Senin, 20 September 2021

KEADAAN TA'ASSUR DAN TA'ADZDZUR SAAT MEMBERSIHKAN NAJIS

Seri Fawaid Fiqih Syafi'iyyah #42

KEADAAN TA'ASSUR DAN TA'ADZDZUR SAAT MEMBERSIHKAN NAJIS

Oleh: Muhammad Abduh Negara

Untuk membersihkan najis mutawassithah yang masih tampak sifat najisnya (warna, bau dan rasa), yang disebut oleh para ulama dengan istilah najis 'ainiyyah, kita perlu membasuhnya dengan air hingga seluruh sifat najis itu hilang.

Jika seluruh sifat najis itu sudah hilang dengan satu kali basuhan (ghasl), maka itu sudah cukup. Meski disunnahkan untuk membasuhnya dua dan tiga kali. Jika najis tersebut belum hilang setelah satu kali basuhan, wajib dibasuh lagi untuk kedua kalinya. Jika dua kali juga belum hilang, wajib dibasuh untuk ketiga kalinya.

Jika setelah tiga kali basuhan, sifat najis itu belum juga hilang, padahal sudah dibantu dengan menggunakan sabun dan semisalnya, kondisi semacam ini disebut dengan kondisi ta'assur (حالة التعسر).

Pada kondisi ta'assur (kondisi sulit untuk menghilangkan najis) ini, kita lihat:

1. Jika sifat najis yang tersisa hanya warnanya saja, atau hanya baunya saja, kita hukumi tempat yang terkena najis tersebut sudah suci.

2. Jika yang tersisa adalah warna dan bau najis sekaligus, atau yang tersisa adalah rasa dari najis tersebut, maka wajib menambah basuhan hingga sifat-sifat tersebut hilang, dibantu dengan sabun dan semisalnya.

Jika orang yang paham tentang kenajisan dan sifat-sifatnya (ahlul khibrah) menyatakan, najis tersebut tidak mungkin hilang kecuali dengan memotong tempat yang terkena najis tersebut, keadaan ini disebut dengan keadaan ta'adzdzur (حالة التعذر).

Pada keadaan ta'adzdzur (keadaan tidak mungkin menghilangkan najis) ini, najis tersebut menjadi najis yang ma'fu (dimaafkan), dan boleh shalat dengan membawa najis tersebut (misalnya najisnya ada pada pakaian yang dipakai saat shalat).

Dan jika beberapa waktu kemudian najis tersebut bisa dihilangkan, wajib menghilangkannya.

Wallahu a'lam.

Rujukan: At-Taqrirat As-Sadidah, Qism Al-'Ibadat, karya Syaikh Hasan bin Ahmad Al-Kaf, Halaman 135-136, Penerbit Dar Al-'Ulum Al-Islamiyyah, Surabaya, Indonesia.

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=354701159707559&id=100055030325309

Kejelekan Tidak Boleh Disandarkan Kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (Bagian Kedua)

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _SENIN_
| 13 Shafar 1443 H
| 20 September 2021 M

🎙 *Oleh: Ustadz DR. Abdullah Roy M.A. حفظه الله تعالى*
📕 _Rukun Iman Keenam - Beriman Kepada Takdir Allāh_

🔈 *Audio ke-198*
📖 *Kejelekan Tidak Boleh Disandarkan Kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (Bagian Kedua)*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحاب ومن ولاه

Anggota grup WhatsApp Dirosah Islamiyah yang semoga dimuliakan oleh Allāh. Kita lanjutkan pembahasan kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh fadhilatus syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Beliau mengatakan,

وقطع يد السارق ورجم الزاني شر بالنسبة للسارق والزاني في قطع اليد وازهاق النفس

Contoh yang lain memotong tangan orang yang mencuri dan merajam seorang pezina. Maka ini adalah jelek. Dilihat kepada orang yang mencuri dan orang yang berzina. Jelek bagi dia. 

Kenapa? karena tangannya dipotong. Dan orang yang berzina tadi dihilangkan nyawanya (dibunuh). Tentunya ini adalah syar (ini adalah kejelekan) bagi dia. Tapi apa? Apakah murni kejelekan saja tidak ada hikmah?

لكنه خير لهما من وجه آخر

Tapi ini adalah baik bagi keduanya dari sisi yang lain. Baik bagi orang yang mencuri, baik bagi orang yang berzina.

Dari sisi apa? 

حيث يكون كفارة لهما

Karena dipotongnya tangan tersebut dan dirajamnya orang tadi, ini adalah sebagai kafarah (penghapus dosa). Apakah ini baik atau jelek? Jawabannya adalah ini baik bagi dia. Penebus dosanya. Karena yang namanya dosa ada akibatnya, ada dampaknya di dunia maupun di akhirat. 

Ketika dipotong tangannya dan dirajam dia, maka ini adalah sebagai kafarah. Ini adalah sebagai penebus dosa bagi orang tersebut. 

فلا يجمع لهما بين عقوبتي الدنيا والآخرة

Maka tidak akan dikumpulkan bagi kedua orang tersebut antara hukuman di dunia dan juga hukuman di akhirat. Artinya apa? Kalau di dunia sudah dipotong tangan maka di akhirat tidak akan diadzab oleh Allāh dengan sebab mencuri tadi. 

Orang yang berzina sudah dirajam di dunia maka Allāh tidak akan mengadzab dia di akhirat dengan sebab perzinahan tadi. 

Kita tahu bahwasanya adzab di akhirat ini adalah adzab yang sangat pedih. Tidak bisa dibandingkan dengan adzab di dunia.

فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌ

Artinya: Maka pada hari tersebut tidak ada yang mengadzab seperti adzabnya Allāh. [QS Al-Fajr: 25]

Dan sudah berlalu ketika kita membahas tentang iman dengan hari akhir yaitu pembahasan tentang surga dan juga neraka. Tidak bisa dibandingkan adzab yang ada di akhirat jauh lebih pedih daripada adzab yang ada di dunia. Sehingga ketika sudah dihukum oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala di dunia tidak akan diadzab oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala di akhirat. 

Tentunya seorang muslim lebih memilih adzab yang ringan daripada adzab yang pedih.

