anak angkatnya yaitu Nabi Musa alayhisallam.

Di tengah keluarga yang penuh dengan kemaksiatan, kekafiran, keangkaramurkaan, namun ternyata subhanallah ketika visi misi keluarga itu tidak sejalan. Istri Fir'aun memiliki visi yang benar, yang shalih, menjadi wanita yang shalihah, maka tatkala Nabi Musa menyeru, berdakwah kepada Allāh.

Istrinya Fir'aun masuk Islam, menerima hidayah dan membela kebenaran walaupun suami tidak sejalan. Sehingga kisah perjuangan istri Fir'aun mempertahankan eksistensi keislamannya Allāh abadikan dalam Al-Qur’an.

وٱمْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَ
[QS At-Tahrim: 11]

Dan ingatlah kisah istri Fir'aun tatkala dia terus menerus berdoa kepada Allāh dia terjerembab, dia terperangkap dalam rumah tangga yang tidak harmonis, rumah tangga yang tidak Islami, rumah tangga yang tidak mengantarkan kepada ketaatan, kepada keimanan, tapi rumah tangga yang mengantarkan kepada kekufuran, keangkara murkaan kesewenang-wenangan. Karena dia berada di bawah kepemimpinan seorang suami yang kafir dan angkara murka.

Namun itu tidak menghalangi istri Fir'aun untuk menjalankan nilai-nilai keimanan dia, memperjuangkan eksistensi keimanan dia, sehingga dia terus dengan tulus berdoa kepada Allāh:

رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ

Ya Allāh aku akan kehilangan, aku akan segera kehilangan istana di dunia ini karena aku berseberangan dengan suami yaitu Fir'aun pemilik istana dunia, maka gantikanlah dengan apa?

بَيْتًۭا فِى ٱلْجَنَّةِ

Istana di dalam surga

وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِه

Dan lindungi aku, selamatkan aku dari kejahatan Fir'aun dan juga kejahatan perilaku Fir'aun (ulahnya Fir'aun).

Subhanallah, ini adalah potret istri yang memiliki visi sebagai seorang wanita muslimah.

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan sebagai penutup,

 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك

Sampai jumpa di lain kesempatan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Halaqah 14: Obat dari Penyakit Al-Khushūmah dan Al-Ghadhab (Amarah)

 🌍 BimbinganIslam.Com
📆 Senin, 24 Rabi'ul Akhir1443 H/29 November 2021 M
👤 Ustadz Afit Iqwanudin, Amd, Lc.
📗 Kitāb Āfātul Lisān Fī Dhau'il Kitābi was Sunnah ( آفات اللسان في ضوء الكتاب والسُّـنَّة) karya Syaikh Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qahthāni rahimahullāh
🔊 Halaqah 14: Obat dari Penyakit Al-Khushūmah dan Al-Ghadhab (Amarah)

〰〰〰〰〰〰〰

OBAT DARI PENYAKIT AL KHUSHŪMAH DAN AL GHADHAB
 

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله و صلاة وسلم على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، و لَاحول ولاقوة الا بالله أما بعد

Sahabat BiAS kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

In syā Allāh kembali kita akan melanjutkan pembahasan dari Risalah Āfātul Lisān fī Dhau'il Kitābi was Sunnah ( آفات اللسان في ضوء الكتاب والسُّـنَّة) karya Syaikh Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf Al Qahthāni rahimahullāhu ta'āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan memasuki bab seputar:

▪︎Obat dari Penyakit Al Khushūmah dan Al Ghadhab (Amarah)

Cara mengobati penyakit ini sendiri ialah dengan terus berusaha memadamkan amarah dan meredam emosi.

Lebih detailnya terdapat dua metode yang bisa kita lakukan agar emosi kita stabil dan tidak mudah meluap-luap.

• Melakukan Pencegahan (الوقاية)

Hal ini sebagaimana dalam sebuah peribahasa yang masyhur:

 الوقاية خير من العلاج

"Mencegah itu lebih baik daripada mengobati."

Maksudnya ialah kita berusaha menjauhkan diri kita dari hal-hal yang kerap menimbulkan amarah. Diantara faktor utama yang menimbulkan amarah ialah sikap sombong dan bangga terhadap diri sendiri.

Di mana saat kita merasa orang lain meremehkan kedudukan dan harga diri kita, maka secara otomatis rasa amarah dan murka akan mudah sekali muncul.

Faktor lain yang berpotensi menimbulkan amarah ialah bercanda pada momen tidak tepat.

Sahabat BiAS kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Bercanda atau bergurau, memang bukan perkara yang terlarang. Akan tetapi jika terlalu berlebihan tentunya tidaklah baik. Seseorang yang terlalu sering dan berlebihan dalam bercanda ditakutkan akan dapat menyinggung perasaan orang lain yaitu saat ia bercanda pada momen yang seharusnya tidak dijadikan bahan gurauan.

