Sabtu, 04 April 2020

Nadar : IDHAFAH

📚 *VIDEO 20 : IDHAFAH* 📚
_______________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

Ketika satu kata kurang bisa menyampaikan maksud kita, sering kita tambahkan kepadanya kata yang lain sebagai penjelas, sehingga menjadi susunan beberapa kata atau dalam Bahasa Arab kita sebut *murakkab* (المُرَكَّب).

Salah satu bentuk murakkab adalah idhafah (الإضافة), yaitu :

نِسْبَةُ اسْمٍ إِلَى اسْمٍ أٓخَرَ
_hubungan/kaitan suatu isim kepada isim yang lain_

Dari pengertian ini kita bisa ambil poin pentingnya, bahwa :

🏕 _*1. Idhafah merupakan susunan dua isim.*_

         ⛱ a. Isim pertama kita sebut *mudhaf* (مضاف), yakni isim yang *disandarkan*, atau yang memerlukan penjelasan.

         ⛱ b. Isim kedua kita sebut *mudhaf ilaih* (مضاف إليه), yakni isim yang menjadi sandaran, atau yang menjadi *pengkhususan/ penjelasan*.

               Misal:
رَسُوْلُ اللهِ
            ( _Utusan Allah_ )

           📍 Kita lihat bahwa kata pertama adalah رسول, maka رسول  adalah *mudhaf*, dan lafadz الله  sebagai *mudhaf ilaih*.  

                 👉🏻 Ketika kita mengatakan رسول kemudian berhenti, maka pendengar masih akan bertanya-tanya, رسول yang mana yang dibicarakan.  Namun dengan kita tambahkan lafadz الله, maka mereka menjadi paham bahwa kita sedang membicarakan Utusan Allah atau Rasul Allah.  

           📍 Kemudian, karena mudhaf telah  mempunyai mudhaf ilaih, atau isim yang menjelaskan, maka *mudhaf tidak boleh bertanwin*.

🏕 _*2. Kedua isim tersebut mempunyai keterkaitan makna secara khusus*_:

        ⛱ a. Menjelaskan *pemilikan/ peruntukan*, atau makna huruf jar *lam* (اللام), misal:

رَسُوْلُ  اللهِ  💡  رَسُوْلٌ لِلهِ
_Utusan Allah_ atau _utusan yang dimiliki oleh Allah_

       ⛱ b. Menjelaskan *jenis*, atau makna huruf jar *min* (مِن), misal :

بَابُ الحَدِيْدِ  💡 بَابٌ مِن الحَدِيْدِ
_Pintu besi_ atau _pintu yang terbuat dari bahan besi._

       ⛱ c. Menjelaskan *waktu atau tempat*, atau makna huruf jar *fi* (في), misal :

طَالِبُ المَعْهَدِ  💡 طَالِبٌ فِي المَعْهَدِ
_Siswa ma’had_ atau _siswa yang belajar di ma’had_

💡 Karena hubungan antara mudhaf dan mudhaf ilaih memiliki makna huruf jar, maka *mudhaf ilaih selalu majrur*.

Semoga bermanfaat.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

________________
✒ Tim Nadwa

Nadar : ISIM MAJRUR

📚 *MATERI 19 : ISIM MAJRUR* 📚
______________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

🔷 *Definisi Jar*
        *Jar* merupakan salah satu diantara 3 macam *I'rob* untuk *isim*. Dimana kalimah ( Bahasa Indonesia : *Kata* ) yang berhukum jar di sebut *majrur*. Dan tanda asli majrur adalah dengan harokat *kasroh*.

🔷 *Kapan isim berhukum jar?*
         Isim wajib berhukum jar salah satu sebabnya adalah bila *didahului oleh huruf -huruf jar*.