وهو أيضا خير في محل آخر حيث إن فيه حماية الأموال والأعراض والأنساب

Jadi orang yang berzina, orang yang mencuri tadi dipotong tangannya dibunuh itu adalah kejelekan. Tapi dari sisi yang lain itu adalah kafarah. Kemudian dilihat dari sisi yang lain lagi dengan adanya syari'at dipotong tangan dan dirajam orang yang berzina (mukhsan) di dalamnya ada penjagaan terhadap harta. 

Orang jadi takut melihat ada orang yang tidak punya tangan sebabnya adalah karena dia mencuri. Maka dia akan berpikir 1000 kali untuk mencuri. Untuk mengambil barang yang dia tidak berhak. 

والأعراض

Dan juga akan menjaga kehormatan.

Ketika manusia mendengar tentang dirajamnya si Fulan atau dirajamnya si Fulanah, maka dia akan berhati-hati dan akan menjaga kemaluan. Takut untuk melakukan perbuatan tadi karena Allāh. Sehingga masyarakat merasa aman, mereka merasa tenang hidup bersama. Tidak ada saling kecurigaan. Karena mereka masing-masing takut kepada Allāh dan menjaga hukum Allāh.

Tentunya ini adalah sebuah kebaikan. Dengan disyari'atkanya rajam ini, maka orang akan tidak bermudah-mudahan di dalam masalah kehormatan manusia. 

Antum bisa bandingkan dengan sebuah negara yang kafir, yang bermudah-mudahan. Tidak ada di sana hukum Islam, maka orang yang tinggal di sana tidak merasa aman dengan keluarga yang dia tinggalkan. Tidak ada di sana muraqabah kepada Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak ada di sana merasa diawasi. Tidak ada di sana syari'at yang mereka takuti.

والأنساب

Demikian pula dijaga nasab manusia.

Karena ketika seseorang takut berzina, otomatis di sini kita sedang menjaga nasab. Karena yang namanya perzinahan ini mencampurbaurkan nasab manusia. Sehingga nasab manusia menjadi rusak, menjadi tidak jelas. 

Dengan adanya syari'at dirajamnya seorang pezina yang mukhsan, maka ini jelas. Di antara hikmahnya adalah menjaga nasab manusia. 

Itu adalah akhir dari pembahasan beriman dengan takdir yang disebutkan oleh pengarang atau penulis yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullahu Ta'ala. 

Dan dengan demikian kita sudah mempelajari bersama dan membaca bersama apa yang disampaikan oleh Syaikh berupa beriman dengan takdir ini.

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Dan In syaa Allāh kita akan bertemu kembali pada pertemuan yang selanjutnya, pada waktu dan keadaan yang lebih baik.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•

Halaqah 09: Ciri Fisik Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam Bagian Kedua

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Senin , 13 Shafar 1443 H/ 20 September 2021 M
👤 Ustadz Abdullah Taslim, Lc. MA
📗 Kitāb Tahdzībus Sīratin Nabawiyyah (تهذيب السيرة النبوية)
🔊 Halaqah 09: Ciri Fisik Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam Bagian Kedua



*CIRI FISIK RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM (BAGIAN KEDUA)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد 

Alhamdulillāh. Ma'āsyiral Ikhwah wa Akhawat Fīdīn Rahimakumullāh.

Kita lanjutkan kembali, dengan taufik dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, pembahasan kitāb yang sangat bermanfaat Tahdzībus Sīratin Nabawiyyah (تهذيب السيرة النبوية) buah karya Al Imamu Hafizh Abu Zakariyya Yahya ibnu Syaraf An Nawawi Ad Dimasyqi rahimahullāhu ta'āla.

Bersama kajian yang diselenggarakan oleh BiAS (Bimbingan Islām) bersama saya, Abdullah bin Taslim.

Saat ini kita sampai di: الحلقة التاسعة, halaqah yang ke-9, melanjutkan pembahasan tentang ciri fisik Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Berkata Imam An Nawawi rahimahullāhu:

أشعر المنكبين والذراعين، وأعالي الصدر

_Bagian pundak dan lengan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berbulu, juga bagian atas dada Beliau._

 طويل الزندين

_Pergelangan tangan (antara telapak tangan dan tangan) Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam panjang._

رحب الراحة. أشكل العينين، أي: طويل شقيهما. منهوس العقبين - أي قليل لحم العقب

_Tangan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam lebar, sudut mata Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam panjang, kedua tumit Beliau dagingnya sedikit, (yakni) sedikit daging yang ada pada kedua tumit Beliau._

بين كتفيه خاتم النبوة كزرِّ الحجلة أو كبيضة الحمامة 

_Di antara kedua pundak Beliau, ada tanda kenabian semacam daging atau: شَامَة (tahi lalat yang besar). Ada tanda kenabian bentuknya seperti زِرّ (kancing) atau telur burung puyuh atau seperti حَمَامَة (telur merpati)._

Disebutkan oleh sebagian masyayikh (ulama kita) bentuk tanda kenabian Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam seperti daging tumbuh, seperti tahi lalat yang nampak atau terlihat, yang ada di antara dua pundak Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang besarnya seperti ukuran telur burung merpati. Disebutkan juga di situ (bagian daging tumbuh) ditumbuhi bulu-bulu. 

Itulah tanda kenabian yang ada pada tubuh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang terletak di antara dua pundak Beliau.

*• Cara Berjalan Rasūlullāh ﷺ*

Beliau rahimahullāh menambahkan penjelasan yang lalu:

وكان إذا مشى كأنما تطوى له الأرض

_Ketika Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berjalan, seolah-olah tanah itu digulung (karena cepatnya Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam melangkah)._

ويجدون في لحاقه وهو غير مكترث.

_Para shahabat yang ingin menyusul atau berjalan bersama Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam, harus bersungguh-sungguh (berjalan cepat) untuk bisa menyusul Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam, padahal beliau berjalan dalam keadaan غير مكترث (tidak kepayahan)._

Yaitu berjalan santai, tapi orang yang ingin menyusul beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam harus berjalan cepat.

 وكان يسدل شعر رأسه 

_Dan rambut Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dibiarkan terurai._ 

Diterangkan, artinya dibiarkan terurai turun di atas dahi Beliau. 

ثم فرقه، وكان يرجله ويسرح لحيته

_Setelah itu Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam memisahkan rambut di kepalanya (dijadikan dua bagian, di sisi kepalanya, tidak lagi dibiarkan turun di atas dahi Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam). Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menyisir rambut beliau dan merapihkan jenggot Beliau._

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam selalu merapihkannya (menurut keterangan di sini) meskipun ada hadīts Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang juga menyebutkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam membimbing kita untuk tidak terlalu sering (bagi laki-laki) merapihkan rambutnya.

