Rabu, 08 April 2020

_Beriman Bahwasanya Allah Berbicara (Memiliki Sifat Kalam) Sesuai Dengan Kehendak-Nya Bagian Ketiga_

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _RABU_
| 07 Sya’ban 1441 H
| 01 April 2020 M

 🎙 *Oleh : Ustadz DR. Abdullah Roy M.A. حفظه الله تعالى*
 📗 *Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah*

🔈 *Audio ke-43*
📖  _Beriman Bahwasanya Allah Berbicara (Memiliki Sifat Kalam) Sesuai Dengan Kehendak-Nya Bagian Ketiga_
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصْحابه  ومن والاه

Anggota grup whatsapp Dirosah Islamiyyah, yang semoga dimuliakan oleh Allah.

Kita lanjutkan pembahasan Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh Fadhilatul Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala. 

Masih kita pada pasal Beriman Kepada Allah. 

Kemudian setelahnya beliau mendatangkan firman Allah:

وَنَـٰدَيْنَـٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَـٰهُ نَجِيًّۭا

"Dan Kami memanggilnya dari samping kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami).

Ini masih berkaitan dengan nabi Musa karena beliau adalah kalimullah dan Beliau termasuk nabi yang banyak disebutkan oleh Allah didalam Al-Qur'an.

Allah memanggil nabi Musa alayhissalam dari samping kanan gunung Thur (karena gunung Thur ada samping kanan dan kiri), para ulama menjelaskan yang dimaksud dengan نَـٰدَيْنَـٰهُ = kami memanggilnya ; dalam bahasa Arab “memanggil” = “نداء”  adalah mengucapkan dengan suara yang keras.

Orang dinamakan memanggil kalau dia mengucapkan ucapan yang keras. Kalau dia mengucapkan ucapan yang lirih itu bukan memanggil.

ينَـٰدَ maksudnya adalah memanggil dengan suara yang keras. Mereka mengatakan, "Anda صوت fulan, Anda صوت من fulan" maksudnya adalah lebih keras suaranya. Fulan suaranya lebih keras daripada si fulan.

Karena نداء dalam bahasa Arab adalah suara yang keras, dan Allah saat itu memanggil nabi Musa alayhissalam dengan suara yang keras.

وَقَرَّبْنَـٰهُ نَجِيًّۭا

"Dan kemudian kami dekatkan dia dalam keadaan bermunajat.“

Para ulama menjelaskan dalam keadaan bermunajat berarti di sini Allah berbicara dengan suara lirih. 

Jadi ketika Musa alayhissalam jauh maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memanggil dia dengan suara yang keras, kemudian Allah dekatkan, kemudian Allah berbicara lirih kepada nabi Musa alayhissalam.

⇒ Awalnya Allah berbicara dengan keras setelahnya Allah berbicara dengan suara yang rendah.

Maka seperti yang disampaikan oleh syaikh bahwasanya Allah berbicara كيف شاء = sesuai dengan kehendak-Nya. Mau dengan suara yang keras atau suara yang rendah, kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat kalam.

Masalah sifat kalam banyak sekali aliran-aliran yang menyimpang dan tersesat sehingga ada sebagian penulis yang dia mengkhususkan kitab khusus tentang aqidah Ahlus Sunnah tentang kalamullah Azza wa Jalla ini.

⇒ Jadi dia adalah termasuk sifat Allah dan sifat Allah bukan makhluk. Kalau kita sudah yakin bahwasanya dia adalah sifat Allah maka sifat Allah bukan makhluk.

Adapun Mu'tazilah mereka meyakini kalamullah adalah makhluk dan bukan sifat. Mereka meyakini Allah menciptakan kalam-Nya. Kalam di luar seperti Allah menciptakan bumi, Allah menciptakan langit, mereka meyakini bahwasanya Allah menciptakan kalam, bukan Allah berbicara.

Sehingga mereka meyakini Al-Qur'an adalah makhluk bukan sifat di antara sifat-sifat Allah. Kemudian mereka mengatakan bahwasanya firman Allah (misalnya) :

وَإِنْ أَحَدٌۭ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ٱسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَـٰمَ ٱللَّهِ 

"Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.” [QS At-Tawbah: 6]

Kalam di sini mereka meyakini ini adalah penyandaran makhluk kepada yang menciptakan, إضافة خلق الى خلقه. Penyandaran makhluk kepada yang menciptakan, Jadi Allah yang menciptakan kalam.

Mereka mengatakan sebagaimana, نَاقَةَ ٱللَّهِ,  مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ.

نَاقَةَ ٱللَّهِ = untanya Allah, di sini adalah penyandaran makhluk kepada yang menciptakan.

مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ maksudnya adalah penyandaran makhluk kepada yang menciptakan.

بَيْتِي penyandaran rumah Allah kepada yang menciptakan.

Mereka mengatakan bahwasanya kalamullah satu bab dengan penyandaran-penyandaran tadi.

Dan yang benar bahwasanya kalamullah di sini adalah penyandaran sifat kepada مَوْصُوْف - maushufnya. Penyandaran sifat kepada yang memiliki sifat tadi.

Kalamullah, kalam adalah sifat Allah. Allah , Dialah yang memiliki sifat tadi. Jadi Al-idhafah penyandaran di dalam dalil yang di-idhafah-kan kepada Allah disandarkan kepada Allah itu ada dua macam.

1. Idhafatul Al-Khalq kepada khaliq 
2. Penyandaran sifat kepada yang memiliki sifat 

Dan untuk kalamullah maka ini adalah penyandaran sifat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kepada yang memiliki sifat dan bukan penyandaran makhluk kepada khaliqnya.

Dari mana kita tahu ?

Berdasarkan dalil-dalil, menunjukkan bahwasanya Al-Qur'an bukan makhluk dan zaman dahulu sempat terjadi fitnah yang besar.

Di zaman Al-Imam Ahmad, orang-orang Mu'tazilah yang meyakini bahwa Al-Qur'an adalah makhluk, saat itu sempat mereka dekat dengan beberapa penguasa, sehingga beberapa penguasa ada yang sempat terpengaruh. Bahkan mereka mewajibkan rakyatnya untuk meyakini keyakinan ini dan diajarkan di sekolah-sekolah sampai tingkat yang paling dasar, mereka dipaksa untuk meyakini bahwasanya Al-Qur'an adalah makhluk Allah Azza wa Jalla.

Para ulama menjelaskan aqidah yang benar termasuk di antaranya adalah Al-Imam Ahmad rahimahullah beliau termasuk yang gigih, tegar di dalam menghadapi itu semua dengan kesabaran.

Menjelaskan kepada manusia, menjelaskan kepada ulama-ulama Mu'tazilah dengan dalil, dan beliau bersabar dengan siksaan, dengan penjara, dengan cambuk, dan beliau tidak memberontak kepada penguasa. Karena beliau masih meyakini bahwa mereka adalah muslim dan mereka hanya terpengaruh saja dengan ulama-ulama Mu'tazilah tadi.

Akhirnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan pertolongan kepada beliau, ada di antara penguasa yang mendapatkan hidayah dan akhirnya justru mendukung dakwah beliau rahimahullah.

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Dan in sya Allah kita bertemu kembali pada pertemuan yang selanjutnya pada waktu dan keadaan yang lebih baik.


والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

════ ❁✿❁ ════

Selasa, 07 April 2020

HALAL, HARAM DAN SYUBHAT

┏📚🍃━━━━━━━━━┓
    *Kuliah Studi Islam (KSI)*
┗━━━━━━━━━🖊✉️┛
*Paket  : 08*
*Bab      : 06*
*Judul    : HALAL, HARAM DAN SYUBHAT*

===📚===

بسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

_Assalamu’alaikum Warohmatulloh Wabarokatuh._

Alloh ta'ala telah menurunkan Al Qur’an untuk menjelaskan hukum segala sesuatu bagi manusia dan Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam juga diutus untuk menjelaskan apa yang ada dalam Al-Qur’an.  Jadi Al Qur’an sebenarnya adalah penjelas tentang hukum-hukum, dan untuk memperjelas lagi apa yang ada dalam Al-Qur’an maka Alloh mengutus Rosul-Nya.

Segala sesuatu dibagi menjadi tiga yaitu:  *halal, haram dan syubhat*.

*Perkara yang halal adalah* perkara-perkara yang jelas-jelas diperbolehkan seperti memakan makanan dan meminum minuman yang baik, menikah, jual beli dan lain sebagainya. 

Adapun *perkara yang haram adalah* perkara-perkara yang jelas-jelas dilarang seperti memakan bangkai, minum khomr, berzina, praktek riba dan lain sebagiainya. Kehalalan dan keharaman ini jelas dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Adapun *perkara syubhat, yaitu* hal yang tidak jelas boleh atau tidaknya. Karena itu banyak orang yang tidak mengetahuinya. Seperti syubhatnya bermuamalah dengan orang yang hartanya bercampur dengan riba. 

*Perkara yang syubhat itu muncul karena beberapa sebab*, yaitu: kebodohan, tidak memahami lebih jauh dalil-dalil syar’i, tidak mau merujuk pada perkataan ulama yang lebih dalam ilmunya dan kokoh pemahamannya, atau karena perselisihan ulama tentang hukum sesuatu. 