🔷 *Apa itu huruf  jar?*
         Huruf jar adalah  huruf yang bila mendahului suatu isim maka isim setelah huruf tersebut menjadi *majrur*. Huruf-huruf tersebut antara lain :
🍃 مِنْ : dari
🍃 إِلَى : ke
🍃 عَنْ : dari, tentang
🍃 عَلَى : di atas
🍃 فِيْ : di dalam
🍃 لِ : milik
🍃 بِ : dengan
🍃 وَ : demi
🍃 تَ : demi
🍃 كَ : seperti
🍃 حَتَّى : sampai
🍃 رُبَّ : betapa banyak

📍 *Kita perhatikan contoh berikut ini* :
🍃 الكِتَابُ   : عَلَى الكِتَابِ
         ( _Di atas buku_ : _Buku_ )
🍃 البَيْتُ    :  في البَيْتِ
         ( _Di dalam rumah_ : _Rumah_ )

           👉🏻 Dari contoh diatas bisa kita bedakan bahwa *isim yang di dahului oleh salah satu huruf jar, maka i'robnya menjadi jar*.

📍 *Contoh yang lain* :
🔖 العِلْمُ *كَالنُّوْرِ*
         ( _Ilmu itu *seperti cahaya*_ )
🔖 السَّاعَۃُ *عَلَی السَّرِيْرِ*
         ( _Jam tangan itu *di atas kasur*_ )

           👉🏻 Dari dua contoh diatas, isim menjadi majrur bila *didahului oleh huruf jar*.

___________________
📌 *CATATAN*
         📍 Penulisan huruf jar yang terdiri dari *satu huruf*, seperti :
بِ، كَ، تَ
                Jika setelahnya adalah isim ber ال, maka penulisan alifnya ( ا ) *bersambung dengan huruf jar*. Seperti,
🍃 بِالْقَلَمِ ( Dibaca : _bilqolami_ )
           ( _Dengan pena_ )
🍃 كَالْنُّوْرِ ( Dibaca : _kannuuri_ )
           ( _Seperti cahaya_ )
🍃 تَاللّٰهِ ( Dibaca : _tallaahi_ )
           ( _Demi Allah_ )
           👉🏻 Di dalam syariat Islam, kita hanya boleh bersumpah dengan nama Allah saja.
       📍 Khusus untuk huruf jar لِ, jika setelahnya adalah isim ber ال, maka *alifnya dihilangkan*. Kemudian, huruf *lam yang tersisa* ditulis *bersambung dengan huruf jar*. Misal,
🍃 لِ + الزَّهْرَاء -> لِلزَّهْرَاءِ
            ( Dibaca : _lizzahro'_ )
            ( _Milik Az-zahro'_ )

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم


_________________
✒ Tim Nadwa

Nahar : Maf'ul Fiih

Kaidah Ke 18 adalah Maf'ul Fiih


Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan,



 Zharaf zaman ditambahkan pada fi'il yang terjadi padanya. Apa itu zharaf zaman? Zharaf zaman adalah keterangan waktu. Ketika kita hendak menerangkan kapan waktu terjadinya perbuatan yang kita lakukan maka bisa kita tambahkan zharaf zaman. Misalnya,


ذهبت يوم السبت


"Aku pergi pada hari Sabtu".


Selain zharaf zaman ada juga zhorof makan yaitu keterangan tempat. Seperti,


قام زيد أمام البيت


"Zaid berdiri di depan rumah". 


Kedua zharaf ini dikenal juga dengan istilah maf'ul fiih yang artinya sesuatu dikerjakan pada waktu dan tempat ini. Maf'ul fiih adalah isi manshub yang dinashabkab oleh fi'ilnya..

Selasa, 31 Maret 2020

Nahar : Maf'ul bih

Kaidah yang ke-17 adalah Maf'ul bih


Pada kaidah ke-5 bahwa maf'ul adalah objek. Dan ia berkaitan erat dengan fi'il muta'addi. Karena fiil mutaaddi membutuhkan maf'ul bih sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul qayyim Rahimahullah menyatakan,



 " Fiil mutaadi membutuhkan maf'ul bih dengan sendirinya." 


Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa ada fiil lazim yang memiliki objek tapi tidak mampu menashobkannya. Contohnya ada pada kaidah kelima seperti 


جلست على الكرسي


Kursi di sana adalah objek dari جلس secara makna karena ia adalah benda yang diduduki. Namun tidak menuruti irab. Menuruti irab الكرسي adalah Isim majrur, maka جلس adalah fiil lazim yang membutuhkan objek dengan bantuan huruf jar.


Berbeda ketika kita mengatakan 


ينصر الله المئمنين


المئمنين di sana adalah maf'ul bih makna yaitu yang ditolong oleh Allah.  Juga secara irab karena ia manshub oleh fi'il ينصر 


Demikian maksud dari perkataan beliau,



Senin, 30 Maret 2020

Fiqh 101 : Tujuan / Maqasid Syariah

Tujuan / Maqasid Syariah


Ada 4 pertimbangan dasar sebagai prinsip, ideology atau konsep panduan saat mempraktekkan aturan dalam Al Quran, disebut tujuan syariah atau Aqasid Syariah. 


Yang pertama adalah menyingkirkan kesulitan.

 

Cara hidup islami tidak dianggap sebagai beban. Kita harus shalat lima kali sehari, puasa sebulan penuh di bulan ramadhan. Kaum Nasrani memiliki prinsip penyiksaan diri dalam mengabdikan diri kepada Allah. Hidup dalam seklusi di padang pasir, mengucilkan diri di gua selama setahun, ke gunung selama sepuluh tahun. Harus berupa penyiksaan bagi mereka. Dari situ muncul pemberontakan-pemberontakan atas cara Tuhan yang tidak manusiawi. Seperti gerakan perubahan yang menuntut perubahan aturan untuk membebaskan diri, seperti pendeta sekarang diizinkan untuk menikah


Dari gaya hidup yang longgar, hampir tidak ada aturan, mereka menganggap Islam sebagai agama yang mengekang, dengan shalat lima kali sehari, harus mengeluarkan uang untuk amal, naik haji, dan lain-lain. Pada dasarnya, Islam diturunkan untuk mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Pertanyaan pertama, bagaimana hidup jadi lebih mudah dengan shalat lima kali sehari? Bangun di waktu subuh, tengah hari, sore hingga malam? Tujuan ibadah ini adalah untuk selalu menyadari keberadaan Allah SWT. Untuk hidup di dunia dengan sadar, kita perlu menyadari adanya Allah SWT setiap saat. Sukses seutuhnya adalah sukses di dunia juga di akhirat. Shalat lima kali sehari memudahkan orang-orang beriman mengingat Allah SWT.


Hidup di dunia sangatlah sibuk. Kewajiban-kewajiban, kesibukan di dunia, siapa yang mampu mengingat Allah SWT. Nasrani pada umumnya, hanya ke gereja seminggu sekalipun beralasan sibuk. Menikmati hari sabtu mereka, kemudian minggunya sibuk. Gaya hidup macam apakah yang demikian? Shalat lima waktu tampak membebani, namun apabila anda menyadari bahwa mengingat Allah SWT itu kritikal untuk hidup anda, itu akan membuatnya terasa mudah. Selanjutnya, puasa 30 hari dalam setahun, bagaimana itu membuat hidup lebih mudah? Kita menahan diri, melepaskan diri dari sesuatu yang halal. Bukankah cukup dalam kehidupan sehari-hari kita diperintahkan menjauhi yang haram. Dalam bulan puasa, kita melepaskan diri dengan ikhlas dari hal yang halal, maka itu seperti latihan yang mempermudah kita untuk melepaskan diri dari yang haram di luar bulan ramadhan.