ويكتحل بالإثمد كل ليلة في كل عين ثلاثة أطراف عند النوم.

_Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memakai celak dengan itsmid, (yang kita ketahui) sejenis bahan celak tertentu. Setiap malam pada setiap mata beliau dengan 3 kali kedipan ketika menjelang tidur._

*• Pakaian Rasūlullāh ﷺ* 

Kemudian dalam segi pakaian.

وكان أحب الثياب إليه: القميص والبياض

_Pakaian yang paling disukai Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah: القميص (pakaian gamis, termasuk jubah di sini atau pakaian gamis yang biasa kita lihat), yang berwarna putih._

والحبرة

_Juga sejenis pakaian dari kain yang bergaris._

وهي: ضرب من البرود فيه حمرة.

_Jenis kain bergaris yang ada warna kemerahan padanya._

Ini termasuk pakaian yang disukai oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Yang disebut dengan Hibarah (حبروة).

وكان كم قميص رسول الله - صلى الله عليه وسلم - إلى الرسغ 

_Dan panjang lengan baju Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sampai di pergelangannya._

Ini juga disebutkan di dalam hadīts riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi, hanya di dalam sanadnya ada kelemahan.

ولبس في وقت حلة حمراء وإزارًا ورداءً

_Pernah suatu saat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memakai pakaian berwarna merah, dengan sarung dan ada juga selendang di atasnya yang menutupi bagian atas Beliau._

وفي وقت ثوبين (أخضرين). 

_Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah memakai pakaian yang terdiri dari dua pakaian yang berwarna hijau._

وفي وقت جبة ضيقة الكمين

_Dan pada satu waktu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memakai pakaian jubah yang kedua lengannya (tangannya) sempit._

وفي وقت قباء.

_Dan pada waktu yang lain Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memakai Qibā (قباء) sejenis pakaian luar._

وفي وقت عمامة سوداء، وأرخى (طرفيها) بين كتفيه

_Di waktu yang lain Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah disebutkan memakai surban berwarna hitam. Dan kemudian Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menurunkan ujung atau bagian ekor dari surban tersebut, di antara kedua pundak Beliau._

وفي وقت مرطًا أسود من شعر

_Kadang-kadang pernah juga (satu waktu) Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memakai pakaian mirth berwarna hitam, dari bulu binatang (domba atau yang lainnya)._

⇒ Mirth (مرطًا) adalah pakaian yang ketika dikenakan dililitan di tubuh, karena pakaian tersebut tidak dijahit. 

أي: كساء. 

_Yaitu pakaian yang beliau pakai dari bulu._

ولبس الخاتم والخف والنعل.

_Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memakai cincin, (cincin Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam dari perak yang Beliau pakai di jari manis sebelah kanan, terkadang juga di jari manis sebelah kiri). Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam juga menggunakan Khuf (sepatu sampai menutupi mata kaki) dan terkadang beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam memakai sandal._

Inilah penjelasan tentang ciri fisik yang ada pada diri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang diterangkan di dalam bab ini.

Semoga bermanfaat untuk kita semua, untuk kita jadikan pelajaran dan kita mengambil teladan kebaikan dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam sifat-sifat baik beliau.

Demikianlah, cukup sampai di sini.

صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين 
والحمد الله رب العالمين
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
 
____________________

Sabtu, 18 September 2021

Kejelekan Tidak Boleh Disandarkan Kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (Bagian Pertama)

 🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 JUM’AT
| 10 Shafar 1443 H
| 17 September 2021 M

🎙 Oleh: Ustadz DR. Abdullah Roy M.A. حفظه الله تعالى
📕 Rukun Iman Keenam - Beriman Kepada Takdir Allāh

🔈 Audio ke-197
📖 Kejelekan Tidak Boleh Disandarkan Kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (Bagian Pertama)
~•~•~•~•~

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحاب ومن ولاه

Anggota grup WhatsApp Dirosah Islamiyah yang semoga dimuliakan oleh Allāh. Kita lanjutkan pembahasan kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh fadhilatus syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Setelah Beliau berbicara tentang batilnya orang yang berhujah dengan takdir atas kemaksiatan dan juga kefasikan. Beliau mengatakan,

ونؤمن بأن الشر لا ينسب إلى الله تعالى

Dan kita yaitu Ahlus Sunnah beriman, meyakini bahwasanya yang namanya kejelekan itu tidak boleh disandarkan kepada Allāh.

لكمال رحمته وحكمته

Yang demikian karena kesempurnaan rahmat Allāh dan juga hikmahNya.

Rahmat Allāh adalah rahmat yang sempurna dan hikmah Allāh adalah hikmah yang sempurna. Maka tidak boleh disandarkan kejelekan ini kepada diri Allāh.

Apa yang dilakukan oleh Allāh adalah kebaikan semuanya. Allāh Subhanahu Wa Ta'ala Dialah yang memiliki nama-nama yang Husna, dan Dialah yang memiliki sifat-sifat yang Ulya, dan apa yang Allāh lakukan semuanya adalah khair (semuanya adalah kebaikan).

Tidak boleh disandarkan kejelekan kepada Allāh. Apa yang Allāh lakukan pasti di sana ada hikmahnya. Dan ini berdasarkan rahmat Allāh Azza Wa Jalla.

قال النبي صلى الله عليه وسلم

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan,

والشر ليس إليك

“Dan kejelekan ليس إليك, tidak kepadaMu ya Allāh.”

Maksudnya adalah tidak disandarkan kepada Allāh. Tidak ada di dalam nama dan juga sifat Allāh dan juga أفعال الله (pekerjaan-pekerjaan Allāh) yang jelek. Semuanya adalah kebaikan. (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim).

فنفس قضاء الله تعالی ليس فيه شر أبدا

Maka di dalam apa yang Allāh takdirkan, maksudnya adalah apa yang dilakukan oleh Allāh maka tidak ada di dalamnya شر أبدا tidak ada di dalamnya kejelekan sama sekali.

لأنه صادر عن رحمة وحكمة

“Karena apa yang Allāh lakukan tadi, apa yang Allāh laksanakan itu adalah keluar dari rahmat Allāh dan juga berdasarkan hikmah Allāh.”