➡️ *Syubhat terbagi menjadi tiga macam*:
1. Sesuatu yang haram, namun kemudian timbul keraguan karena tercampur dengan yang halal. Misalnya ada dua kambing, salah satunya disembelih orang kafir, namun tidak jelas kambing yang mana yang disembelih orang kafir tersebut. Dalam hal ini tidak diperbolehkan memakan daging tersebut, kecuali jika benar-benar diketahui mana kambing yang disembelih orang kafir dan mana yang disembelih mukmin.

2. Sesuatu yang halal, namun kemudian timbul keraguan. Seperti: seorang istri yang ragu apakah ia telah dicerai atau belum. 

3. Sesuatu yang diragukan halal haramnya. Dalam masalah ini lebih baik menghindarinya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rosululloh   terhadap kurma yang beliau temukan di atas tikarnya, beliau tidak memakan kurma tersebut karena dikhawatirkan kurma sedekah. 

Jalan yang terbaik adalah meninggalkan perkara syubhat. Sehingga seseorang tidak boleh tergesa-gesa menghukumi suatu perkara hingga jelas baginya apakah itu halal atau haram. 

============================
*SILAHKAN KIRIM PERTANYAAN ANDA TTG MATERI INI VIA WA. SOAL-SOAL ANDA SEBATAS MATERI KSI AKAN  DIJAWAB PADA STADIUM GENERAL YANG AKAN KAMI LAKSANAKAN DI KOTA ANDA. WAKTU DAN LOKASI AKAN KAMI INFOKAN.*
*INSYAALLOH..*
*FORMAT PERTANYAAN:*
PAKET# NO BAB# KOTA#NO MEMBER#ISI PERTANYAAN
*CONTOH:*
1#3#JAKARTA#SM-123#Bagaimana cara agar ibadah kita lebih khusyu?

============================
🌐 *MEDIA LEMBAGA STUDI ISLAM*

Web : www.elsihasmi.com
WA   : http://wa.me/6282122669373
https://www.youtube.com/c/LembagaStudiIslam

🔊 *Lembaga Studi Islam (eLSI)* 🔊

_Beriman Bahwasanya Allah Berbicara (Memiliki Sifat Kalam) Sesuai Dengan Kehendak-Nya Bagian Keempat_

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _KAMIS_
| 08 Sya’ban 1441 H
| 02 April 2020 M

 🎙 *Oleh : Ustadz DR. Abdullah Roy M.A. حفظه الله تعالى*
 📗 *Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah*

🔈 *Audio ke-44*
📖  _Beriman Bahwasanya Allah Berbicara (Memiliki Sifat Kalam) Sesuai Dengan Kehendak-Nya Bagian Keempat_
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصْحابه  ومن والاه

Anggota grup whatsapp Dirosah Islamiyyah, yang semoga dimuliakan oleh Allah.

Kita lanjutkan pembahasan Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh Fadhilatul Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala. 

Masih kita pada pasal Beriman Kepada Allah. 

Dan masih berkaitan dengan kalamullah,

ونؤمن بأنه:

Dan kami (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) beriman bahwasanya Allah, Dialah yang memiliki sifat:

لَّوْ كَانَ ٱلْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَـٰتِ رَبِّى لَنَفِدَ ٱلْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَـٰتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِۦ مَدَدًا 

Yang artinya, "Seandainya laut ini menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Rabbku (ucapan Allah)”.

Seandainya lautan yang luas ini, kita tahu bahwasanya laut di bumi ini lebih luas daripada daratan, laut yang luas ini, yang dalam dan luas itu menjadi  مِدَادًا  menjadi tinta untuk menulis kalamullah. Disiapkan untuk menulis kalamullah. Apakah cukup untuk menulis kalamullah? Allah mengatakan,

لَنَفِدَ ٱلْبَحْرُ

Niscaya air laut tadi yang digunakan untuk menulis kalamullah akan habis.

 قَبْلَ أَنْ تَنفَدَ كَلِمَتُ رَبِى

"Sebelum habis kalimat Allah maka itu akan habis."

Menunjukkan bahwasanya kalimat Allah Subhanahu wa Ta'ala ini adalah tidak terhingga. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala Dialah yang kekal dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan, Allah melakukan, maka di sana ada kalam yang terus langgeng.