Selanjutnya zakat. Dengan memberikan sebagian harta kita untuk zakat, akan memupuk kedermawanan dalam diri kita. Kita belajar bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberi rizki dengan membagikannya kepada yang lain. Sikap bersyukur adalah sangat penting dalam menjalani hidup yang penuh cobaan, ada sukses, ada kegagalan. Biasanya apabila kita tertimpa musibah, kita berkata, oh tuhan, mengapa saya? Mengapa ini terjadi? Dan kalimat-kalimat serupa. Kesulitan apapun yang menimpa, kita tetap harus bersyukur kepada Allah SWT. Jadi meski rukun Islam dianggap sebagai elemen yang memberatkan, saat kita melihat gambaran besarnya, sebenarnya itu adalah panduan untuk membantu kita menjalani kehidupan di dunia.Seperti yang dikatakan dalam Al Quran, Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya.


Dan nasihat Rasulullah SAW, saat mengirim dai ke Yaman, Mudahkanlah bagi mereka, jangan disusahkan. Secara umum, berbagai hukum yang diturunkan memiliki variasi yang memudahkan. Misalnya untuk seseorang yang dalam perjalanan, shalat lima kali bisa dijadikan tiga kali sehari. Begitu juga makan babi, dan minum alcohol. Jadi ada kemudahan yang menyesuaikan dengan perubahan keadaan tertentu dalam kehidupan manusia yang benar-benar memaksa. Dari mazhab ke mazhab, tujuannya adalah memudahkan praktek dalam kehidupan manusia. Proses pengambilan fatwa ini didasarkan pada konsep ‘memudahkan’. Umumnya, kita mengambil apa yang mudah, namun ini bukan pendekatan yang benar. Karena seharusnya didasarkan kepada prinsip mengikuti ajaran nabi Muhammad SAW, bukan mana yang lebih gampang. Seharusnya mana yang lebih otentik, mana yang memiliki bukti-bukti otentik. Itu yang tepat.



Prinsip yang kedua adalah pengurangan kewajiban. 


Seseorang bisa membandingkan dan berpendapat bahwa ajaran islam memiliki lebih banyak kewajiban dibandingkan ajaran kristiani. Ini tidak benar karena Kristen bukan lagi agama yang dibawa oleh Yesus, as. Agama Islam adalah pengurangan kewajiban dari agama yang dibawa oleh Nabi Isa, as yang didasari oleh agama yang dibawa oleh nabi Musa. Hukum Mosaic. Kristen yang dikenal sekarang sudah banyak menghapus hukumnya sendiri, yang pada dasarnya, lakukan apa yang diinginkan. Ini perspektif yang salah. Hukum Islam sendiri adalah refleksi dari kondisi Adam di Surga. Semua pohon dibolehkan, satu pohon terlarang. Itu yang perlu disampaikan. Yang tidak perlu dikatakan adalah apakah itu pohon apel, pohon anggur, dll. Yang pasti semua pohon dibolehkan, satu dilarang. Itu adalah deduksi dari kewajiban minimum.


Jadi pada saat anda menjelaskan mengenai satu hukum, anda hanya perlu menerangkan mengenai apa yang terlarang secara mendetil. Ini yang terjadi secara konsisten di dalam AL Quran saat menjelaskan mana yang dibolehkan mana yang tidak. Contohnya dalam pernikahan. Terlarang bagimu menikahi ibumu, adik perempuanmu, bibimu, dan seterusnya. Dan di penghujungnya, Allah mengatakan, kecuali yang disebut itu, dibolehkan untuk dinikahi. Contoh lain, dilarang bagimu darah, babi, hewan yang disembelih tidak dengan nama Allah, karena tercekik, dan seterusnya. Selain itu dibolehkan. Ini pola konsisten dalam deduksi hukum Islam. Selain itu, seseorang yang terpaksa memakan yang haram, tidak dianggap berdosa. Keadaan telah membebaskan dosa dirinya. Itulah reduksi, pengurangan.