Itu adalah keluar dari rahmat dan juga hikmah. Berdasarkan rahmat Allāh dan juga berdasarkan hikmah dari Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga apa yang Allāh lakukan tidak ada kejelekan di dalamnya.

Kejelekan itu terletak dimana?

وإنما يكون الشر في مقضياته

“Sesungguhnya yang ada kejelekan adalah di dalam apa yang sudah Allāh takdirkan.”

Apa yang sudah Allāh ciptakan. Adapun fi'ilnya apa yang Allāh lakukan, fi'il Allāh maka tidak ada kejelekan di dalamnya. Tapi apa yang diciptakan oleh Allāh, apa yang ditakdirkan oleh Allāh di situ ada الشر  - nya. Dari mana kita tahu?

لقول النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في دعاء القنوت الذي علمه الحسن

“Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika beliau membaca doa qunut, dan doa qunut ini diajarkan kepada Hasan yaitu Hasan bin Ali Bin Abi Thalib.”

Beliau mengatakan Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,

وقني شر ما قضيت

“Dan jagalah aku ya Allāh dari kejelekan apa yang Engkau takdirkan.”

Jadi apa yang ditakdirkan oleh Allāh ada kejelekannya ada baiknya. Ada orang yang melakukan ketaatan, ada orang yang melakukan kemaksiatan, ada taat ada maksiat, ada musibah ada nikmat. Ketika seseorang mengatakan,

وقني شر ما قضيت

Berarti meminta kepada Allāh supaya dijauhkan dari takdir yang  شر tadi.

وقني شر ما قضيت

Makanya dalam hadits, hadits Jibril Beliau mengatakan.

وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.

Maksudnya adalah maf'ulnya, ma'dzinya sesuatu yang ditakdirkan yang diciptakan oleh Allāh itu ada yang baik ada yang buruk. Ada nikmat ada musibah. Ada taat ada maksiat. Itu yang dimaksud dengan,

وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Dan ini yang dimaksud dengan ucapan Beliau, وقني شر ما قضيت

فأضاف الشر إلى ما قضاه

Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menisbahkan (menyandarkan) kejelekan itu kepada apa yang ditakdirkan oleh Allāh. Apa yang ditakdirkan, maksudnya adalah berupa makhluk.

ومع هذا فإن الشر في المقضيات ليس شرآ خالصاً محضاً

Berarti hadits tadi menunjukkan bahwasanya kejelekan itu tidak disandarkan kepada pekerjaan-pekerjaan Allāh. Tetapi disandarkan kepada apa yang sudah ditakdirkan oleh Allāh. Yaitu makhluk yang ditakdirkan dan diciptakan oleh Allāh.

Kemudian, Syaikh menjelaskan.

ومع هذا

Meskipun demikian,

Artinya di dalam apa yang diciptakan oleh Allāh ada yang jelek ada yang bagus. Maka kata Syaikh

فإن الشر في المقضيات ليس شرآ خالصاً محضاً

Maka kejelekan yang ada di dalam apa yang diciptakan oleh Allāh dan apa yang ditakdirkan oleh Allāh itu bukan kejelekan yang murni.

Maksudnya adalah murni tidak ada kebaikannya sama sekali. Jadi meskipun ada di antara makhluk Allāh yang dia adalah syar, tapi bukan berarti dia jelek yang murni jelek.

 بل هو شر في محله من وجه خير من وجه، أو شرفي محله، خير في محل آخر.

Tidak murni jelek. Tapi apa? dia adalah jelek dari satu sisi dan dia baik dari sisi yang lain. Baik dari satu sisi tetapi jelek dari sisi yang lain. Atau,
 شر في محله

“Jelek di tempatnya.”

خير في محل آخر

“Tapi ternyata di tempat yang lain, dia adalah sebuah kebaikan.”

Ini berarti kejelekan yang dia miliki ini bukan kejelekan yang murni. Terkadang dilihat dari satu sisi dia jelek, tapi dilihat dari sisi yang lain dia baik. Di sebuah tempat dia jelek, tetapi di tempat yang lain dia baik.

Berarti dia bukan شرآ محضة (dia bukan kejelekan yang murni). Kejelekan yang tidak ada kebaikan sama sekali. Contoh misalnya di sini Beliau sebutkan bahwasanya kejelekan yang ada itu tidak murni kejelekan.

فالفساد في الأرض من الجدب والمرض والفقر والخوف شر

Maka kerusakan yang ada di bumi ini, baik berupa kemarau atau berupa penyakit atau berupa kefakiran, rasa takut maka ini adalah syar.

لكنه خير في محل  آخر

Akan tetapi dia adalah sebuah kebaikan di tempat yang lain.

قال الله تعالى
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Kata Allāh Subhanahu Wa Ta'ala, “Telah nampak kerusakan di darat maupun di lautan dengan sebab apa yang dilakukan oleh manusia, berupa dosa. Supaya Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan mereka merasakan akibat dari sebagian apa yang mereka lakukan.

 لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Supaya mereka mau kembali. [QS Ar-Rum: 41]

Kerusakan di darat maupun di lautan ini adalah syar (ini adalah kejelekan) dengan sebab dosa yang dilakukan oleh manusia. Tapi Allāh Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan,

 لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Supaya mereka mau kembali.”

Ini adalah hikmah. Berarti kejelekan tadi yang berupa kerusakan di darat maupun di lautan ada hikmahnya di sana, ada maksudnya. Yaitu supaya apa? Supaya mereka mau kembali kepada Allāh. Dan kembalinya seseorang kepada Allāh ini adalah khair (ini adalah kebaikan).

Mereka melakukan dosa, melakukan kemaksiatan, kemudian terjadi فَسَادُ (musibah) di permukaan bumi, di daratan maupun di lautan. Hikmahnya adalah supaya mereka mau kembali kepada Allāh. Dan ketika mereka mau kembali maka ini adalah kebaikan.

Berarti apa yang Allāh ciptakan berupa musibah, ini adalah syar. Tapi di sana ada hikmah yang baik.