Bagaimana lautan bisa menjadi tinta untuk menulis Kalamullah, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala Dialah yang Maha Kekal dan Dialah yang memiliki sifat kalam, dan Dialah yang memiliki nama (Al-Khaliq) Yang Menciptakan dan Dialah (Al-Akhir) Dialah yang yang akhir, tidak ada sesuatu setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Maka ini menunjukkan bahwasanya kalimat-kalimat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah sangat banyak. Tidak mungkin air laut seandainya dia menjadi tinta untuk menulis kalamullah semuanya. Makanya setelahnya Allah menuliskan,

وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِۦ مَدَدًا

"Meskipun Kami mendatangkan dengan yang semisalnya.” 

Meskipun Kami mendatangkan dengan yang semisalnya, tidak akan mampu juga. Meskipun di datangkan air laut yang semisalnya, tidak akan mampu dan tidak akan bisa menulis seluruh kalamullah.

Menunjukkan bahwasanya kalamullah ini adalah sangat luas dan tidak terhingga. Ini disebutkan Allah di dalam surat Al-Kahfi ayat yang ke-109.

Kemudian selanjutnya Allah sebutkan,

وَلَوْ أَنَّمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَـٰمٌ وَٱلْبَحْرُ يَمُدُّهُۥ مِن بَعْدِهِۦ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَـٰتُ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Seandainya apa yang ada di bumi ini berupa pohon-pohonan dia menjadi (أَقْلَمُ) dia menjadi pena. 

وَٱلْبَحْرُ يَمُدُّهُۥ مِن بَعْدِهِۦ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ

Jadi penanya tadi adalah pohon-pohon yang ada di seluruh dunia ini. Siapa di antara kita yang bisa menghitung seluruh pohon yang ada di bumi, tidak mengetahui jumlahnya kecuali Allah. Silahkan itu menjadi pena semuanya dan air laut menjadi tintanya untuk menulis kalimat Allah. 

Kalau mau ditambah dengan tujuh samudra yang lain. 

مَّا نُفِدَتْ كَلِمَتُ اللَّهِ

"Niscaya kalimat Allah tidak akan habis.”

إِنَّ اللَّهَ عَزِبْزٌ حَكِيْمٌ

"Sesunguhnya Allah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
 
Disebutkan oleh Allah dalam surat Luqman ayat ke-27 dan ini juga menguatkan ayat yang sebelumnya bahwasanya kalimat-kalimat Allah ini sangat luas dan tidak terhingga, sehingga meskipun ditambah dengan air laut yang lain, ditambah dengan air laut yang lain, maka ini tidak akan habis kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla.

Ini menunjukkan kalamullah berbeda dengan kalam manusia. Allah memiliki sifat kalam dan manusia memiliki sifat kalam, tapi beda antara kalamullah dengan kalam manusia. 

Ucapan manusia terbatas sekali. Ucapan saya, ucapan para pendengar sekalian. Cukup beberapa tinta yang dibutuhkan, pena yang dibutuhkan untuk menulis kalimat-kalimat kita, adapun kalamullah maka tidak terhingga. 

Maka bagaimana disamakan antara kalamullah dengan kalam makhluk. Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat kalam sesui dengan keagungan-Nya. Kalam Allah adalah sifat yang sempurna tidak sama dengan sifat makhluk.

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Dan in sya Allah kita bertemu kembali pada pertemuan yang selanjutnya pada waktu dan keadaan yang lebih baik.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

════ ❁✿❁ ════

Senin, 06 April 2020

RUKUN ISLAM

┏📚🍃━━━━━━━━━┓
    *Kuliah Studi Islam (KSI)*
┗━━━━━━━━━🖊✉️┛
*Paket  : 08*
*Bab      : 03*
*Judul    : RUKUN ISLAM*

===📚===

بسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

_Assalamu’alaikum Warohmatulloh Wabarokatuh._

*Islam mempunyai lima rukun*, yaitu: syahadat la ilaha illalloh dan muhammad rosululloh, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa di bulan romadhon, pergi haji bila mampu. 

*La Ilaha Illalloh* berarti tidak ada Ilah yang hak selain Alloh, tidak ada Robb yang berhak diibadahi selain Alloh, tidak ada pencipta selain Alloh, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan selain Alloh, tidak ada kesempurnaan yang mutlak selain pada Alloh, tidak ada satu dzat pun yang berada di luar genggaman kekuasan Alloh, tidak ada hakim yang maha benar selain Alloh, tidak ada hukum dan undang-undang yang boleh diterapkan selain hukum-hukum Alloh, tidak ada agama yang boleh dianut selain agama Alloh.  

*Arti syahadat Muhammad Rosululloh*, bahwa beliau adalah utusan Alloh yang terakhir, yang diutus kepada seluruh hamba-Nya, baik jin maupun manusia, kepada seluruh bangsa, hingga datangnya hari kiamat, untuk menyampaikan agama-Nya. 
Beliau harus dipercayai dan ditaati dengan sepenuhnya, maka tidak ada lagi jalan menuju kepada Alloh selain melalui syari’at yang diajarkannya. Bermaksiat kepadanya berarti bermaksiat kepada Alloh. Siapa yang mendustakannya dalam perkara sekecil apa pun, berarti telah keluar dari agama Alloh.