Selanjutnya, hukum dari Quran tidak mendetil, banyak celah untuk disesuaikan dengan kehidupan di dunia. Nabi Muhammad SAW menambah beberapa detil sebagai panduan pelaksanaannya. Dalam qs. Al Maidah:101, Wahai orang-orang beriman, jangan menanyakan apa yang telah dijelaskan kepadamu karena akan mempersulit dirimu. Hal-hal tersebut sengaja dibuat umum untuk mempermudah. Saat Nabi Muhammad SAW memberi nasihat, tidak perlu bertanya lebih jauh. Misalnya saat anda tinggal di lingkungan nasrani. Mungkin jelas anda hindari babi. Tapi untuk makanan lain, anda tidak perlu masuk ke dapur, memeriksa cara memasak, melihat tipe minyak yang digunakan, apakah pisau dan alat makan yang sama digunakan untuk makanan mengandung babi, dan sebagainya. Karena yang demikian tidak jelas dilarang dalam Islam. Mungkin anda bisa melakukan itu semua, tapi itu akan membuat hidup anda sangat sulit. Sedangkan kita mengetahui sedikit najis tidak menodai keseluruhan. Misalnya air danau, di seberang anda ada yang buang air, bukan berarti air danau di depan anda menjadi tidak suci. Kita tahu prinsipnya, selama warna tidak berubah, bau tidak berubah, rasa tidak berubah.


Seperti juga orang-orang yang menggali hal-hal yang tidak perlu seperti kode-kode pada kemasan makanan, mana yang menunjukkan zat yang tidak halal dan sebagainya, itu membuang waktu, tidak penting. Pada prinsipnya, Islam memudahkan. Apabila sesuatu itu jelas haram, tinggalkanlah. Suatu waktu di Madinah, Rasulullah SAW diberi semangkok makanan oleh seorang yahudi, beliau tidak banyak bertanya. Tidak ada contoh dengan orang nasrani, namun sahabat mengisahkan hal yang sama juga dilakukan saat menghadapi umat nasrani. Nabi Muhammad SAW dalam sunnahnya melarang banyak bertanya, menggali terlalu dalam hal-hal yang tidak penting. Ada seseorang menanyakan apakah ibadah haji wajib tiap tahunnya dan beliau tidak menghiraukannya. Orang itu bertanya, tidak diindahkan, dan bertanya lagi. Hingga Nabi berkata, kalau aku berkata Ya, maka akan menjadi kewajiban. Tinggalkanlah aku dengan hal-hal yang kubebaskan kalian memutuskannya. Karena generasi sebelumnya telah hancur dikarenakan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting dan argument yang disebabkannya. Apa yang dilarang oleh nabi, jauhi. Apa yang diperintahkannya, lakukan semampumu. Saat Rasulullah SAW bersabda, shalatlah seperti aku sholat. Maka kita melaksanakannya semirip mungkin. Disamping elemen-elemen yang tidak mungkin bisa sama persis.


Berkenaan dengan aturan transaksi bisnis dalam al Quran yang bersifat umum. Tidak ada banyak detil. Diantaranya, “Wahai orang beriman, penuhilah kontrak/janji-janji.” "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu." Itulah prinsip-prinsip dagang. Sifatnya umum. Meskipun aturan di dalam Quran sifatnya umum, bukan berarti detil yang dijelaskan dalam sunnah tidak penting.


Prinsip dasar ketiga adalah mengenai pelaksanaan kesejahteraan umum atau kemaslahatan umat. 


Allah berkata, mudharatnya alkohol lebih besar dibanding manfaatnya. Manfaatnya bagi masyarakat secara umum diminimalkan. Ditekankan disini secara umum, efeknya negatif untuk masyarakat. Namun manfaat atau kebaikannya bersifat personal atau untuk perorangan. Ini prinsip yang diterapkan secara konsisten dalam larangan tindakan, makanan, dsb yang mengakibatkan efek negatif bagi umat.


Pada kasus larangan memakan babi, efek negatifnya bersifat individual. Namun yang lainnya adalah larangan berdasarkan efek negatif terhadap masyarakat secara umum. Sebagian berdebat mengenai bunga bank. Ada yang mengatakan bahwa itu bermanfaat buat masyarakat. Orang-orang menaruh uangnya di bank dan mendapatkan tambahan bunga. Apa buruknya? Intinya, mudharat bunga itu sifatnya umum. Memang ada individu-individu akan diuntungkan dari bunga, namun masyarakat kebanyakan yang akan menderita. Karena itulah Islam melarangnya.