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Dan In syaa Allāh kita akan bertemu kembali pada pertemuan yang selanjutnya, pada waktu dan keadaan yang lebih baik.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•

Jumat, 17 September 2021

Halaqah 08: Ciri Fisik Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam Bagian Pertama

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Jum'at, 10 Shafar 1443 H/17 September 2021 M
👤 Ustadz Abdullah Taslim, Lc. MA
📗 Kitāb Tahdzībus Sīratin Nabawiyyah (تهذيب السيرة النبوية)
🔊 Halaqah 08: Ciri Fisik Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam Bagian Pertama

⬇ *Link Evaluasi*

https://t.me/QuisWAGBIAS
〰〰〰〰〰〰〰

*CIRI FISIK RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM BAGIAN PERTAMA* 


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد 

Alhamdulillāh. Ma'āsyiral Ikhwah wa Akhawat Fīdīn Rahimakumullāh.

Kita kembali bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, memuji dan menyanjungnya atas semua limpahan nikmat dan juga karunia-Nya. 

Alhamdulillāh, kita dimudahkan kembali untuk bertemu melanjutkan kajian kitāb yang sangat bermanfaat, Tahdzībus Sīratin Nabawiyyah (تهذيب السيرة النبوية) buah karya Al-Imamu Hafidz Abu Zakariyya Yahya ibnu Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi rahimahullāhu ta'āla.

Dalam kajian yang diselenggarakan oleh Grup kajian BiAS (Bimbingan Islām) bersama saya Abdullah bin Taslim.

Saat ini kita sampai pada (الحلقة الثامنة) halaqah yang ke-8, kita akan membahas fasal yang baru:

في صفته ﷺ 

*▪︎ Ciri-Ciri Fisik Shallallāhu 'alayhi wa sallam*

Imam An-Nawawi rahimahullāhu ta'āla menjelaskan:

كان ﷺ ليس بالطويل البائن ولا القصير

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak terlalu tinggi dan pendek, jadi ukuran tubuh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sedang.

ولا الأبيض الأمهق، ولا الآدم

Warna kulitnya tidak putih yang sangat dan tidak juga coklat, antara keduanya. 

ولا الجعد القطط ولا بالسبط

Rambut beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak keriting tidak juga lurus (antara keriting dan lurus), bergelombang tapi tidak sampai keriting.

وتوفي وليس في رأسه عشرون شعرة بيضاء

Ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam wafat rambut putihnya tidak sampai dua puluh lembar.

وكان حسن الجسم، بعيد ما بين المنكبين, له شعر إلى منكبيه

Postur tubuh beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bagus. Kedua pundaknya lebar, rambut Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sampai pada pundak beliau.

وفي وقت إلى شحمتي أذنيه

Di waktu yang lain, disebutkan rambut beliau sampai di cuping telinganya.

وفي وقت إلى نصف أذنيه

Di waktu yang lain, rambut beliau sampai di pertengahan telinga beliau. 

Disebutkan dalam riwayat, terkadang ada yang menyebutkan di suatu waktu rambut Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sampai di pundaknya, di satu waktu sampai di cuping telinganya, di satu waktu sampai di pertengahan beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

كث اللحية، شثن الكفين ، أي غليظ الأصابع

Jenggot beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam lebat, telapak tangan beliau kasar, jarinya kasar. 

Tentunya untuk laki-laki hal ini adalah sifat yang terpuji, menunjukkan bahwa beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika bekerja, ketika menggenggam kuat. Tentu saja berbeda dengan perempuan, karena perempuan lebih pantas kalau dikatakan lembut. Tangannya lembut (misalnya)

ضخم الرأس والكراديس

Dikatakan di sini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki ukuran kepala yang besar dan tulang persendiannya juga besar.

في وجهه تدوير، أدعج العينين

Wajah beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bulat dan bola matanya sangat hitam.

طويل أهدابهما

Bulu matanya sangat panjang.

أحمر المآقي

Adapun sudut-sudut matanya merah.

ذا مَسْرُبَة، وهي: الشعر الدقيق من الصدر إلى السرة كالقضيب.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki bulu-bulu halus di dada beliau sampai di pusarnya. 

إذا مشى تقلع كأنما ينحط من صبب، أي: يمشي بقوة

Apabila beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam sedang berjalan, beliau berjalan cepat seperti orang yang berjalan, di jalanan yang turun dari tempat yang tinggi, artinya beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam jalannya cepat.

والصبب: الحدور

Artinya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kalau berjalan seperti jalan orang yang menurun yaitu jalannya cepat dan kuat.

يتلألأ وجهه (تلألؤ) القمر ليلة البدر

Wajah beliau bercahaya sebagaimana cahaya rembulan di malam purnama. Ini merupakan keistimewaan yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan bagi orang yang taat kepadanya, dan imannya sempurna seperti Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Dan beliau tentunya yang terbaik dalam hal ini.

Wajah beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bercahaya sebagaimana disebutkan oleh sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

إن في الحسنات لا ضياءً في الوجه ونورًا في القلب وقوة في الجسد ومحبة في قلوب الخلق


"Perbuatan baik yang dikerjakan seseorang akan memberikan cahaya dalam hatinya, kemudian membuat wajahnya putih berseri, dan memberikan kekuatan pada fisiknya dan kecintaan di hati makhluk kepadanya."

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam wajahnya bercahaya seperti cahaya rembulan di malam purnama.

كأن وجهه القمر. حسن الصوت. سهل الخدين. ضليع الفم

Seolah-olah wajah beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah rembulan, suara beliau indah, kedua pipi beliau datar, adapun mulut beliau (disebutkan di sini ضليع maksudnya lebar).

Diterangkan ini adalah kesempurnaan pada laki-laki (tentunya) sifat atau ciri-ciri seperti ini.

سواء البطن و الصدر 

Perut dan dada beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam rata.

Ini adalah ciri-ciri fisik Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang tentu saja ini dihimpunkan dari hadīts-hadīts yang kemudian dibawakan dalam bentuk penjelasan singkat seperti ini oleh Imam An-Nawawi rahimahullāhu ta'āla. 

Bārakallāhu Fīkum. In syā Allāh, di kesempatan berikutnya kita teruskan kembali pembacaan penjelasan Imam An-Nawawi rahimahullāhu ta'āla tentang ciri-ciri fisik Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Untuk sesi rekaman ini cukup sampai di sini, semoga bermanfaat.

صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين 
والحمد الله رب العالمين 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
 
____________________

Kamis, 16 September 2021

Bantahan Kepada Orang Yang Bermaksiat Kemudian Berhujjah Dengan Takdir (Bagian Kedua)

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _KAMIS_
| 09 Shafar 1443 H
| 16 September 2021 M

🎙 *Oleh: Ustadz DR. Abdullah Roy M.A. حفظه الله تعالى*
📕 _Rukun Iman Keenam - Beriman Kepada Takdir Allāh_

🔈 *Audio ke-196*
📖 *Bantahan Kepada Orang Yang Bermaksiat Kemudian Berhujjah Dengan Takdir (Bagian Kedua)*
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحاب ومن ولاه

Anggota grup WhatsApp Dirosah Islamiyah yang semoga dimuliakan oleh Allāh. Kita lanjutkan pembahasan kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh fadhilatus syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Beliau mengatakan Rahimahullahu,

ونقول للعاصي المحتج بالقدر

Kemudian kita katakan kepada orang yang berbuat maksiat yang dia berdalil dengan takdir. Kita katakan lagi kepadanya. 

لو كنت تريد السفر 
Kalau engkau ingin melakukan perjalanan.

 لمكة
Menuju kota Mekkah, misalnya. 

وكان لها طريقان أخبرك الصادق أن أحدهما مخوف صعب والثاني آمن سهل

Atau kita katakan kepada orang yang berhujah dengan takdir atas maksiat yang dia lakukan.

Seandainya Antum ingin safar menuju Mekkah, kemudian di depan Antum ada dua jalan. Datang orang yang jujur mengabarkan kepada Antum bahwasanya satu di antara dua jalan tadi adalah jalan yang menakutkan, yang mengerikan.

صعب
Ditambah dia adalah jalan yang susah.

Sementara jalan yang lain adalah jalan yang aman dan jalan yang mudah. Mudah kita lalui dan dia aman. Tidak ada perampok, tidak ada orang yang berusaha untuk mengganggu para pengguna jalan.

فإنك ستسلك الثاني ولا يمكن أن تسلك الأول وتقول إنه مقدر على، ولو فعلت لعدك الناس في قسم المجانين.

Seandainya orang yang jujur tadi mengabarkan kepada Antum orang yang berhujah dengan takdir atas maksiat bahwasanya satu di antara dua jalan tadi aman, mudah. Sementara yang lain adalah susah dan juga tidak aman. Maka engkau akan memilih jalan yang kedua. Jalan yang kedua itu jalan yang aman dan mudah. 

Dan tidak mungkin engkau akan menempuh jalan yang pertama yang sulit lagi tidak aman. Tidak mungkin Antum akan memilih jalan yang sulit dan juga tidak aman. Kemudian Antum mengatakan ini sudah ditakdirkan oleh Allāh. 

Kata Syaikh, لا يمكن (tidak mungkin yang demikian). Seandainya engkau melakukan yang demikian, artinya sudah jalan itu adalah jalan yang susah dan juga tidak aman kemudian Antum ngotot untuk melewati jalan tersebut. Apa kata manusia? Mereka akan menganggap Antum adalah orang yang gila.

Dalam masalah dunia saja Antum masih berpikir dan menggunakan akal Antum, menggunakan iradah Antum. Ada dua jalan, yang satunya aman satunya tidak aman. Antum memilih yang aman. 

Harusnya dalam masalah akhirat juga demikian. Di sana ada jalan yang aman menuju Allāh. Islam, iman, taat kepada Allāh dan juga Rasul Nya. Di sana ada jalan yang menyimpang, kemaksiatan kebid'ahan, kesyirikan. Maka harusnya Antum memilih jalan yang aman. Yang di dalamnya ada Islam, Iman, taat kepada Allāh dan juga Rasul Nya.  

Kemudian beliau mendatangkan hujjah yang lain,

ونقول له أيضا
Dan kita katakan kepadanya juga. 

لو غرض عليك وظيفتان : إحداهما ذات مرتب أكثر فإنك سوف تعمل فيها دون الناقصة فكيف تختار لنفسك في عمل الآخرة ما هو الأدنى ثم تحتج بالقدر؟

Kemudian kita katakan kepada orang tersebut, seandainya engkau ditawarkan 2 pekerjaan. Ini ahlul ma'siyah yang dia senang berdalil dengan takdir. 

Sekarang kalau ditawarkan 2 pekerjaan, salah satu di antara keduanya lebih besar gajinya daripada yang lain, sekarang mana yang Antum pilih? Niscaya engkau akan memilih pekerjaan yang gajinya besar. Itu dengan masalah dunia. Demikian pandainya Antum memilih. 

فكيف

Lalu bagaimana engkau justru memilih di dalam masalah amalan akhirat sesuatu yang rendah? Melakukan kemaksiatan, melakukan kefasikan, kemudian setelah itu Antum berdalil dengan takdir.

Di dalam masalah dunia saja, amalan dunia kita cari amalan atau pekerjaan yang lebih banyak gajinya. Lalu kenapa di dalam masalah akhirat Antum lebih memilih kefasikan, lebih memilih kemaksiatan? 

Harusnya yang Antum pilih adalah ketaatan yang di dalamnya nanti Allāh Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan pahala dan juga ganjaran kepada Antum.

ونقول له أيضا نراك إذا أصبت بمرض

Dan kami akan katakan kepada orang tersebut, kami melihat dirimu apabila ditimpa sebuah penyakit misalnya yang berkaitan dengan badan Antum. 

طرقت باب كل طبيب

Engkau mengetuk pintu seluruh dokter. Artinya kalau dalam keadaan sakit Antum berusaha untuk mengobati penyakit Antum dengan mendatangi dokter, bahkan bukan hanya satu dokter saja bahkan bisa lebih dari satu dokter. 

لعلاجك وصبرت على ما ينالك من ألم عملية الجراحة وعلى مرارة الدواء

Kalau engkau tertimpa musibah penyakit maka engkau pergi ke dokter untuk mengobati dirimu dan engkau bersabar atas apa yang menimpamu berupa operasi, misalnya. Sakitnya orang dioperasi atau berupa pahitnya obat. 

Antum melewati operasi tersebut dan meminum obat tersebut dan bersabar atas proses yang dilakukan oleh dokter tadi. 

فلماذا لا تفعل مثل ذلك في مرض قلبك بالمعاصي؟

Kalau demikian kenapa engkau tidak melakukan ini semuanya ketika Antum ingin mengobati penyakit yang ada di dalam hatimu berupa kemaksiatan? 