Percaya dan yakin bahwa beliau telah menyampaikan risalah Alloh dan tidak mensyari’atkan apa pun juga selain apa yang diwahyukan kepadanya.

Sesungguhnya sholat merupakan tiang agama Islam, sebagaimana tiang pada bangunan. Bangunan itu tidak berdiri, kecuali dengan tiang tersebut. Jika tiang itu roboh, maka bangunan pun roboh. 

Zakat Alloh wajibkan atas orang yang mampu, dan diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Orang yang sudah wajib zakat, namun tidak membayarnya, maka ia mendapatkan dosa besar dan ancaman yang keras. 
Puasa adalah beribadah kepada Alloh dengan menahan perkara yang membatalkan puasa, semenjak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Umat telah sepakat tentang kewajiban puasa Romadhon. Orang yang mengingkarinya adalah kafir dan murtad dari Islam. 

Haji adalah beribadah kepada Alloh dengan pergi ke kota Mekkah untuk menunaikan serangkaian ibadah. Kewajiban haji hanya bagi orang yang memiliki kemampuan, yang mencakup tiga perkara yaitu: sehat jasmani, bekal yang cukup untuk pergi dan pulang, bagi dirinya maupun bagi keluarganya yang ditinggalkan, keamanan perjalanan menuju tanah suci.

============================
*SILAHKAN KIRIM PERTANYAAN ANDA TTG MATERI INI VIA WA. SOAL-SOAL ANDA SEBATAS MATERI KSI AKAN  DIJAWAB PADA STADIUM GENERAL YANG AKAN KAMI LAKSANAKAN DI KOTA ANDA. WAKTU DAN LOKASI AKAN KAMI INFOKAN.*
*INSYAALLOH..*
*FORMAT PERTANYAAN:*
PAKET# NO BAB# KOTA#NO MEMBER#ISI PERTANYAAN
*CONTOH:*
1#3#JAKARTA#SM-123#Bagaimana cara agar ibadah kita lebih khusyu?

============================
🌐 *MEDIA LEMBAGA STUDI ISLAM*

Web : www.elsihasmi.com
WA   : http://wa.me/6282122669373
https://www.youtube.com/c/LembagaStudiIslam

🔊 *Lembaga Studi Islam (eLSI)* 🔊

TAKDIR MANUSIA TELAH DITETAPKAN

┏📚🍃━━━━━━━━━┓
    *Kuliah Studi Islam (KSI)*
┗━━━━━━━━━🖊✉️┛
*Paket  : 08*
*Bab      : 04*
*Judul    : TAKDIR MANUSIA TELAH DITETAPKAN*

===📚===

بسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

_Assalamu’alaikum Warohmatulloh Wabarokatuh._

*Takdir manusia telah ditetapkan oleh Alloh ta'ala* ketika ia berada di dalam perut ibunya, yakni telah ditakdirkan rezekinya, amalannya, ajalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia. 

Seorang muslim harus meyakini bahwa *rezkinya telah ditetapkan oleh Alloh*. Karena itulah seorang muslim tidak boleh khawatir masalah rezki untuk dirinya dan anak keturunanya. 

*Ajal manusia telah ditetapkan oleh Alloh ta'ala*. Dimana ia meninggal dan kapan ia meninggal dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui, karena ini adalah suatu hal yang termasuk ilmu ghoib. Ajal ini adalah suatu hal yang tidak bisa ditolak, dan ia adalah sesuatu yang tidak dapat diakhirkan atau dikedepankan. 

*Amal seseorang juga telah ditetapkan oleh Alloh ta'ala*. Barangsiapa yang bertaqwa dan memang telah ditetapkan baginya, maka Alloh akan memudahkan baginya.  Oleh karenanya seorang muslim harus banyak berdoa kepada Alloh untuk ditetapkan kepadanya kebaikan. 

Keyakinan Ahlussunnah wal jamaa’ah: *tidak boleh seorang berhujjah dengan takdir dalam melakukan kemaksiatan*. Maksudnya tidak boleh seseorang melakukan kemaksiatan, kemudian berkata “memang takdir saya berbuat ini” (misalnya berbuat zina) atau mengatakan “memang takdir saya mencuri saja”. Seorang muslim wajib berusaha mencapai kebaikan dan berprasangka baik kepada Alloh ta'ala . Berprasangka baik kepada Alloh maksudnya kita berprasangka bahwa Alloh menginginkan kebaikan pada kita, Alloh menakdirkan kepada kita syurga, sehingga kita berusaha untuk meraih syurga itu.