Ia mungkin merasa bahwa apa yang ia lakukan wajar (hal yang biasa), akan tetapi tidak dengan orang lain. Orang lain belum tentu merasa hal yang biasa. Saat ini orang lain tersebut akan marah, tidak senang dengan gurau yang ia buat dan secara otomatis membuat orang tersebut menjadi naik pitam. Seorang muslim yang baik tentunya harus bijak dalam bercanda.

Adapun cara yang kedua adalah:

• Berusaha Meredam Amarah yang Ada dalam Dada, jika memang kita sudah terlanjur tersulut emosi.

Ada beberapa tahapan yang perlu kita lakukan untuk meredam emosi tersebut.

⑴ Kita harus segera beristi'adzah, meminta perlindungan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan mengucapkan: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

⑵ Segera mengambil wudhu'.

⑶ Beralih dari posisi kita saat marah. Jika kita berdiri maka segera duduk, jika duduk maka segera berbaring, kemudian diam dan tidak perlu berkata-kata atau mungkin bisa keluar dari tempat tersebut.

⑷ Berusaha mengingat-ingat janji Allāh Subhānahu wa Ta'āla kepada mereka yang mampu menahan amarah dan tidak melampiaskannya.

Begitu juga kita berusaha mengingat bahwa efek jangka panjang yang akan muncul karena melampiaskan amarah sering kali akan menjadi penyesalan seumur hidup. Terlebih lagi hukuman yang akan Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan di akhirat nanti.

Dalam hal ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:

  مَنْ كَظَمَ غَيْظًا - وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ - دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ

"Barangsiapa sanggup menahan amarahnya padahal ia mampu untuk melampiaskan maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat hingga Dia memberinya kebebasan untuk memilih bidadari yang ia suka."

(Hadīts hasan riwayat Abu Dawud nomor 4777)

Sahabat BiAS kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jika tahapan-tahapan ini sudah kita lakukan, in syā Allāh emosi dan amarah yang tadinya meluap-luap akan berkurang sedikit demi sedikit, sehingga tidak muncul permusuhan diantara kita dan orang lain.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla senantiasa melindungi kita dari penyakit ini. آمين يا رب العالمين

صلى الله على نبينا محمّد و على آله وصحبه وسلم
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

________

Rabu, 01 Desember 2021

Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Perselisihan dan lainnya

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _JUM’AT_
 | _21 Rabi’ul Akhir 1443H_
 | _26 November 2021M_

🎙 *Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى*
📗 *Fiqih Nikah / Baiti Jannati*

🔈 *Audio ke-005*
📖 *Pengendalian Emosional Rumah Tangga Rasulullah Ketika dalam Kondisi Perselisihan dan lainnya*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~



بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله و صحبه ومن والاه أمام بعد

Pada kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk sedikit menyelami bagaimanakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memanage, mengendalikan emosional beliau, baik ketika senang ataupun ketika sedih, marah, kecewa, ataupun sedang bahagia, karena dengan pengendalian diri inilah keberhasilan dalam mengarungi rumah tangga itu akan terwujud.

Demikian pula tatkala berada dalam kondisi perbedaan, perselisihan, ataupun dalam kondisi emosional yang lainnya. Ketika suami marah, atau istri marah, suami kecewa, ataupun istri kecewa, tidak sepatutnya kekecewaan terhadap pasangan itu menjadikan kita lepas kontrol. 

Misalnya; suami karena marah dengan istri, memukul, menyiksa, menyakiti hati ataupun fisik istrinya, tentu itu tidak tepat. Sampai-sampai Nabi shallallahu alayhi wa sallam mengatakan:

لا يضرب أحدكم امرأته كما يضرب البعير أول النهار ثم يضاجعها آخر النهار

"Tidaklah layak seorang muslim memukul, menyakiti istrinya sebagaimana dia memukul unta, kemudian faktanya kalau malam tiba dia menggauli istrinya kembali."

Itu satu perilaku yang tidak sepatutnya dilakukan. Bengis, hilang rasa, baru saja melampiaskan amarah dengan pukulan, kemudian dia mengharapkan layanan. Dia menggaulinya, dia melampiaskan nafsunya kepada wanita tersebut, tentu ini mencerminkan perilaku yang sangat buruk, akhlak yang sangat rendah. 

Mungkin Anda berkata, "Bukankah Nabi tidak pernah marah kepada istrinya? Bukankah beliau adalah orang yang paling sabar, orang yang paling baik akhlaknya?" Iya, betul. Tetapi bukan berarti Nabi tidak pernah marah. 