Kenapa kita tidak bersabar untuk taat kepada Allāh dan lebih memilih kemaksiatan dan juga kefasikan? 

Itu adalah beberapa hujah yang disampaikan oleh Syaikh Rahimahullah. Dan intinya orang yang berbuat maksiat kemudian dia berdalil dengan takdir Allāh Azza Wa Jalla, intinya dia mengikuti hawa nafsu. Di dalam masalah kemaksiatan dia berdalil dengan takdir tetapi dalam masalah urusan dunianya dia tidak pikirkan yang demikian. Dia mengikuti hawa nafsunya apa yang membawa keuntungan bagi dirinya. 

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Dan In syaa Allāh kita bertemu kembali pada pertemuan yang selanjutnya, pada waktu dan keadaan yang lebih baik.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•

Halaqah 07: Penguburan Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam Bagian Ketiga

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 09 Shafar 1443 H/16 September 2021 M
👤 Ustadz Abdullah Taslim, Lc. MA
📗 Kitāb Tahdzībus Sīratin Nabawiyyah (تهذيب السيرة النبوية)
🔊 Halaqah 07: Penguburan Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam Bagian Ketiga



*PENGUBURAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM (BAGIAN KETIGA)*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد 

Alhamdulillāh. Ma'āsyiral Ikhwah wa Akhawat Fīdīn Rahimakumullāh.

Kita kembali bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, memuji dan menyanjungnya atas semua limpahan nikmat dan juga karunia-Nya. 

Alhamdulillāh, dengan taufik-Nya kita diperkenankan kembali untuk melanjutkan kajian kitāb yang sangat bermanfaat, Tahdzībus Sīratin Nabawiyyah (تهذيب السيرة النبوية) buah karya Al Imamu Hafizh Abu Zakariyya Yahya Ibnu Syaraf An Nawawi Ad Dimasyqi rahimahullāhu ta'āla.

Saat ini kita akan melanjutkan halaqah yang ketujuh (الحلقة السابعة ) dari kajian yang diselenggarakan oleh BiAS (Bimbingan Islām) bersama saya, Abdullah Taslim.

Ini masih melanjutkan pembahasan tentang usia Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Pembahasan kali ini adalah tentang berapa lama Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tinggal di Mekkah dan Madīnah.

Kata Imam Nawawi rahimahullāhu ta'āla:

وبعث ﷺ رسولا إلى الناس كافة و هو ابن أربعين سنة و قيل أربعين و يوم

_Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus sebagai rasul kepada semua manusia ketika beliau berumur 40 tahun. Ada juga yang mengatakan ketika beliau berumur 40 tahun tambah satu hari._

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitāb Fathu Al Bāri menjelaskan bahwa umur Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika diutus adalah 40 tahun lebih 6 bulan. Ini berdasarkan perhitungan dalam sebuah hadīts yang shahīh. 

وأقام بمكة بعد النبوة ثلاث عشرة سنة، و قيل عشرا وقيل خمس عشرة (سنة)

_Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menetap di kota Mekkah setelah diutus menjadi Nabi selama 13 tahun, ada juga yang mengatakan 10 tahun ada juga yang mengatakan 15 tahun._

Meskipun banyak ulama yang menguatkan pendapat bahwasanya Beliau tinggal di Mekkah setelah diutus menjadi seorang nabi adalah selama 13 tahun.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbās radhiyallāhu 'anhumā di dalam Shahīh Al Bukhāri. 

ثم هاجر إلى المدينة، فأقام بما عشر سنين بلا خلاف

_Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam hijrah ke kota Madīnah dan tinggal di sana selama 10 tahun (tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama)._

وقدم المدينة يوم الإثنين لثنتي عشرة خلت من شهر ربيع الأول

_Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam datang ke kota Madīnah pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal._

Menjelang wafat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, Imam Al Hakim berkata: 

وبدأ الوجع برسول الله ﷺ، في بيت ميمونة، يوم الأربعاء لليلتين بقيتا من شهر صفر 

_Awal Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam sakit adalah di rumah istri Beliau yang bernama Maimunah radhiyallāhu 'anhā pada hari Rabu, dua hari terakhir di bulan Shafar._

Imam Ibnu Hajar memberikan penjelaskan tambahan di dalam kitāb Fathu Al Bāri: 

Sebelum wafat, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sakit keras. Kebanyakan ulama berpendapat selama 13 hari dan ada yang mengatakan ditambah satu hari yaitu selama 14 hari, ada juga yang mengatakan 12 hari. Dan mayoritas ulama mengatakan beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam sakit selama 13 hari.

*▪︎ Pembahasan Tentang Ibu Susu Rasūlullāh ﷺ*

أرضعته ﷺ، ثويبة - بضم المثلثة- مولاة أبي لهب أياما

_Ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam masih kecil (pertama kali) Beliau disusui selama beberapa hari oleh Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah bekas budak dari Abu Lahab._

Tsuwaibah ini diperselisihkan para ulama, apakah dia masuk Islām setelah itu atau tidak?!

ثم أرضعته حليمة بني أبي ذؤيب عبد الله بن الحارث السعدية 

_Setelah itu Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam disusui oleh ibu susunya yang terkenal yang bernama Halimah As Sa'diyah._

Nama lengkap beliau adalah Halimah bintu Abi Dzuaib Abdillāh ibni Al Hārits Al Sa'diyah. 

وروي عنها أنها قالت: كان يشب في اليوم شباب الصبي في شهر

_Diriwayatkan darinya bahwa dia berkata, "Pertumbuhan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat cepat (dalam sehari untuk anak kecil lain membutuhkan waktu sebulan)."_

Yang jelas, riwayat-riwayat ini dibawakan oleh para ulama ahli sejarah. Dan masalah disusukannya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Halimah As Sa'diyah banyak riwayat-riwayat yang menyebutkan hal ini. 

Meskipun ada beberapa keterangan sehubungan dengan hadīts ini, yang menyatakan, "Pertumbuhan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam sehari sama dengan pertumbuhan anak kecil yang lain selama sebulan."

Sebagian dari ulama mengatakan riwayat hadīts ini shahīh, meskipun ada sebagian ulama lain yang melemahkan, yang jelas riwayatnya diperselisihkan.