Alloh juga telah menetapkan apakah seseorang itu sengsara atau bahagia. Dan hanya ada dua kemungkinan, seseorang akan beruntung atau merugi. Dan kesengsaraan atau kecelakaan hanya ada satu tempatnya yaitu neraka. Demikian pula kebahagiaan hanya ada satu tempatnya yaitu syurga. 

Seseorang itu tidak mengetahui kesudahannya atau seseorang tidak boleh memastikan bahwa ia akan masuk syurga atau neraka. Kita tidak boleh mengatakan saya ahli syurga atau ahli neraka. 

Yang terpenting adalah *kita wajib berusaha mati dalam keadaan muslim*, dan mati dalam keadaan muslim tidak mungkin diraih kecuali kita hidup dalam keadaan Islam. Oleh karena itu, hendaknya kita membiasakan diri dengan amalan-amalan yang baik, mencintai amalan kebaikan, sehingga pada saat kita membutuhkan pertolongan, Alloh ta'ala akan menyelamatkan kita.

🌐 *MEDIA LEMBAGA STUDI ISLAM*

Web : www.elsihasmi.com
WA   : http://wa.me/6282122669373
https://www.youtube.com/c/LembagaStudiIslam

🔊 *Lembaga Studi Islam (eLSI)* 🔊

_Beriman Bahwasanya Kalam Allah Adalah Yang Paling Benar Beritanya, Adil Di Dalam Hukum-Hukumnya, dan Baik Di Dalam Ucapannya_

🌐 *WAG Dirosah Islamiyah*
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

▪🗓 _JUM’AT_
| 09 Sya’ban 1441 H
| 03 April 2020 M

 🎙 *Oleh : Ustadz DR. Abdullah Roy M.A. حفظه الله تعالى*
 📗 *Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah*

🔈 *Audio ke-45*
📖  _Beriman Bahwasanya Kalam Allah Adalah Yang Paling Benar Beritanya, Adil Di Dalam Hukum-Hukumnya, dan Baik Di Dalam Ucapannya_
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصْحابه  ومن والاه

Anggota grup whatsapp Dirosah Islamiyyah, yang semoga dimuliakan oleh Allah.

Kita lanjutkan pembahasan Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh Fadhilatul Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala. 

Masih kita pada pasal Beriman Kepada Allah. 

Kemudian setelahnya beliau mengatakan: 

ونؤمن بأن كلماته أتم الكلمات صدقا في الأخبار وعدلا في الأحكام و حسنا في الحديث

"Dan kita beriman bahwasanya kalimat-kalimat Allah adalah kalimat-kalimat yang paling sempurna.” 

Dan ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah, bahwa sifat-sifat Allah adalah paling sempurna.

وَلِلَّهِ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ ۚ

“Dan bagi Allah sifat-sifat yang paling tinggi, paling sempurna.”

√ Pendengaran Allah adalah pendengaran yang paling sempurna.
√ Penglihatan Allah adalah penglihatan yang paling sempurna.

Termasuk di antaranya adalah kalam Allah adalah kalam yang paling sempurna. Itu adalah keyakinan Ahlus Sunnah.

Keumuman firman Allah وَلِلَّهِ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ

صدقا في الأخبار

"Kalamullah ada yang berupa berita.”

Kalamullah adalah yang paling أصدق (paling sesuai dengan kenyataan) tidak ada di dalamnya kedustaan, صدقا في الأخبار benar di dalam pengkabaran, tidak ada kedustaan meskipun hanya satu titik atau lebih kecil daripada itu.

Berbeda dengan ucapan manusia, kita sudah berusaha untuk benar-benar jujur, pasti di sana ada kekurangan. Ada ucapan kita yang tidak sesuai dengan kenyataan. 

Adapun firman Allah maka dia adalah ashdaqul kalam (ucapan yang paling benar). Dalam hadits Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mengatakan: 

فإن أصدق الحديث كتاب الله

"Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kitabullah (Al-Qur’an)."

Sehingga orang yang berbicara berdasarkan Al-Qur'an (shadaq) karena dia berbicara jujur, benar berdasarkan Al-Qur'an. Karena Al-Qur'an jujur, semuanya adalah kebenaran (mutlaq), tidak ada kedustaan di dalam kalamullah (Al-Qur'an).

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan:

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثًا

"Dan siapakah yang lebih benar ucapannya dibandingkan ucapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” [QS An-Nisa: 87]

Sehingga beliau mengatakan disini صدقا في الأخبار - ucapan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah benar di dalam pengkabaran.