Nabi pernah marah kepada keluarganya, Nabi pun pernah kecewa dengan keluarganya. Tetapi marahnya, kecewanya, tidak dilampiaskan dengan membabi buta, memukul, menghina, menyakiti, itulah yang disimpulkan oleh Aisyah Radhiyallahu Ta'ala 'anha. Beliau mengatakan:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ بِيَدِهِ قَطُّ لم امْرَأَةً وَلاَ ضَرَبَ ولا خَادِمًا

Nabi tidak pernah memukul dengan tangannya, Nabi tidak pernah menggunakan tangannya untuk memukul seseorang sama sekali, tidak istrinya, tidak budaknya.

Kecuali bila agama Allāh telah dinodai, maka bila beliau mendapat agama Allāh dinodai beliau akan segera bangkit menuntut menegakkan hukum Allāh Subhanahu wa Ta'ala. 

Ketika beliau marah, beliau tidak lepas kontrol, sebagaimana ketika beliau senang beliau juga tidak lepas kontrol. Beliau tetap berada dalam kendali, beliau tetap berada dalam koridor syari’at. 

Ini keteladanan yang seharusnya kita bangun. Sehingga pada saatnya betul-betul kita akan secara natural (alami) hati kita berawal dari kita, hati kita kemudian berlanjut dengan lisan kita. Kita akan berikrar Baiti Jannati (بيتي جنتي). 

Sungguh rumah tangga yang dibangun dengan keteladanan kepada Nabi shallallahu alayhi wa sallam akan menghasilkan rumah tangga yang sangat indah بيتي جنتي (rumahku adalah surgaku). 

Apalagi kalau semuanya itu, rumah tangga itu dibangun dengan nuansa ibadah, apapun yang dilakukan itu tujuannya adalah untuk menegakkan ibadah ihtisab alallah (إحتساب علي الله). 

Ketika suami memberi nafkah, ketika suami bersabar dengan istrinya bukan karena takut, bukan karena dituntut, bukan karena merasa terhina, atau terpaksa, tidak. Semuanya itu karena ibadah. 

Suatu hari Nabi shallallahu alayhi wa sallam bersabda menggambarkan fakta ini, dan ini nyata dalam kehidupan beliau. Bahwa apapun yang engkau berikan kepada istrimu termasuk sesuap makanan yang engkau berikan, 

حتى لقمة تجعلها في فم امرأتك لك بها صدقة 

“Sesuap makanan yang engkau berikan kepada istrimu itu adalah bernilai ibadah yaitu bernilai sedekah.”
 
Sampai pun ketika engkau menggauli istrimu,

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Ketika engkau menggauli istrimu maka itu bernilai ibadah (bernilai sedekah).”

Kenapa? Karena dengan engkau menggauli istrimu, engkau telah membentengi dirimu dari perbuatan zina, dan engkau juga telah membentengi istrimu dari perbuatan zina. 

Subhanallah. Pola pikir yang dibangun begitu indah, andai kita semua mampu meneladani sehingga apapun yang kita lakukan.

Kita duduk di rumah ataupun kita pergi beraktifitas (bekerja), berkarya ataupun kita meladeni istri kita dalam berbicara, bercengkrama, semuanya kita niatkan untuk ibadah kepada Allāh. Niscaya rumah tangga kita betul-betul rumah tangga yang akan harmonis dan aura surga itu akan betul-betul terasa dalam rumah tangga kita. 

Baiti Jannati (بيتي جنتي) Rumahku adalah Surgaku. 

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini, kurang dan lebihnya mohon maaf. 

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Halaqah ‎13: ‏Al-Jidāl ‎(الجدال) ‏dan Al-Khushūmah ‎(الخُصُوْمَة)

🌍 BimbinganIslam.Com
📆 Jum'at, 21 Rabi'ul Akhir1443 H/26 November 2021 M
👤 Ustadz Afit Iqwanudin, Amd, Lc.
📗 Kitāb Āfātul Lisān Fī Dhau'il Kitābi was Sunnah ( آفات اللسان في ضوء الكتاب والسُّـنَّة) karya Syaikh Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qahthāni rahimahullāh
🔊 Halaqah 13: Al-Jidāl (الجدال) dan Al-Khushūmah (الخُصُوْمَة)

〰〰〰〰〰〰〰

*AL JIDĀL DAN AL KHUSHŪMAH*
 

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمدلله و صلاة وسلم على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، و لَاحول ولاقوة الا بالله أما بعد

Sahabat BiAS kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kembali kita akan melanjutkan pembahasan dari Risalah Āfātul Lisān fī Dhau'il Kitābi was Sunnah ( آفات اللسان في ضوء الكتاب والسُّـنَّة) karya Syaikh Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf Al Qahthāni rahimahullāhu ta'āla. 