Rasulullah SAW dikirim untuk seluruh umat manusia. Kebutuhan umum manusia dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW di berbagai masjid-masjid yang menekankan kepentingannya seperti yang ada di dalam Al Quran. Salah satu contohnya adalah prinsip Nakh. Yang menguasai hukum islam, yang mengikat hukum. Sebagian berdebat, “tidak, kita tidak bisa memakai nash” Allah menetapkan perintah dan larangan, mengapa merubahnya? Apa yang anda bisa perhatikan, perubahan yang terjadi tidak merubah kebenaran utama. Perubahan aturan tersebut tidak sekaligus pada waktu yang sama. Allah tidak mengatakan, “Sembahlah Allah saja.”. Dan kemudian anda bisa menyembah yang lain-lainnya selain Allah. Untuk hal ini tidak ada perubahan aturan bertahap. Ini seperti aturan hitam putih. Sembah Allah saja, atau tidak. 


Pada kasus-kasus dimana sesuatu tertunda sementara karena masyarakat belum siap menerima hal tertentu, maka aturan diturunkan secara bertahap. Ini yang membantu masyarakat berubah secara bertahap sesuai jalan yang Allah tunjukkan. Tanpa perubahan yang drastis dan paksaan. Tahapan ini membantu untuk berubah ke kondisi yang baru, yang tidak nyaman bagi mereka. Sebagai contoh, mengenai surat wasiat dan waris. Pada masa pre islamik, harta orang yang meninggal diwariskan kepada anak-anaknya yang pria. Orang tua tidak mendapatkan apa-apa. Islam yang pertama mengatur bahwa harus ada bagian untuk orang tua. Ini adalah bagian dari edukasi bertahap bagi masyarakat untuk menjaga dan menghormati orang tua. Selanjutnya, turun ayat yang secara spesifik mengatur jumlah yang diterima masing-masing secara detil. Awalnya merupakan instruksi untuk membuat wasiat.


Dalam Al Baqoroh, mereka yang memiliki harta peninggalan harus membuat wasiat yang ditujukan kepada orang tua dan kerabat dekat dengan jumlah yang sesuai perhitungan dan masuk akal. Setelah itu turun ayat yang mengatur secara spesifik pihak-pihak yang berhak beserta jumlahnya. Kemudian Nabi Muhammad SAW menambahkan. Bagi mereka yang sudah ada dalam daftar ahli waris, tidak dapat mendapatkan wasiat lagi. Tidak ada wasiat lagi bagi ahli waris. Ini untuk melindungi hak-hak mereka yang tidak secara spesifik disebutkan oleh hukum. Di satu sisi kita memiliki kewajiban terhadap keluarga, namun di luar keluarga atau kerabat ada orang-orang yang mungkin lebih membantu dan suportif, disitulah anda diperbolehkan untuk berwasiat untuk mereka hingga 1/3 dari total dan ini termasuk bahkan untuk non muslim.. Karena permasalahannya Nabi Muhammad SAW mengatakan, non muslim tidak boleh mewariskan kepada muslim dan sebaliknya.