Kewajiban kita adalah membenarkan apa yang Allah sampaikan di dalam Al-Qur'an karena di dalamnya adalah ucapan yang benar.

Kemudian beliau mengatakan:

وعدلا في الأحكام 

"Adil di dalam hukum-hukumnya.”

Di antaranya adalah hukum-hukum yang isinya adalah pembebanan kepada manusia, di sana ada perintah, di sana ada larangan. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Adil.

Adil maksudnya tidak ada kezhaliman di dalamnya, Allah ketika mensyari'atkan (misalnya) tentang pembagian waris, anak dapat sekian, istri dapat sekian, suami dapat sekian, itu adalah adil seadil-adilnya (tidak ada kezhaliman di dalamnya).

Wanita berhak demikian, laki-laki didahulukan atau dia mendapatkan keutamaan di atas wanita, maka ini adalah keadilan.

Seorang anak diharuskan berbakti kepada orang tua, orang tua menyayangi anaknya, ini adalah keadilan.

Zakat diambil dari orang yang kaya, apabila dia memiliki kambing (misalnya) sampai berapa ekor, baru dikeluarkan zakatnya. Jumlah zakatnya berapa. Itu adalah keadilan.

وعدلا في الأحكام

"Hukum-hukum Allah semuanya adalah adil.”

Sehingga orang yang menghukumi manusia berdasarkan Al-Qur'an maka dia adalah orang yang adil. Kalau kita ingin menjadi orang yang adil hendaknya kita menghukumi manusia berdasarkan Al-Qur'an.

Karena Al-Qur'an berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Bijaksana (Al-Hakim) dan di dalamnya adalah keadilan semata.

Demikian pula di dalam hukum, hukum balasan (misalnya), Allah Subhanahu wa Ta'ala apabila mengadzab seseorang maka Allah akan mengadzab dengan adil dan tidak ada kezhaliman di dalamnya.  وعدلا في الأحكام

و حسنا في الحديث

"Dan baik di dalam ucapannya.”

Maksudnya adalah kalimat-kalimat yang Allah Subhanahu wa Ta'ala gunakan adalah kalimat-kalimat yang fasih. Yang dimaksud dengan kalimat yang fasih adalah kalimat yang paling menunjukkan kenyataan atau paling menunjukkan maknanya.

Maka kalamullah mencapai puncaknya kesempurnaan dalam kalimat yang digunakan, ushlub-ushlub yang digunakan. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan: 

ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ

"Allah (Dialah) yang menurunkan kitab yang paling baik.” (QS Az-Zummar: 23) 

Makna paling baik di sini, di antaranya adalah baik di dalam pemilihan kalimat-kalimatnya, dia adalah kalimat yang paling fasih. Ini adalah beberapa sifat kalamullah yang disebutkan oleh mualif yang diambil dari beberapa ayat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan: 

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا

"Dan telah sempurna kalimat Allah, dia adalah benar dan adil.” [QS An'am :115]

Para ulama menjelaskan صِدْقًا وَعَدْلًا, صدقا في الأخبار , وعدلا في الأحكام benar di dalam pengkabaran (pemberitaan) dan dia adalah adil di dalam mengeluarkan keputusan atau menghukumi.

Ini menunjukkan bahwasanya kalimat Allah adalah sempurna.

Kemudian beliau menyebutkan firman Allah:

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثًا

"Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?" [QS An-Nisa:87]

Dalil bahwasanya semua firman Allah adalah benar.

Kemudian beliau mengatakan: 

و نؤمن بأن القرآن الكريم كلام الله تعالى 

"Dan kita sebagai Ahlus Sunnah meyakini bahwasanya Al-Qur'anul Karim adalah ucapan Allah".

Setelah beliau berbicara secara umum tentang sifat kalam maka beliau menyebutkan tentang keyakinan kita terhadap Al-Qur’an, bahwasanya Al-Qur'anul Karim adalah kalamullah.Termasuk di antara firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan di sini pensifatan Al-Qur'an dengan Al-Karim disebutkan dalam Al-Qur'an bahwasanya dia adalah memiliki sifat karim artinya pemurah (mulia).

Ada yang mengatakan kenapa disifati dengan karim? karena orang yang membaca Al-Qur'an dia akan mendapatkan pahala yang banyak. Sehingga dia disifati dengan karim (pemurah) sebagaimana dalam hadits. 

من قرأ حرفاً من كتاب الله كتب له بكل حرف حسنة و الحسنة بعشر أمثالها

"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur'an maka akan ditulis dari setiap huruf, satu kebaikan dan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan.”