Pada kesempatan kali ini kita akan memasuki bab seputar: 

*▪︎ Al Jidāl (الجدال) dan Al Khushūmah (الخُصُوْمَة)*

⑴ Al Jidāl (الجدال) 

Al jidāl atau berdebatan terbagi menjadi dua macam, yaitu: 

① Al Jidāl yang Sifatnya Terpuji (الجدال المحمود)

Yaitu setiap berdebatan yang dilakukan dalam rangka membela yang hak dengan niat yang ikhlas dan dengan cara yang benar.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

_"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."_

(QS. An Nahl: 125) 


وَلَا تُجَـٰدِلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنْهُمْ .....

_"Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka."_

(QS. Al Ankabut: 46)

Perdebatan yang baik ialah sangat perdebatan tersebut dilakukan atas dasar ilmu dengan akhlak yang baik, lemah lembut, membela yang hak serta membantah perkara yang bathil dengan cara yang santun.

Perdebatan tersebut harus didasari niat yang ikhlas bukan semata- mata karena ingin menang dan dianggap lebih hebat dari lawannya akan tetapi tujuannya ialah agar bisa menunjukkan orang lain ke jalan yang benar.

② Al Jidāl yang Sifatnya Tercela (الجدال المذموم)

Yaitu setiap perdebatan yang dilakukan dengan tujuan membela perkara yang bathil atau perdebatan yang tanpa didasari ilmu. 

Jenis perdebatan yang satu ini termasuk penyakit lisan yang paling berbahaya.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُجَـٰدِلُ فِى ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۢ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَـٰنٍۢ مَّرِيدٍۢ

_"Dan diantara manusia ada orang yang membantah tentang Allāh tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat."_

(QS. Al Hajj: 3)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: 

لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

_"Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk mendebat para ulama dan tidak pula untuk meremehkan orang-orang yang bodoh serta menghiasi majelis-majelis ilmu. Barangsiapa melakukan hal itu, maka baginya neraka baginya neraka."_

(Hadīts dhaif riwayat Ibnu Mājah nomor 254)

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bersabda: 

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوتُوا الْجَدَلَ

_"Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mendapatkan petunjuk yang ada pada mereka melainkan karena mereka suka berbantah-bantahan."_

Kemudian Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam membaca firman Allāh:

مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلَۢاۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُونَ

_"Mereka tidak memberikan (perumpamaan itu) kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja; sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar."_

(QS. Az Zukhruf: 58)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bahkan menjamin surga bagi mereka yang rela meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di atas jalan yang benar.

Adapun beberapa hal mendorong seseorang untuk melakukan perdebatan yang tercela ialah karena kesombongan. Kemudian karena ingin menunjukkan ilmu yang dimiliki, kemudian karena keinginan untuk menyakiti orang lain dengan menunjukkan kekurangan mereka.

Dan obat dari penyakit ini ialah dengan bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla serta berusaha membuang sikap sombong yang ada pada dirinya.

Sahabat BiAS kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Kemudian memasuki pembahasan baru yaitu seputar: 

⑵ Permusuhan dan Perselisihan (الخُصُوْمَة والنِّزاع)

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُۥ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَيُشْهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِى قَلْبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلْخِصَامِ

_"Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allāh (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras."_

(QS. Al Baqarah: 204) 

Cukup banyak hadīts yang menjelaskan betapa buruknya sifat seperti ini, di antaranya adalah sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam: 

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ ‏

_"Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah orang yang paling gemar menantang orang lain."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor  2668)

Dalam hadīts lain Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bersabda: 

 إن الله لا يحب الفاحش المتفحّش

_"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla membenci orang-orang yang berperangai buruk dan suka berkata-kata kotor."_

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bersabda: 

إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْبَلِيغَ مِنَ الرِّجَالِ الَّذِي يَتَخَلَّلُ بِلِسَانِهِ كَمَا تَتَخَلَّلُ الْبَقَرَةُ

_"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla membenci para tukang syair yang gemar memainkan lidahnya sebagaimana sapi memainkan lidahnya."_

(Hadīts hasan riwayat At Tirmidzi nomor 2853) 

Maksud dari memainkan lidah di sini ialah orang-orang yang suka memainkan kata-kata dalam rangka memanipulasi fakta. Mereka membuat seakan-akan hal yang hina menjadi mulia dan hal yang mulia menjadi tampak terhina atau dalam rangka menjilat para penguasa dan hal-hal yang semisalnya. 

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla melindungi kita dari sifat buruk ini, آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

وصلى الله على نبينا محمّد و على آله وصحبه وسلم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

____________________