Kita sudah melihat hukum-hukum islam yang berkaitan dengan melaksanakan kepentingan masyarakat. Sudah disebutkan bahwa kewajiban hukum islam adalah memenuhi kebutuhan manusia pada beberapa periode waktu. Kita berbicara mengenai hukum Islam yang berkaitan dengan adat kebiasaan bangsa arab. Dan hukum waris sebagai contoh turunnya wahyu secara bertahap. Tahap pertama yaitu wasiat harus menyebutkan orang tua. Tahap kedua menetapkan hak waris bagi orang tua. Dan terakhir wasiat bagi kelompok yang tidak termasuk dalam ahli waris. Saya menambahkan bahwa Rasulullah SAW bersabda orang beriman tidak boleh mewariskan kepada orang kafir ataupun sebaliknya. Hadist ini Shahih. Apabila anda memiliki orang tua non muslim yang meninggal di Negara non muslim dan hukum Negara itu menyatakan bahwa anda mendapat bagian dari warisan, maka anda tidak boleh menerimanya. Tapi apabila mereka menulis wasiat untuk anda, maka anda diperbolehkan menerimanya. Begitu juga sebaliknya. Anda bisa menulis wasiat untuk teman non muslim anda. Karena tidak termasuk warisan, melainkan hadiah. Seperti halnya semasa hidup anda dan anda memberi uang kepada non muslim, itu boleh, demikian juga setelah anda meninggal. Ini pengertian yang benar atas hadist terkenal tersebut. Selain itu aturan masa Idah yang awalnya satu tahun, dikurangi menjadi empat bulan sepuluh hari. Begitu juga aturan berpakaian, tinggal di rumah, berbuat zina, homoseksualitas turun secara bertahap.


Jadi, turunnya aturan secara bertahap tersebut adalah dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kesejahteraan manusia. Dan juga yang menekankan kebutuhan manusia setelah masa Rasulullah SAW adalah digunakannya akal sehat atau logika dalam menciptakan aturan islami. Dalam banyak kasus dikatakan, gunakan alasan saat membuat aturan atau hukum. Gunakan hartamu dan hilangkanlah, agar kekayaanmu hanya dimiliki sedikit darimu. Rencana besar Setan adalah untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian diantaramu yang disebabkan oleh mabuk dan judi. Menyebabkanmu meninggalkan Allah dan ibadah. Jadi manusia diberi kesempatan untuk merasionalisasikan latar belakang hukum untuk melaksanakannya.


Ulama menyimpulkan, ada atau tiadanya aturan hukum bisa diketahui dari ada atau tiadanya alasan dibelakangnya. Bila ada alasan yang melatarbelakangi, maka hukum dibutuhkan. Apabila tidak ada alasan, maka hukum tidak diperlukan. Contohnya Umar bin Khattab yang membuat aturan mengenai zakat untuk mualaf. Beliau berpendapat memberi harta untuk mualaf bisa dilakukan pada zaman nabi saat pemeluk Islam masih sedikit, namun pada zamannya dimana Islam sudah mendominasi hingga semenanjung arab dan lainnya, ini tidak perlu, karenanya aturan ini dihentikan. Bukan berarti dihapus karena di daerah lain dimana masih sedikit pemeluk Islamnya, ketentuan tersebut masih diperlukan untuk menarik non muslim memeluk Islam. 


Pertimbangan atas kemaslahatan orang banyak dapat juga terlihat pada Metodologi Legislasi. Pada kasus dimana tidak ada perubahan pada keadaan manusia seiring berjalannya waktu, Allah memberikan penjelasan detil. Aturan tidak akan berubah sehubungan dengan sifat alami manusia. Jadi aturan berkeluarga, pernikahan, perceraian, aturan waris, dan sebagainya, hukum pidana tertentu seperti mencuri, tetap. Sementara hukum lain yang berhubungan dengan transaksi bisnis, diberi lebih banyak celah, Allah tidak memberi penjelasan detil. Ada yang perlu diperhatikan. Allah melaknat laki-laki yang berpakaian seperti perempuan dan sebaliknya. Bagaimana dengan di Skotlandia dan Yaman dimana disana pria memakai rok adalah hal yang biasa? Apabila di suatu daerah adalah hal yang biasa laki-laki memakai rok, maka itu tidak apa-apa. Karena yang tidak boleh itu bukan pakaiannya, tapi penampilannya yang menyerupai lawan jenis. Jadi dalam budaya yang tidak menganggap rok itu feminine, maka aturan itu tidak bisa diaplikasikan. Jadi prinsipnya, pakaian yang dianggap feminine, itu terlarang bagi laki-laki. 


Insha Allah kita berhenti disini. 