Kemudian:

ونشأ، ﷺ ، يتيما فكفله جده عبد المطلب، ثم عمه أبو طالب 

_Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tumbuh sebagai anak yatim, sebagaimana telah kita ketahui dari penjelasan yang lalu, Beliau diasuh oleh kakeknya Abdul Muththalib setelah itu oleh pamannya Abu Thālib (ayahnya Ali bin Abi Thālib)._

وطهره الله - عزوجل - من دنس الجاهلية فلم يعظم صنما لهم في عمره قط، 

_Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyucikan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dari kotoran-kotoran jahiliyyah. Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam selama hidupnya tidak pernah mengagungkan (menyembah) berhala._

Beliau tidak pernah menghadiri atau menyaksikan ritual dari perayaan-perayaan kafir mereka.

وكان يطلبونه لذلك فيمتنع ويعصمه الله - تعالى - من ذلك.

_Padahal mereka meminta Beliau untuk hadir dan Beliau menolaknya. Itulah adalah penjagaan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla terhadap Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam._

Di dalam sebuah hadīts, disebutkan dari Ali bin Abi Thālib radhiyallāhu 'anhu, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

ما عبدت صنمًا قطُّ، وما شرِبْتُ خَمرًا قطُّ، ومازلتُ أعرف أنَّ الذي هم عليه كفر

_"Aku tidak pernah menyembah berhala, dan aku tidak pernah minum minuman keras, dan aku mengetahui apa yang mereka lakukan adalah kekufuran."_

Imam An Nawawi berkata: 

وهذا من لطف الله - تعالى

_Dan ini termasuk kasih sayang yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam._

Karena Allāh menyucikannya dari kotoran jahiliyyah, dari segala aib dan celaan, dan Allāh anugerahkan kepada beliau akhlak indah akhlak mulia. 

Sehingga kita ketahui Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dikenal di kaumnya sebagai: الأمِيْن (orang yang terpercaya), karena kaumnya (kafir quraisy) mempersaksikan sifat amanah, kejujuran dan kesucian yang ada pada diri Beliau.

Thayyib, tentu hadīts tadi disebutkan di sini, dinisbatkan oleh Imam Suyuti di dalam Al Khashāish Al Kubra dan Abu Nu'aim dan Imam Suyuti menisbatkan kepada Imam Asy Syakir.

Ketika Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mencapai usia 12 tahun, paman yang mengasuhnya (Abu Thālib) membawa Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam ke negeri Syam untuk berniaga.

⇒ Busra adalah sebuah kota yang terletak di sebelah selatan arah barat Suriah atau Syria saat ini, ibu kotanya adalah Damaskus.

Sampai di kota Busra seorang pendeta yang bernama Bahira melihat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kecil, Bahira mengenal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dari sifat-sifatnya. Dan Bahira mengetahui bahwa Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah seorang nabi.

Kemudian Bahira mendatangi rombongan Abu Thālib, lalu memegang tangan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan mengatakan: 

هذا سيد العالمين، هذا رسول رب العالمين، هذا يبعثه الله حجَّة للعالمين.

_"Inilah pemimpin seluruh manusia di alam semesta ini. Ini adalah rasul yang diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebagai argumentasi bagi semua makhluk di alam semesta."_

Kemudian rombongan Abu Thālib bertanya:

فمن أين علمت هذا؟

_"Dari mana kamu mengetahui ini?"_

Pendeta (Bahira) berkata: 

إنَّكم حين أقبلتم من العقبة لم يبقَ (شجر) ولا حجر إلا خر ساجدًا، ولا يسجد إلا لنبي، وإنَّا نَجِدُه في كتبنا.

_Ketika kalian datang dari Aqaba (jalan yang tinggi di atas bukit) tidak tersisa satu pohon atau batu pun kecuali semuanya jatuh dan bersujud kepadanya. Dan mereka tidak akan sujud kecuali kepada Nabi dan kami mendapati di dalam kitāb-kitāb kami._

Kemudian pendeta itu meminta agar Abu Thālib segera kembali bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, karena takut orang Yahudi akan menyakitinya. Kemudian Abu Thālib membawa pulang kembali Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kisah ini sebagian ulama melemahkannya akan tetapi Syaikh Al Albaniy rahimahullāhu ta'āla menshahīhkan riwayat ini, yang terdapat di dalam Sunan At Tirmidzi. Syaikh Al Albaniy menghukuminya sebagai hadīts yang shahīh. 

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk kedua kalinya pergi ke negeri Syam bersama Maisarah, budak milik Khadijah radhiyallāhu 'anhā, untuk sebuah perniagaan. Saat itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam belum menikah dengan Khadijah radhiyallāhu 'anhā. Sampai tiba di pasar Bushra. 

فلما بلغ خمسًا وعشرين سنة تزوَّج خديجة

_Ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mencapai usia dua puluh lima tahun, beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menikah dengan Khadijah radhiyallāhu 'anhā._

Kisah ini juga masyhur di dalam buku-buku sejarah Islām. 

ولما خرج إلى المدينة مهاجرا خرج معه أبو بكر الصديق رضي الله عنه 

_Kemudian setelah itu Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam hijrah ke Madīnah bersama Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallāhu 'anhu ._

Setelah sebelumnya mendapati perlawanan yang sangat keras dari kaum kafir Quraisy.

Kemudian Beliau mencari kabilah-kabilah Arab yang mau mengimani (membela) beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam, ternyata tidak ada yang bersedia kecuali dari kalangan penduduk Madīnah (kaum Anshar), 

Ketika pertama kali Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar (hijrah) menuju Madīnah berhijrah ke sana, Beliau bersama Abu Bakar Ash Shiddiq dan bekas budak Abu Bakar yang bernama Amir ibnu Fuhairah (dengan dhammah fa/بضم الفاء) dan sebagai penunjuk jalan saat itu adalah Abdullāh ibnu Al Uraiqith Al Laifi dan ketika itu dia masih kafir dan tidak diketahui apakah dia masuk Islām setelah itu.

Inilah yang dibawakan dalam pembahasan ini, tentang umur Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sampai pembahasan tentang awal hijrah Beliau ke Madīnah.

Semoga apa yang kita bahas di halaqah yang ketujuh ini memberikan faidah kepada kita semua, memberikan ilmu yang bermanfaat.

Demikianlah saya cukupkan.

صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين 
والحمد الله رب العالمين 
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك 
 والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

____________________