Banyak pahala bagi orang yang membaca Al-Qur’an, sehingga dia disifati di dalam Al-Qur'an dengan Al-Karim.

Kemudian Al-Qur'an adalah kalamullah, kemudian Beliau Rahimahullah mengatakan تكلم به حقا, Allah berbicara (mengucapkan Al-Qur'an) ini dengan sebenar-benarnya.

In sya Allah, tentang masalah Al-Qur'an adalah kalamullah dan aqidah Ahlus Sunnah tentang masalah Al-Qur'anul Karim ini akan kita lanjutkan pada edisi-edisi berikutnya (biidznillah). 

Adapun sekarang kita cukupkan sampai di sini In sya Allah, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga kita semuanya menjaga hati kita, istiqamah kita di atas Islam sampai kita bertemu dengan Allah Azza Wa Jalla.

Itu yang bisa kita sampaikan dan sampai bertemu kembali pada kesempatan yang akan datang.

Wallahu ta'ala a'lam

و بالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

════ ❁✿❁ ════

Minggu, 05 April 2020

SEBAB ISIM MABNI DENGAN HARAKAT

SEBAB ISIM MABNI DENGAN HARAKAT
________

Asalnya, isim mabni adalah dengan tanda sukun. Sehingga jangan tanyakan "mengapa مَنْ atau أَنَاْ mabniyyun 'alassukun?" karena ada sebuah kaidah umum yang mengatakan:

ما جاء علی أصله لا يُسأل عن علته
"Sesuatu yang sudah sejalan dengan asalnya, jangan ditanyakan sebabnya." 

Namun, adakalanya dia mabni dengan harakat. Mengapa?

Kemungkinan isim mabni dengan harakat ada empat sebab:

1. Karena harakat huruf sebelumnya adalah sukun, sehingga untuk menghindari 'iltiqo-ussakinain' (bertemunya dua sukun) maka diberi harakat. Contoh:
* isim yang mabni dengan fathah: أَنْتَ
* isim yang mabni dengan dhammah: حَيْثُ 
* isim yang mabni dengan kasrah: أَمْسِ 

2. Karena termasuk mabniyyun far'i, yaitu kata yang asalnya mu'rab namun menjadi mabni pada kondisi tertentu dan ia mabni dengan harakat. Salah satu contohnya adalah dalam surah ar-Rum ayat 4, disana disebutkan kata "قَبْلُ" dan "بَعْدُ" yang berharakat dhammah padahal sebelumnya terdapat huruf jar "مِنْ". Mengapa demikian?

Hal ini disebut "ghaayah / غايۃ" yang berarti tujuan akhir / maksud, yaitu kondisi dimana zharaf telah sempurna (bisa dipahami maksudnya) meskipun tanpa mudhaf ilaih, tanwin ataupun alif lam yang ketiga hal tsb merupakan tanda sempurnanya zharaf.

Dalam surah ar-Rum ayat 4, kata "قَبْلُ" dan "بَعْدُ" keduanya mabni dengan dhammah untuk menunjukkan bahwa ada mudhaf ilaih yang dihapuskan dan mudhaf ilaih tersebut tdk perlu disebutkan karena sudah tercapai maksud ayatnya dari memperhatikan ayat-ayat sebelumnya, yakni taqdirnya:

لِلَّهِ الأَمْرُ مِنْ قَبْلِ هٰذِهِ الغَلَبَۃِ وَمِنْ بَعْدِهَا
"Bagi Allah-lah urusan dari sebelum kemenangan ini dan sesudahnya."

3. Karena terdiri dari satu huruf.
Ketika suatu kata hanya terdiri dari satu huruf dan huruf tsb sukun, maka bagaimana jadinya? Tentu akan menyulitkan. Oleh karenanya diberikanlah harakat untuk memudahkan penyebutannya. Contohnya: 
- كاف الخطاب => قَلَمُكَ
- تاء الفَاعل => كَتَبْتَ
- هَاء الضّمير => كِتَابُهُ

4. Terkadang alasannya untuk memudahkan pengucapan. Contohnya: 
هُوَ dan هِيَ
karena berat mengucapkan huruf halqi (tenggorokan) yaitu هَاء yang diikuti dengan wawu (و) atau ya' (ي) sukun, yang mana keduanya —huruf wawu dan ya'— berada jauh dari makhraj huruf halqi* maka diberikan harakat fathah untuk meringankan.

Ket:
* Wawu (و) terletak di kedua bibir
* Yaa' (ي) terletak di tengah lidah

[Faidah materi "Isim Mabni" oleh Ustadz Abu Kunaiza -hafizhahullahu ta'ala-]

Rabu, 26 Jumadal Ula 1441 H | Fitrah