Prinsip terakhir yaitu pelaksanaan Keadilan universal 


pada kuliah yang akan datang.



Minggu, 29 Maret 2020

nahar : jenis huruf

Kaidah yang keenam adalah jenis huruf


Sudah kita ketahui bahwa jenis kalimah yang ketiga adalah huruf. Dan huruf yang dimaksud disini adalah huruf-huruf yang bermakna ketika ia bersama dengan kalimat yang lain. Adapun huruf hijaiyah yaitu Alif Ba Ta dan seterusnya tidak termasuk dalam pembahasan nahwu karena ia bukan kalimah. Disini Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa huruf ma'ani ada yang beramal,



"huruf yang beramal adalah huruf yang mukhtash."


Apa maksud ungkapan beliau tersebut? Huruf yang beramal adalah huruf yang mampu mengubah irab kata setelahnya. Akan kita bahas lebih tetapi pada kaidah ke 37-40 apa saja huruf yang bisa beramal kebaikan.


Apa itu yang dimaksud dengan huruf mukhtash? Adalah huruf yang hanya bisa bertemu dengan jenis kata tertentu saja yaitu Isim saja atau fi'il saja. Maka dari sini bisa kita simpulkan bahwa huruf yang beramal adalah huruf yang hanya bisa bertemu dengan Isim saja atau hanya bisa bertemu dengan fi'il saja. Dan sebaliknya huruf yang bisa bertemu dengan Kedua jenis kata yaitu Isim dan fi'il, maka ia tidak bisa beramal. 


Misalnya huruf من setelah من pasti isim tidak mungkin fi'il maka dari itu ia beramal pada Isim setelahnya. misalnya  البيت ، من البيت . 


Contoh lainnya adalah لم ، setelah لم pasti fi'il mudhori, maka dari itu ia beramal pada fi'il mudhori setelahnya. Contohnya أذهب -  لم أذهب, 


Sedangkan هل yang mana dia adalah huruf istifham setelahnya bisa isim atau bisa juga fi'il, maka ia tidak beramal pada maupun pada fiil.


Sabtu, 28 Maret 2020

Tashmen : Idgham dan Ibdal

Idgham dan Ibdal


Idgham


idgham adalah menyatukan dua buah huruf sejenis. Maksudnya dua buah huruf hijaiyah yang sama, di mana huruf pertama berharakat Sukun dan huruf keduanya berharakat hidup. Maksudnya huruf pertama bersukun dan huruf keduanya berharakat hidup. Dua buah huruf yang sama ini disatukan menjadi satu huruf yang bertasydid. Tanda tasydid menunjukkan bahwasannya huruf bertasydid Itu adalah huruf yang double. Hurufnya ada dua disatukan inilah al idgham. 


Sebuah fiil mudhoaf semisal برّ  ini bila kita runut asalnya dari kalimah برر maka bisa katakan wazannya adalah فعَل . 


Kemudian يبِرُّ sama dengan يبرر ini berasal dari kalimat dasar kalimatnya adalah يَبْرِرُ . Sehingga kita bisa katakan wazannya adalah يفعِلُ .


Contoh lain kata برًّا sama dengan بررا kita juga bisa mengatakan bahwasanya wazan فعلا


Inilah hukum al idgham. Hukum ini biasa diterapkan dalam mengkaji fi'il fi'il mudhoaf.


Al Ibdal


Adapun hukum yang ketiga yaitu hukum Al ibdal. Al Ibdal adalah menempatkan suatu huruf pada tempat huruf yang lain atau mudah nya adalah mengganti huruf dengan huruf yang lain.


Contoh kalimah بكاءٌ ، asalnya بكايٌ karena adalah masdar daripada بكى - يبكي - بكاء ، yaitu menangis maka itu asal adalah بكايٌ ، mengalami ibdal sehingga menjadi بكاء  wazannya ٌفُعال 


Contoh lain adalah ميزان ، asalnya adalah موزان dan wazannya adalah مِفْعالٌ,  ini hurufnya mengganti yang sebenarnya asli.